Long Distance Relationship

 Judul: Long Distance Relationship – Kumpulan Cerpen – Aku, Kamu, dan Jarak
Penulis: Ayu Citraningtias dkk
Desain Layout: Tim Pena Nusantara
Desain Cover: @ningaiyu
Jumlah halaman: xvii + 259
Penerbit: Pena Nusantara (2013)

Aku, Kamu, dan Jarak

Blurb

“Ada rindu yang terbakar sempurna, tersiram jutaan liter bensin tanpa neraca. Rindu yang ingin segera berlari pada tuannya. Mendekap hangant dan menagih janji belaian mesra. Rindu ini terus berkobar, menciptakan raut mendung pada wajah yang tak seharusnya. Wahai Tuan Pemilik Jutaan Partikel Rindu yang sedang tersimpan tak rapi di ubun-ubun, tidakkah kau tahu bahwa rindu ini sudah tak kuasa untuk terus berdiam sempurna menanti sebuah uluran tangan tak hampa?”

Rindu yang sangat menyakitkan jika bertepuk sebelah tangan. Setiap hari hanya wajah  murung yang selalu kutampilkan pada orang di sekitarku. Rindu yang membuatku menciptakan keputusan liar dalam penantianku. Aku ingin segera menyusulmu ke tempat itu tanpa sepengetahuanmu. Tentu saja, mana mungkin kamu bisa tahu jika sudah tidak ada komunikasi dalam 25 hari ini.

Ya, segera mungkin aku akan mencari tahu tempat yang bernama KOPASSUS Batujajar itu.

* * *

Fyuhhhh. Apalah arti sebuah Long Distance, ketika rindu sudah terlalu menyesak? Orang akan mencari akal bagaimana caranya untuk melenyapkan ruang dan waktu yang membentang antara dua cinta.

Begitulah rata-rata inti cerita dari semua cerpen yang terkumpul dalam buku setebal 269 halaman ini. Perjuangan menaklukkan jarak dan rindu, perjuangan untuk mempertahankan cinta, perjuangan untuk tak lagi mempertanyakan kepercayaan satu sama lain.

Berawal dari gagasan Ayu Citraningtias untuk mengadakan event dalam bentuk lomba menulis cerpen dengan tema LDR (Aku, Kamu dan Jarak), akhirnya terkumpullah 24 naskah terpilih dari 81 naskah yang masuk. Ditambah 2 cerpen dari Ayu, maka lengkaplah cerita Long Distance Relationship, dari berbagai sudut pandang.

Seperti biasa, saya memfavoritkan beberapa cerita dalam sebuah buku bunga rampai. Begitupun dalam buku ini.

Dua cerita terfavorit saya adalah “Dua Tahun dengan 15.000 Kilometer” oleh Fadila Istiqa Septiana, dan “Senandung Rindu dari Melbourne” oleh Rere Zivago. Dua-duanya begitu manis tertulis. Yang pertama, dua tokoh yang saling mencinta tapi terpisah jarak akhirnya bisa bersatu, sedangkan yang lain, harus berpisah. Menunjukkan bahwa muara pilihan Long Distance Romance memang kembali pada pribadi masing-masing yang menjalaninya. Dua-duanya ditulis rapi, paling tidak saya temui, dua tulisan ini paling rapi alurnya.

Ada cerita yang cukup mencuri perhatian, yaitu “Ketika Aku Mencoba Memeluk Jarak” oleh Lourdes Florentine Mariso. Saya bilang, tulisannya sangat nyastra. Agak kaget saya menemui tulisan bergaya begini dalam buku seperti LDR. Bukan saya mengecilkan arti buku LDR, dan juga gaya tulisan penulis yang lain. Tapi membaca cerpen ini sepertinya malah jadi membuatnya njomplang. Tak seimbang. Di antara tulisan-tulisan bergenre pop *bahkan ada yang terlalu curhat* tiba-tiba nyempil tulisan yang bergaya tulis sastra begini, dengan simbol-simbol, dengan diksi-diksi dewa. Hmmmm.

Ada beberapa cerita yang sebenernya idenya bagus, namun eksekusinya masih kurang tajam. Seperti “Saat Tak Hanya Jarak yang Memisahkan” oleh Andita Radianti, “Padi dan Kapas” oleh AL dan “Serdadu Rindu” oleh Kristiawan Balasa. Ketiganya mempunyai ide dan konsep cerita yang sangat unik. Tapi entahlah, saya tidak terlalu berkesan ketika membaca ceritanya.

Ada beberapa cerita yang terlalu “curhat” 😆 I don’t know, tapi rasanya agak mengganjal juga menemukan cerita-cerita curhat di dalam sebuah buku yang seharusnya adalah masuk ke genre fiksi. Mungkin lain kali, bisa dibedakan saja kategorinya 🙂 agar tak mengganggu mood cerita yang lain.

Pada dasarnya kesalahan setiap tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini kesalahannya hampir sama; terlalu bertele-tele, atau terlalu banyak petuah :mrgreen: , banyak kalimat yang tidak efektif dan terlalu panjang *ada lho yang satu paragraf terdiri atas satu kalimat 😆 *, typo yang bertebaran di sana sini, kata-kata yang tidak baku, terlalu datar dan terutama yang paling banyak tersebar adalah kesalahan penulisan EYD seperti penggunaan huruf kapital, pembedaan kata depan dan awalan, dan tanda baca. Kalo satu dua masih bisa ditoleransi. Tapi ini ada di setiap cerita. Cukup haduh juga dibaca jadinya.

Hmmmm, tulisan saya di dalam buku ini lama-lama saya rasakan juga cukup absurd. 😆 Sengajalah saya tidak mereviewnya di sini. Ada yang mau ngereview? Saya akan dengan senang hati membacanya 🙂

After all, buku ini lumayanlah. Sebagai bahan bacaan ringan yang ga terlalu menuntut pemikiran yang terlalu keras 😆

Dua dari lima bintang.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Lidya says:

    boleh juga di baca nih bukunya ya mbak, buat mengisi waktu nunggu anak sekolah nanti 🙂 lebih enak lagi kalau dikirimin gratis hehehe gak enak ujungnya.
    Maaf mbak baru bisa mampir nih smeinggu gak bisa online

    Like

    1. @RedCarra says:

      Aku juga mau, Mak, kalo gratis. Colek2 ya kalo mau bagi2 gratis 😀 *hlah*

      Like

  2. Orin says:

    ahahahaha…jadi inget cerpenku di situ yg geje bgt. Wong bikinnya literally 1 jam sblm deadline *ups* qiqiqiqi

    Like

    1. @RedCarra says:

      Eh ceritamu masih manis, Neng. Manis kemrinyis.
      Punyaku. Ajib bener *sarcasm* 😆

      Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s