Review Buku: Matilda

Judul Buku: Matilda
Penulis: Roald Dahl
Alih Bahasa: Agus Setiadi
Ilustrasi: Quentin Blake
Jumlah halaman: 264 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Matilda sangat jenius. Kecuali itu, dia juga amat perasa. Tapi Mr. dan Mrs. Wormwood memperlakukannya seolah-olah ia seekor kutu yang menjijikkan, dan bukannya putri mereka sendiri.

Bahkan sebelum mencapai usia lima tahun, Matilda telah membaca karya-karya pengarang terkenal seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, Rudyard Kipling, dan John Steinbeck. Meskipun demikian, orangtuanya tetap menganggapnya sebagai “kutu menjengkelkan” yang mengurangi kenyamanan hidup mereka.

Akhirnya Matilda memutuskan untuk mengurus hidupnya sendiri. Ayahnya, seorang salesman mobil bekas yang gemar berpakaian norak, dan ibunya, wanita pemalas yang rambutnya dicat pirang platina — bukanlah tandingan Matilda yang sangat jenius. Dan ketika dia “diserang” oleh Sang Trunchbull, kepala sekolahnya yang kejamnya di luar batas akal sehat, anak kecil itu menyadari bahwa ternyata dirinya mempunyai kekuatan supernatural yang kemudian digunakannya untuk menyelamatkan sekolahnya dan… terutama guru kesayangannya Miss Honey.

* * *

Buku ini buku favorit saya sepanjang masa!

Iya, emang udah lawas banget ini buku. Saya pun entah tahun berapa belinya. Oh, baru aja liat di halaman pertama. Saya beli di bulan Agustus 2002. Udah 11 tahun πŸ˜† Iya, dulu saya rajin banget sampe-sampe semua buku saya kasih tanggal kapan belinya. Wkwkwkwwk.. sekarang boro-boro deh. Buku lama kok direview. Hey! Saya emang mau nulis review semua buku yang udah saya baca dari dulu hingga yang baru. Boleh dong…

Anyway…

Buku ini sebenernya buku cerita anak-anak. Roald Dahl sendiri memang dikenal sebagai penulis cerita anak-anak. Tapi dia penulis yang istimewa. Ceritanya tentang dunia anak tidak biasa. Entahlah, daya khayalnya luar biasa banget. Saya pun kayaknya mikir-mikir kalo nulis cerita anak yang sejenis ini.

Seperti Matilda ini.

Matilda, seorang gadis kecil biasa. Anak bungsu dari Mr dan Mrs Wormwood (cacing kayu? πŸ˜† ), punya kakak bernama Michael. Ceritanya mungkin tidak akan seheboh ini, jika keluarga Matilda adalah keluarga yang “biasa-biasa” saja. Keluarga kecil bahagia dan sejahtera, seperti yang sering dijual di mimpi-mimpi dalamΒ  negeri. Keluarga Matilda, keluarga yang spesial. Spesialnya bukan yang bagus malahan. Yang buruk!

Matilda ini bagaikan anak yang tak diharapkan dalam keluarga. Ayah dan ibunya tak pernah mencintainya sebagaimana mestinya. Mereka lebih menyayangi Michael, sang kakak. Padahal Michael ini anaknya biasa banget! Cenderung bodoh kalo boleh dibilang πŸ˜›

Tapi Matilda beda banget dengan Michael.

Sebelum umur lima tahun, dia sudah pandai membaca. Semua buku, koran sudah habis dilalap. Dia bahkan suka berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku, yang lalu membawanya pada buku-buku sastra paling top seperti karya Charles Dickens, Jane Austen, Ernest Hemingway dan lain-lain. Oh come on, saya aja yang udah sebangkotan ini suka ga ngerti apa isi buku-buku mereka -___-” wkwkwkwkwwk…

Mr. Wormwood, ayah Matilda, bekerja sebagai seorang pedagang mobil bekas. Tapi dia curang. Dia membeli mobil-mobil rongsokan, lalu mengakalinya secara curang supaya bisa dijual lagi dengan harga tinggi. Nanti dia akan kena batunya di akhir cerita.

Mrs. Wormwood, ibu Matilda, seorang ibu bawel pemalas yang kerjanya hanya nonton tivi selebar 12 inchi setiap hari. Dia sih sama saja dengan suaminya, nggak sayang sama Matilda. Huh!

Miss Honey, guru Matilda. Dialah yang menguak kekuatan tersembunyi Matilda. Matilda sayang sekali padanya. Dan lalu ada Sang Trunchbull, si kepala sekolah kejam, yang suka melempar-lempar anak seenak perut. Wih, gila aja ada orang kayak gini ya. Tapi yah, walopun terasa khayal dan lebay, tapi entahlah, malah enak dinikmati. Saya juga bingung. Cerita-cerita sinetron Indonesia itu suka khayal banget dan lebay, tapi kok bikin saya prihatin ya 😐 beda deh pokoknya. Saya ga tau gimana cara ngejelasinnya.

Banyak banget yang dialami Matilda sepanjang cerita. Mulai dari ngerjain ayahnya, ngerjain ibunya, sesi curhatnya dengan Miss Honey sehingga mengungkapkan jati diri Miss Honey sesungguhnya, hingga puncaknya, mengatasi Sang Trunchbull dan mengembalikan apa yang menjadi hak Miss Honey.

Beugh. Seru abis!!!!!

Dan so far, saya belum menemukan buku cerita anak rasa dewasa yang sampe saya bisa membayangkan setiap detail adegan cerita, dari pertama saya baca, sampe sekarang.

Sangat recommended. Kalo katanya, sejak tahun pertama terbit buku ini sudah terjual lebih dari 600.000 eksemplar dan selalu masuk ke dalam daftar best-seller internasional. Wow!

Ini buku bacaan anak, rasa dewasa tapi imajinasinya level dewa.

Lima dari lima bintang.

Advertisements

12 Comments Add yours

  1. diannie says:

    Aku udah lama pengen baca, tapi, belum ada kesempatan (baca : duit) buat beli. Baca cerita singkatnya di belakang buku udah suka. Trus, pas lihat trailer filmnya tambah suka. Entah kapan bisa baca buku bagus ini. Baca review-nya jadi tambah tambah suka. Trus, gimana, dong? πŸ™‚ *pertanyaan retoris *abaikan
    Etapi, kalau nggak salah, Si Mathilda itu bukan anak kandung Mr dan Mrs Wormwood, kan, yah? Pernah denger audio booknya di Youtube. Nggak sampai selesai. Panjang banget. Sejam lebih.

    Like

    1. @RedCarra says:

      Anak kandung sih..
      Tapi endingnya, dia akhirnya “ditinggal” sama keluarganya yang mau melarikan diri. jadi dia tinggal sama Miss Honey itu..

      Like

  2. Lidya says:

    buku2nya roald dahl banyak juga ya

    Like

    1. @RedCarra says:

      dia mah legend mak πŸ™‚

      Like

  3. G says:

    Keponakan saya yang satu baca buku ini sampe tuntas dan dia bilang seru banget, tapi adiknya dia pas baca buku ini nggak mau baca sampai habis karena dia bilang, Matilda itu nakal banget ya, semua anak2 di cerita itu kok nakal2, hahaha…..

    Kepribadian keduanya memang berbeda sih..si Kakak semacam ‘one man show’, sedangkan si adik yg thrive di bawah aturan2 dan rambu2. Jadi… keliatan gimana mereka lalu memandang cerita ini.

    Saya sendiri cenderung, agak ngeri baca buku ini, di tangan anak yang salah bisa jadi legitimasi untuk ngerjain org dewasa yg tidak mereka sukai. Di lain pihak, gimana Roal Dahl memihak pada anak-anak, dan ngerjain para orangtua asik juga sih, hihi…

    Like

    1. @RedCarra says:

      Nah, itu sebenernya juga jadi pertanyaanku sih. Kalo ini dibaca oleh anak-anak yang hanya ngerti pesan tersurat bakalan BAHAYA! Jadi, mau dimasukkan ke genre cerita anak, sebenernya juga sama sekali ga tepat. Cucoknya ya bacaan dewasa tapi tokohnya anak-anak πŸ˜†

      Like

  4. unidzalika says:

    aaaaaaak setuju! lima bintang dari lima. Ini bacaan favorit sejak Uni kecil. Bacanya belasan tahun yang lalu tapi ceritanya masih berkesan sampai sekarang. Cerita dalam bentuk film-nya juga oke. Suka banget sama tokoh Matilda yang cerdas πŸ˜€

    Like

    1. @RedCarra says:

      Kalo di filmnya aku rada kurang puas hahahahaha… ilustrasi di buku yang ini terlalu epic soalnya πŸ˜†

      Like

  5. Favoritkuuuu! Kalau pas obral buku di Gramedia, sering banyak buku Roald Dahl yang diskon. Kuborong buat keponakan atau hadiah kuis. :)))))

    Like

  6. rodamemn says:

    wah..trimakasih sudah direview, dulu di Jepang pernah ada yang memperkenalkan produknya dengan gambar lukisan “MATILDA” tapi saya ga pernah tau siapa dan ada apa di balik matilda ini. Finally, penasaran yang sudah 6 tahun ini terpecahkan juga, ternyata di matilda sosok jenius ya…sekarng saya nyambung kenapa org jepang itu mempromosikan produknya dengan menambahkan lukisan matilda… trmakasih mak… *peluuuuk πŸ™‚

    Like

  7. Ajen Cantik says:

    Aku juga suka banget amat sama buku ini..
    filmnya juga okehhhh
    tapi kalau Opa Dahl aku lebih cinta Charlie and chocolate factory

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s