CineUs – Follow Your Passion and Pursue Your Dream!

Judul: CineUs
Penulis: Evi Sri Rezeki
Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Novia Fajriani, @kaguralian
Penata aksara: Nurul M Janna
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar illustrasi Isi: Anisa Meilasyari
Jumlah halaman: 304 halaman
Penerbit: teen@noura

Blurb

Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetap karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film kan?

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru.. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu lho … tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival.

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat nonton, eh, baca! πŸ™‚

CineUs adalah buku pertama dari seri S-Club, cerita tentang seru-seruang di klub-klub sekolah.

* * *

Seberapa sering kamu membaca teenlit? Seberapa banyak kamu sudah menikmati teenlit?

Saya, jujur, baru sekali saya menemukan teenlit yang bagus. Yaitu, Are You There, God? It’s Me, Margaret karya Judy Blume. Dan itu memang teenlit favorit saya sepanjang masa. Hingga saya menemukan… CineUs! ^___^

Betul apa yang dituliskan di blurb. Membaca buku ini seperti menonton film komedi-romantis. Antara gemes, ikut berbunga-bunga, ikutan emosi, ikutan teriak “AAARRRGGHH!” walopun dalam hati πŸ˜† hihihihi…

Tokoh utamanya bernama Lelatu Namira, panggilannya Lena. Hmmm, kayak saya ya. Nama saya Carra, singkatan dari Carolina Ratri. Jangan-jangan penulisnya terinspirasi oleh saya ya? *dicekek Mbak Evi* πŸ˜† Sejauh ini, saya selalu suka nama tokoh yang “ada sejarah”nya atau yang ga salah comot. Saya ga terlalu suka nama tokoh yang pake nama pasaran, Andi, Ani, Budi, Joko dan sebagainya. πŸ˜† Kenapa? Karena pasti tidak akan tersimpan dalam otak saya πŸ˜€

Lelatu artinya bunga api. Bercak-bercak api yang berhamburan ke arah langit. Namira berasal dari bahasa Arab yang artinya gesit seperti kucing. Jadi kalau teman-temanku melihatku tak bisa diam, meletup-letup dalam banyak hal, suka mencakar (maksudnya sesekali aku suka tidak sabaran dan ingin mencakar orang yang membuatku kesal), dan melompat-lompat,Β  mungkin itu bawaan dari namaku. (hal. 8)

Begitu juga sepertinya Mbak Evi menggali karakter Lena, dari awal hingga akhir. Lena, pelajar kelas XI, ambisius akan mimpi-mimpinya, pemberani, kadang bengal dan usil, dan merupakan karakter yang berpegang teguh pada prinsipnya. Dia tak segan beradu fisik dengan orang lain, demi membela apa yang dianggapnya benar.

Lena dan kedua temannya, Dania yang digambarkan berkarakter lembut namun sekaligus tegas, dan Dion, seseorang yang dianggap oon oleh teman-teman yang lain, namun ternyata merupakan satu-satunya orang yang percaya tanpa kenal pamrih pada Lena, membentuk satu klub sekolah yaitu Klub Film.

Jatuh bangun mereka membangun klub ini, ketika mereka dicibir, diremehkan, bahkan dikacaukan oleh beberapa orang yang punya kepentingan pribadi. Inti dari buku ini memang adalah perjalanan ketiga sahabat ini membangun Klub Film, dari mulai terbentuk, hingga kemudian mereka menjuarai Festival Film Remaja di Jakarta. Perjalanan meraih mimpi memang terjal, tak pernah mulus. Namun ketiganya ternyata bisa membuktikan bahwa persahabatan memang di atas segalanya. Pun ketika ada tambahan dua orang siswa lain, yaitu Rizki dan Ryan, untuk bersama mereka membangun mimpi itu.

Saya suka novel ini, karena tokoh-tokoh antagonis tidak semata-mata “jahat sejak lahir”, seperti yang biasa digambarkan dalam sinetron-sinetron. Masing-masing tokoh punya alasan kenapa mereka melakukan ini dan melakukan itu. Karena memang begitulah hidup. Selalu ada alasan kita melakukan sesuatu kan? Saya juga percaya, orang jahat pun pasti punya alasan kok kenapa mereka jahat. Hanya saja kadang alasannya itu yang salah. Begitulah dalam novel ini. Semua karakter bertahan di area abu-abu. Tak ada yang benar-benar putih, atau benar-benar hitam. Cuma, kadar hitam dan putih itu saja yang membedakan grade abu-abu masing-masing tokoh. Yang satu lebih gelap daripada yang lain, dan sebaliknya. Jempol untuk pengolahan karakter.

Saya mulai benar-benar masuk ke dalam cerita ketika mulai menjabarkan siapa Dion. Ternyata dia adalah penderita ADHD. Apa itu ADHD? Silakan digugling saja πŸ˜€ Dan fakta ini ternyata menjadi salah satu fakta penting di akhir novel. Iya, Dion ternyata ga sekadar tokoh oon yang sekadar menjadi “badut” dalam cerita *selalu ada tokoh macam ini kan? Yang lalu mukanya dilumuri tepung atau yang lalu dikepruk dengan styrofoam πŸ˜› * Dion punya peranan penting dalam cerita ini. Sepenting Lena, Dania, Rizki dan Ryan juga. Itulah kelebihan lain dari CineUs.

Di antara semua kelebihan CineUs, saya juga punya beberapa pertanyaan kecil. Seperti, adanya kalimat-kalimat ini;

Di mana aku pernah melihat ekspresi semacam itu? Aku tercekat, saat menyadari ekspresi milik siapa. Itu ekspresiku sendiri saat Adit mengakhiri hubungan kami dan menghakimiku. Ya Tuhan! (hal. 159)

Hmmm.. saya agak ganjil membacanya. Ekspresi, menurut saya, adalah hal yang terlihat oleh mata. Sedangkan kalau Lena mengenali ekspresinya sendiri saat Adit memutuskannya, itu agak aneh. Lena bisa melihat ekspresi muka sendiri? Hmmmm… Mungkin kalau dikaitkan dengan perasaan, akan lebih bisa diterima.

Aku tercekat. Hampir aku tak percaya aku memperlakukannya seperti Adit memperlakukanku.

Atau semacam itu deh πŸ˜† maaf, lagi dalam kondisi lagi ga bisa menarasikan sesuatu hahahaha… Intinya, jangan dihubungkan dengan indera visual. Tapi lebih ke perasaan.

Lalu ada pertanyaan satu lagi. Ini di adegan perkelahian Romi dan Adit di bagian akhir buku.

“Lo tuh, dari kecil memang bego! Kalau bukan karena gua, lu bukan siapa-siapa Rom!” (hal. 274)

Nah, abis baca itu, tetiba saya membuka-buka lagi bab awal. Sepertinya lost ya? Kalau dari kalimatnya, kayanya Romi sama Adit itu temenan sejak kecil apa gimana? Kok bau-baunya kayak sodaraan gitu πŸ˜† CMIIW πŸ˜€

Satu lagi, ada pertanyaan yang sering banget muncul di kepala saya. Yaitu, “Ini apa ya orang tuanya ga nyariin?” πŸ˜† terutama ketika Lena malem-malem lembur di sekolah. Kenapa juga musti lembur di sekolah, edit-edit foto gitu? Kan bisa dibawa pulang, toh semua file sudah di dia kan? *logika saya aja sih* Kalo saya jadi orang tua anak perempuan yang lagi ada di usia-usia rawan gitu, bakalan saya tungguin itu di sekolah πŸ˜† *mama yang parno* hahahahaha… ilustrasi aja sih.

Yang rada unyu, adalah kemunculan tokoh kembar Eva dan Evi di tengah cerita. Huhuhu :mrgreen: kenapa seperti familiar ya? Hahahaha…

Semakin mendekati akhir cerita, semakin dalam pula kata-katanya, semakin dalam maknanya, semakin keren!

Kenapa sayang itu hadir ketika seseorang telah lenyap? Ketika kutahu semua telah hilang terhalang pekat. Apakah rasa adalah kupu-kupu beterbangan setelah hinggap, lalu senyap?

ARRRGGGHH!!! πŸ˜†

Mbak Evi juga ga terjebak romantisme picisan, dengan membiarkan beberapa pertanyaan di ending tidak terjawab. Errrggg!!

Jadi, Lena jadian ga sama Rizki …????? *histeris* πŸ˜† Damn!

Oiya, kamu, yang udah punya bukunya, dapet yang beginian ga dari penulisnya? Karena oh karena, tanda tangan itu terlaluΒ  mainstream πŸ˜† *kaburrrrrr*

Tiga setengah dari lima bintang.

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Aaaaa… reviewnya keceh sekali.
    Terima kasih masukannya Mbak Ra.
    *ketjup jauh *

    Like

    1. @RedCarra says:

      Tunggu aku di kontesnya mbak Vi πŸ˜€

      Like

  2. Aku juga bingung mbak, namanya sekolah kan beda dengan kampus yang buka ampek malem hari. Kok lena bisa ada di sekolah sampai jam 22.00

    Like

  3. review-nya komplet dan asyik, Mak. Emang nih novel beda ya tema dan ceritanya. Saya ampe rebutan ma istri bacanya hehe.

    Soal Lena yang ngedit pelem horor sampe malam di sekolah, jadi teringat masa sekolah dulu. Saat SMA, kami anggota OSIS atau ekskul teater sering nginep di sekolah kalau ada projek. Jadi nostalgia deh, hehe.

    Semoga berjaya Mas dalam kontes ini πŸ™‚ Salam kenal dari Bogor….

    Like

  4. hady says:

    mengagumkan sekali, reviewnya bagus banget…..

    Like

    1. @RedCarra says:

      belum bagus kok πŸ™‚ Makasih ya…

      Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s