Disclaimer: Update foto buku
Judul: Trilogi Kontrak dengan Tuhan: Kehidupan di Jalan Raya Dropsie
Judul Asli: The Contract with God Trilogy: Life on Dropsie Avenue
Penulis: Will Eisner
Penerbit: Nalar
Penerjemah: Asha Fortuna
Perancang Sampul: Rully Susanto
Penata Letak: Dadang Kusmana
Tebal: xx + 184 halaman
Buku ini saya dapatkan sebagai hadiah kuis di suatu blog milik sahabat saya. Udah lamaaaaaa banget. Tapi baru terselesaikan kemaren ini. Maklum, saya kalo baca memang pake antrian. Satu buku buat dibaca di rumah, satu buku buat dibawa-bawa, sehingga bisa dibaca di manapun saya pengen baca.
Anyway..
Buku ini adalah novel grafis. Saya dimenangin di kuis blog tersebut karena pemilik blognya tahu bahwa saya orang grafis π Jadi dimenangkanlah saya. Baik ya π
Saya sebetulnya ga tau, kenapa ini disebut novel grafis. Saya ga tau, apa bedanya dengan komik. Ada yang tahu? Kalo tahu, kasih tahu saya ya π bedanya dimana.
Buku ini terdiri atas 4 cerita: Kontrak dengan Tuhan, Penyanyi Jalanan, Sang Pengawas dan Cookalein. Keempatnya sebenarnya cerita yang berbeda, tapi ada kaitannya satu sama lain. Settingnya berawal di tempat yang sama, yaitu di Jalan Raya Dropsie, di sebuah tenement atau rumah susun.
Di Jalan Raya Dropsie No. 55 inilah pertama kali cerita bergulir, di mana tokoh utama Frimme Hersh, seorang Yahudi, melakukan kesepakatan dengan Tuhan; tempat sang penyanyi jalanan yang gagal meraih kesempatan untuk berjaya; tempat seorang penjahat cilik mengalahkan sang pengawas rumah susun dan dimana Willie mencapai kedewasaannya.
Lewat empat cerita yang saling menjalin, Kontrak dengan Tuhan melukiskan keriangan, kegembiraan, tragedi dan drama kehidupan di Jalan Raya Dropsie, Bronx, New York.
Seri selanjutnya dari buku novel grafis ini adalah Daya Hidup dan Jalan Raya Dropsie: Pemukiman.
Agak miris sebenarnya membaca kisah-kisah di buku ini. Kehidupan kota yang kejam, berbalur dengan kebudayaan manusianya yang tak manusiawi. Visualisasinya juga terlalu hebat untuk dibilang sekadar amazing. Saya mengamati, bahwa setiap visualisasi kemungkinan besar adalah hand-drawn. Dengan tingkat detail yang sangat cermat. Terdukung oleh visualisasi, suasana dramatis sangat nyata di setiap lembarnya. Twist ceritanya jangan diragukan lagi.
Pada awalnya saya sedikit underestimate dengan buku ini. Ini komik! Kenapa dinamakan novel? Novel grafis, katanya. Tapi setelah membacanya, dan ikut hanyut di dalamnya, ada sensasi berbeda dengan ketika saya membaca Lucky Luke, misalnya. Atau Tintin. Beda sekali!
Buku ini menjadi legendaris karena berhasil menciptakan sebuah cabang kesenian baru dan mengukuhkan Will Eisner sebagai perintis novel grafis.
Saya memberikan empat dari lima bintang untuk buku ini! ^_^
berarti cocok banget ya mak hadiahnya sama dirimu
LikeLike
hihi iya π
LikeLike