Macaroon Love – Cinta Berjuta Rasa

Judul buku: Macaroon Love – Cinta Berjuta Rasa
Penulis: Winda Krisnadefa
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Proofreader: Dina Savitri
Halaman: 264 halaman
Penerbit: Qanita PT Mizan Pustaka

Magali. Nama yang aneh bukan? Seaneh orangnya. Selera yang aneh, dan juga keluarga yang aneh. Menikmati french fries yang dicocolkan ke vanila sundae sudah jelas bukan selera yang biasa. Pun caranya bercanda dan bertengkar dengan sepupunya, Beau. Pun caranya memanggil ayahnya dengan hanya namanya saja.

Tapi sungguh, Magali, itu bukan kutukan. Itu seharusnya menjadi anugerah untukmu. Dan yang berhasil membuka matamu adalah Ammar. Seseorang yang, jelas punya selera yang aneh juga karena mencintaimu.

* * *

Di atas itu adalah sinopsis aneh dari saya tentang Macaroon Love. πŸ˜€

Sebenernya boleh dibilang, ide dasar dari cerita Macaroon Love ini simpel banget. Sederhana, dan klise. Tentang seseorang yang jatuh cinta, lalu ada denial dan kemudian akhirnya mengakui bahwa dia jatuh cinta. Yaaa, namanya juga novel romance. Tapi, kita ga akan menemui adegan atau kata-kata berbunga-bunga nan mendayu-dayu di sini. Bahkan sosok Magali pun jauuuuuh sekali dari kesan romantis.

Yang membuat cerita di dalamnya istimewa dan berbeda adalah si karakter tokoh utama yang tergali dengan detail. Karakter “unik” yang ga tiap hari bisa kita temui di pengkolan jalan. Karakter yang unik, pastilah akan menghasilkan cerita hidup yang juga unik.

Begitu juga Magali. Perempuan. 24 tahun. Terlahir tanpa Ibu, yang pasti akan sedikit mempengaruhi keseimbangan jiwanya sebagai perempuan. Saya ga bilang dia sakit jiwa loh πŸ˜† Tapi seandainya dia didampingi seorang ibu, pastilah akan beda ceritanya. Yang membesarkannya adalah Nenek, ibu dari ayahnya. Si Nene *yang pada awalnya, saya kira Nene ini adalah nama tokoh, semacam Nene-nya Sinchan itu πŸ˜† * yang juga ternyata punya karakter yang nyentrik juga.

Lalu Beau, si bule Perancis ndeso, sepupu Magali yang juga ga jelas juntrungannya. Ketidakjelasan Beau ini juga bukan berarti ketidakjelasan karakter. Malah kuat sekali.

Dan Jodhi, ayah Magali. Keunikan karakternya pastilah sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pekerjaannya yang tidak biasa, yaitu seorang juru masak di sebuah kapal pesiar.

Dan… tentu saja, si Prince Charming Ammar , yang karakternya bahkan bertolak belakang dengan Magali. Tapi seperti pecahan yin-yang, keduanya saling mengisi satu sama lain. Oh, how romantic ketika Ammar menyusul Magali ke Australia hanya untuk memesan sebuah macaroon tower untuk hadiah ulang tahunnya. *meleleh*

Konflik terbangun dengan halus dan detail. Sebegitu halusnya, sampai-sampai saya ga merasa ada pendakian klimaks. Saya hanya meraba, bahwa kematian Jodhi itulah yang jadi puncaknya. Karena setelah kematian Jodhi, tiba-tiba saja semua ada solusinya. Ide Magali diterima oleh sang boss pemilik majalah, lalu Ammar benar-benar masuk ke keluarga, dan kemudian Ammar tetiba saja ngintilin Magali ke Australia.

Tapi saya harus mengakui, bener-bener ga ada adegan yang terbuang percuma dalam novel ini. Semuanya saling bertautan, mempunyai hubungan sebab akibat yang menyatu. Jika satu adegan dihilangkan, maka sudah pasti langsung akan mengubah jalan cerita. Belum lagi, celetukan dialog cerdas di sana sini yang kadang bikin saya cengengesan, dan juga meleleh.

Ide yang simpel, tergarap detail, tereksekusi sempurna menghasilkan karya yang keren. πŸ™‚

Yeah, or course you are unique. Just like everyone else. – But not including you, Magali. πŸ˜†

 

Tiga setengah dari lima bintang untuk novel ini. ^__^

Advertisements

13 Comments Add yours

  1. rahmah says:

    penasaran nunggu bukunya πŸ™‚

    Like

    1. Emak Gaoel says:

      sabar ya mak rahmah, hari ini insya Allah berangkat…:D

      Like

  2. baca novel ini nagih, gak bisa berhenti sampai selesai πŸ™‚

    Like

    1. Emak Gaoel says:

      mak Saryyy…
      makasih yaaa…:’)

      Like

  3. Mbak, Denial di kalimat, “Lalu ada denial, dan kemudian mengakui…..”

    Like

    1. @RedCarra says:

      denial bukan nama orang mak πŸ˜›

      Like

  4. Emak Gaoel says:

    maaak, aku terharu membaca reviewnyaa…
    aaak, apa yg telah kulakukan sehingga pantas mendapat pujian ini? :’) #plak
    tapi pasti ada dong ya kurangnya? apaa? jangan bilang porsi Beau yg kurang yaa…udah kenyang dibilangin ituu…>.<
    lama2 beneran kayanya harus bikin satu buku ttg Beau…uhuk…:D
    makasih banyak ya maaaak.. :*

    Like

    1. @RedCarra says:

      hihi sama2… πŸ˜€ ditunggu buku tentang Beau nya πŸ˜† Ahayyy…

      Like

  5. hadisome says:

    saya juga penggemar emak gaoel… sebelum naskahnya terbit, dia baik hati ngasih draftnya ke saya, dan saya langsung jatuh cinta sama novel magali chronicle :))))

    Like

    1. @RedCarra says:

      Beruntungnya dirimu πŸ˜† udah baca duluan… wkwkwkwkw

      Like

  6. noe says:

    Syalalalala jadi penasaran pen baca

    Like

    1. @RedCarra says:

      yuk πŸ˜†

      Like

  7. Mbak, sekali2 bikin resensi dong. Masih bingung bedain resensi sama review nih.

    Ada yang bilang resensi sama dengan review tapi ada yang bilang beda.

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s