Review Buku: Labirin Rasa – Beri Ruang untuk Hati Temukan Cintanya

Judul: Labirin Rasa
Penulis: Eka Situmorang-Sir
Penyunting: Faisal Adhimas
Penata Letak: Tri Indah Marty
Desainer Sampul: Oxta Estrada
Jumlah halaman: vi + 394 halaman
Penerbit: Wahyumedia

Kamu yang suka travelling, sekaligus suka baca novel, buku ini untukmu!

Buku ini bercerita tentang Kayla Ayu Siringo-ringo. Perempuan muda yang pada awalnya diceritakan bermuka jerawatan, bau prengus, rambut awut-awutan. Perempuan bebas mandiri, ga jaim, jujur, dan ga suka diatur-atur. Yang daripada galau meratapi nasib dengan menangis di kamar, dia akan lebih baik pergi, dan taklukkan gunung.

Inti dari cerita dalam buku ini sebenarnya adalah, bagaimana proses metamorfosa Kayla yang tadinya merupakan ulat bulu jelek, lalu menjelma jadi kupu-kupu cantik. Bisa dianalogikan lagi, dari itik buruk rupa, lalu menjelma jadi angsa yang cantik. *Lah, tapi itik sama angsa, kan beda spesies, Ra! ๐Ÿ˜ *

Anyway…

Kekuatan buku ini, terutama adalah kecepatan alur berceritanya. Begitu cepatnya, hingga semacam ada bagian cerita yang tidak meninggalkan jejak berarti, kecuali jejak petualangan Kayla, bertemu dengan orang-orang yang mempunyai karakter tertentu, tapi lantas orang-orang tersebut seperti tidak ngefek apapun dalam cerita selanjutnya.

Dan begitu fokusnya Kayla akan ramalan sang Eyang Kakung, hingga ketika ketemu laki-laki, dia bertanya-tanya apakah ini Sang Pangeran Fajar. ๐Ÿ˜† menurut saya, Kayla ini memang rada-rada absurd sih orangnya. Jujur, kalo saya ketemu langsung sama orang yang berkarakter sama Kayla, dalam pikiran saya yang pertama kali melintas adalah “cewek lebay”. ๐Ÿ˜† Maafkan saya. Cuma mencoba jujur.

Cinta matinya pada Ruben, juga menjadi inti dari semua cerita yang ada di sini. Petualangannya hingga menghabiskan beberapa bulan dari mulai Malang hingga ke Makassar, semua berawal karena Ruben. Kayla yang tadinya mahasiswa nasakom, tiba-tiba saja bisa ngebutย  menyelesaikan kuliahnya, juga karena Ruben. Pun pengejarannya hingga ke Medan. Tapi perjalanan ke Medan, itulah yang membawa Kayla bertemu dengan Patar. Sang Pangeran Fajar sesungguhnya.

Cuma dodol juga sih kalo saya bilang. Perjuangannya mengejar cinta Ruben seharusnya memberinya pelajaran. Tapi, yaaa kayaknya memang karakter Kayla yang memang ngeyel, lalu ditambah dibutakan oleh cintah, dan lalu, mungkin, emang Rubennya yang kegantengan, jadi Kayla tetap nerima dia jadi pacar. *Ini kenapa gue yang nyinyir yak?* Hingga saatnya tiba, Kayla akhirnya sakit hati yang paling mentok.

Saya paling suka sebenarnya sama novel/fiksi yang penggalian karakternya cukup dalam dan detail. Tadinya saya memang ga terlalu menyukai karakter perempuan seperti Kayla. Tapi setelah saya selesai membaca, saya pikir, kalo saya sampe ga suka, berarti Eka sukses menggali karakter seorang Kayla Ayu. Tapi, hanya tokoh Kayla Ayu, dan Ruben, yang bisa saya rasakan detail karakternya. Selebihnya, belum terlalu. Apalagi yang cuma sekedar mampir. Macam Dani, Cynthia trus si bule David. Rossa, yang merupakan sahabat Kayla, pun tidak. Milly? Hmmm, saya cuma tau dia sebagai perebut pacar orang .. Grrrr! *loh, kok elo yang sewot, Ra?*

Sedangkan Patar? Masih teraba. Bahwa dia adalah seorang laki-laki yang keras, tapi itu luarnya. Sejatinya, dia lembut di dalam :’) *Kayak es krim dong, Ra?* Sebetulnya karakter Patar ini lebih bisa digali lagi, IMO.

Endingnya? Well, kalo menurut saya, agak terlalu dipanjangkan. Bahkan ada konflik lagi yang muncul setelah rasanya Kayla sudah memasuki akhir perjuangan hidupnya. Tapi, mungkin ini memang ditujukan untuk memberi gambaran betapa berat perjuangan Kayla untuk mendapatkan dan mempertahankan cinta.

Yang paling saya sukai dalam novel ini, adalah banyaknya quotes keren di dalamnya.

Cinta itu membahagiakan, namun jika ia sudah mulai jadi beban. Lepaskan jika harus melepaskan. Beri waktu, beri ruang untuk cinta dapat bertumbuh alami hingga ia bisa mengambil keputusan.

… dan juga yang ini.

 

Well, overall, selain typo yang semakin ke belakang, semakin parah, novel ini cocok jadi teman perjalanan. Untuk dibaca sambil bertualang.

Labirin Rasa, membuat saya tersesat bersama Kayla. Diombang ambingkan cerita nasib. Bertanya-tanya akan akhir dari perjalanan.

Tiga bintang.

 

Advertisements

7 thoughts on “Review Buku: Labirin Rasa – Beri Ruang untuk Hati Temukan Cintanya

  1. kalo baca novel ceritanya macam kayla gini emang paling cocok buat membunuh waktu selama perjalanan. asik dengan ceritanya jadi brasa cepet nyampai tujuan. wkwk

    oiya, moga aja ada sutradara “lebay” yang bikin filem dari novel ini…keren pasti

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s