Jangan Beli A Cup of Tea for Writer!

 

Judul: A Cup of Tea for Writer, Kisah-kisah Inspiratif Penyemangat Hati
Penulis: Triani Retno A, Herlina P. Dewi dkk.
Desainer Cover: Ike Rosana & Felix Rubenta
Tebal: x + 195 halaman
Penerbit: Stiletto Books

Yes. Jangan beli buku ini kalau tak mau teracuni dan lalu pengen jadi penulis juga! ๐Ÿ˜†

Saya memang bukan penulis. Belajar menulis, iya, I am on it. Susah? Hmmm.. saya lebih suka menyebutnya sebagai “Penuh Tantangan”. Seriuskah saya belajarย  nulis? Sangat serius. Apa yang saya harapkan setelah tahapan ini selesai? Berharap menjadi penulis terkenal? Tidak. Saya cuma ingin lanjut belajar lagi setelah saya selesai tahap belajar yang sekarang. Emang mau jadi penulis yang kayak gimana? Sekali lagi, saya tidak berharap banyak untuk menjadi penulis. Saya mending go with the flow, dan mensyukuri semua yang ada. Tapi jujur, menulis sudah menjadi kesukaan saya sejak kecil. Menulis apapun. Saya berharap suatu hari nanti di masa pensiun saya, saya masih tetap menulis dan membagikan apa yang saya punya, lewat media apapun. ๐Ÿ™‚

Buku ini memberi gambaran seperti apa perjuangan untuk menjadi penulis itu. Mungkin sebelumnya kamu membayangkan menjadi penulis itu mudah. Tinggal nulis, trus tiba-tiba aja gitu ada penerbit yang mendekatimu. Segampang itu? Ho… tunggu dulu. Ada berbagai perjuangan berat terlontar di dalam buku ini. Sungguh, bahwa kekuatan orang tak hanya diukur dari bakatnya saja, tapi sampai seberapa kuat dia mampu memperjuangkannya.

Ditolak redaksi majalah? Biasa. Ditolak redaksi koran? Ah, sering. Ditolak penerbit? Makanan sehari-hari. Diketawain orang-orang terdekat? Hheheehehe, ikut ketawa ๐Ÿ˜† … Menjadi penulis pemula tak pernah mudah. Nanti, kalau kamu udah setenar Djenar Maesa Ayu, mungkin, kamu bisa sedikit mendongak. Tapi perjuangan tak akan berhenti sampai di situ, hingga mimpi tergapai.

Sebut saja, Whianyu Sanko. Tulisannya mengingatkan saya untuk tetap kontrol diri, tidak menganggap diri sendiri terlalu hebat. Pujian bisa datang dari siapapun, dari manapun. Tapi kita tetap harus mawas diri. Jangan sampai keblinger. Siapa sih yang kasih pujian? Kritikus? Bukan. Penerbit? Bukan. Editor? Bukan. Temen-temen, biasanya. Dan kita sering lupa, bahwa mereka tidak semuanya orang-orang yang berkompeten di dunia menulis. Mereka sekedar penikmat. Kadang pujiannya hanya sebatas basa basi dan sopan santun.

Bahwa kita ini juga bukan seorang editor ataupun orang yang bisa diandalkan untuk menentukan kualitas karya seseorang. Bisa saja kita berkata bahwa karya itu hebat, sedangkan faktanya buruk sekali. Jadi, juga jangan menghakimi karya orang lain. Karena kita ini bukan siapa-siapa. Tamparlah dirimu sendiri, sebelum ditampar oleh Tuhan karena kesombonganmu.

Dalam buku ini tak ada tawaran cerita menjadi penulis instan. Orang bisa saja bergaya di depan webcam laptopnya lalu mengunggahnya ke youtube dan lalu menjadi terkenal seperti artis. Tapi tidak denganย  menulis. Tidak pernah saya dengar ada famous writer yang instan begitu. Hampir semuanya penuh dengan perjuangan.

Jadi, tetaplah menulis. Follow your passion, jadikan mimpimu nyata. Tetap membumi lah. Ditolak editor, penerbit, media massa, itu hanya sebagian kecil jalan yang harus dilewati. Kalah menang dalam lomba akan membuat langkahmu makin mantap. Kritik dan pujian akan membuatmu semakin matang. Terima semuanya dan jalani apa adanya.

Ciyehhhhhh… sok dalam banget sayah yah ๐Ÿ˜†

Intinya, buku ini sudah menginspirasi saya banget untuk tetap menjalani apa yang sekarang sedang saya lakukan. Dan, ya, saya melakukannya karena saya suka. Karena itu saya ingin menikmati setiap detik denyut-denyutnya. ๐Ÿ™‚

Keep writing!

Dia yang berharap suatu hari nanti bisa terbang haruslah belajar berdiri, berjalan, berlari, memanjat, dan menari: orang tidak bisa terbang begitu saja! ~Zarathustra, Nietzsche

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Cieee … cieee … cieee ….

    Like

    1. @RedCarra says:

      Hah???? udah disamber aja sama Mak Guru -___-” *maluuuuu* *nyungsep ke kasur*

      Like

  2. fatwaningrum says:

    iiih jadi pengen beli ๐Ÿ™‚

    Like

  3. waya komala says:

    Di tolak redaksi majalah? hohoho…, aku tau banget rasanya! udah beberapa kali, tapi tak membuat aku putus asa. Niatnya sih, pengen ngajarin anak-anak, bahwa menggapai sesuatu itu tidak mudah. ๐Ÿ™‚

    Keep writing! *setuju banget…

    Like

  4. rina susanti says:

    setuju mak keep writing walaupun belasan kali ditolak (itu sich saya ) hehehe

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s