Girl Talk

Judul: Girl Talk – 60 Perempuan. 30 Kisah. Yang Manakah Kisah Hidupmu?
Penulis: Lala Purwono
Editor: Herlina P Dewi
Desain Cover: Ike Rosana & Felix Rubenta
Proof Reader: Tikah Kumala
Jumlah Halaman : vi + 181 hlm
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Mereka bicara tentang cinta, tapi juga tentang sakit hati karena cinta yang mengikat terlampau erat. Mereka bicara tentang rahim yang tak pernah menjadi tempat singgah seorang bayi mungil, tapi juga tentang perut membuncit yang bisa berarti akhir dari segalanya.Mereka bicara tentang ketakutan pada ikatan pernikahan, tapi juga ketakutan menghabiskan seumur hidup mereka dalam kesendirian.
Mereka bicara tentang rasa egois seorang lelaki, tapi mereka mengakui tak bisa hidup tanpanya.Ya, mereka 60 perempuan ini, berbicara tentang kisah hidup mereka. Di antara 30 kisah ini, yang manakah kisah hidupmu?

Review

Ok. Buku ini sebenernya sudah lama sudah selalu saya pegang-pegang setiap kali ke toko buku. But I don’t know. Sepertinya nggak pernah berhasil untuk bisa ikutan masuk ke dalam tas belanja. 😆 Selalu terkalahkan oleh buku yang lain.

Tapi, oh, sekarang saya tahu. Karena saya ternyata bisa membacanya juga, tanpa harus membeli. Huahahahaha… Secara saya sedang mewajibkan diri sendiri untuk membaca semua buku terbitan sendiri, maka buku ini adalah yang pertama kali saya ambil untuk saya selesaikan baca di rumah.

So, okay, here’s my review.

Buku ini berisi 30 kisah. Konsepnya terus terang saya suka. Penulis bagaikan “mengumpulkan” rumpian perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya menjadi satu dalam buku ini. Kekuatannya adalah, kisah-kisah ini sangat besar kemungkinannya related to everyone’s life. Setiap orang -perempuan- mungkin saja mengalami salah satu kisah yang tertulis di buku ini. Ketika kamu berhasil membuat cerita yang related to everyone, maka kamu pun berhasil meng-engage semua orang dalam satu karyamu itu.

Wuiihhhh… kembali terbit komen sotoy seorang Carra.

Apa maksudnya? Ya, gampangannya, tulisanmu akan melibatkan banyak orang. Artinya lagi, akan banyak orang yang secara emosional menjadi terlibat dengan tulisanmu. Efeknya? Ngena di hati. Biasanya sih begituuuu… Oh, kamu *yang udah baca* ga merasa ter-engage? Ya, barangkali kamu belum ngerasain salah satu kisah yang ada di sini terjadi padamu. Gampang saja kan? Hahahaha… Atau kamu bukan perempuan, jadi kamu ga bisa merasakan emosinya. XP Trus, intinya paragraf ini apa, Carra? Lanjut sajalah…

Anywayyyy…

Buat saya, adalah sulit penulis “memerankan” banyak karakter dalam satu buku kumpulan cerita begini. Resiko yang dipikul oleh penulis adalah semua ceritanya sangat senapas. Coba saja bandingkan dengan antologi yang ditulis oleh banyak orang. Style nulisnya berbeda, memberikan karakter yang berbeda pada setiap cerita. Jadi pembaca bagaikan disuguhi oleh banyak fragmen dengan tokoh yang benar-benar berbeda. Tapi dalam sebuah kumpulan cerpen seperti Girl Talk ini, risiko terbesar adalah pembaca bagaikan menemukan sosok penulis di mana-mana, dan bukannya tokoh-tokoh yang berbeda-beda. Jadi kalo di buku ini, saya *sebagai pembaca* seperti melihat Mbak Lala Purwono berperan menjadi Dinda, Amara, Belinda dan kawan-kawan. Apalagi sepertinya penulis tidak berusaha mengubah gaya nulisnya sama sekali. Senang mempergunakan kata-kata berbahasa asing *meski sebenarnya tak perlu dan bisa di-Indonesia-kan* dan banyak menggunakan dialog “…” untuk mempresentasikan sebuah kebisuan.

Saya sudah membaca beberapa kumpulan cerpen yang ditulis oleh satu penulis. Dan iya, rata-rata karyanya memang menjadi senapas. Jarang sekali bisa menemukan penulis yang bisa memerankan banyak tokoh dengan karakter yang benar-benar berbeda.

Tapi, saya akui, membuat sekian banyak cerita berbeda dengan tokoh berbeda, tentu tinggi tingkat kesulitannya. Saya kira, saya juga nggak akan sanggup memberikan ruh yang berbeda-beda untuk setiap cerita kalau saya jadi penulisnya. Jadi saya tetap memberikan apresiasi yang tinggi kepada penulis.

Quotes

Well, kalau quotes sih, sepertinya penulis sudah nggak usah dipedulikan lagi. Saya sempat menjadi pembaca tetap blognya dulu di jeunglala.wordpress.com. So, here are some of my fav ones.

“Janganlah kamu menikah dengan seseorang yang kamu pikir bisa hidup selamanya bersama. Tapi nikahlah dengan seseorang yang tanpanya kamu tak bisa melanjutkan hidup.” (hal. 7)

“Cinta bukan kompetisi; siapa lebih hebat dari siapa. Kalau cinta adalah semacam kompetisi, pada akhirnya nanti akan menghasilkan seorang pemenang. Dan… tentu saja, ada seseorang yang akan kalah. Kalau sudah begini, apa itu masih disebut cinta?” (hal. 21)

“Ah, apapun itu. Aku merasa Tuhan sudah melupakan garis jodohku saat menggambari telapak tanganku,” katanya setelah menghela napas. “Mungkin aku memang ditakdirkan untuk jadi perempuan lajang yang tidak pernah menikah, tapi sukses dengan buku-bukunya.” (hal. 37)

“If you get any envy or jealous with someone, then it means you feel insecure about yourself. Menurut gue, kalau elo udah yakin dengan kapasitas dan kemampuan diri elo sendiri, elo bakal mengkhawatirkan apapu.” (hal. 49)

“When something doesn’t work out as you’ve planned, just believe that God has mad a much better plan for you.” (hal. 104)

“Tiap orang dateng dalam kehidupan kita, pasti punya misi dan tujuan, Lor. Mau nyebelin seperti apa, orang-orang itu pasti punya maksud dan ngasih hikmah setelah semuanya lewat.” (hal.135)

Ah, banyak deh quotesnya yang JLEB! Baca saja sendiri, sudah 😆

Akhir kata, kalau kamu perempuan, dan merasa hidupmu sudah paling miserable, mungkin kamu harus membaca buku ini. Rasakanlah bahwa kamu nggak sendiri. Banyak perempuan di luar sana sama saja merasakan sulitnya hidup. Semua orang mempunyai beban yang sama, saya kira. Dan penulis berhasil meng-capture-nya dalam sebuah buku.

Nice one.

Tiga setengah dari lima bintang.

“… aku cuma mohon agar mereka diam saja. Tak usah sok menuturiku. Tak usah rewel dengan status lajangku. Tak usah menghakimi keputusanku ini. It’s my life, it’s my own decision. They should respect me and what I’m feeling.” (hal. 79)

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Lidya says:

    judulnya agak mirip buku cerita yang dari luar ya mbak

    Like

  2. Mechta says:

    Trims, mbak… membuatku ingin membacanya sendiri 🙂

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s