Ladies’ Journey

Judul: Ladies’ Journey
Penulis: Lala Purwono, Triani Retno, Icha Ayu, Nimas Aksan dkk
Editor: Herlina P Dewi
Proofreader: Tikah Kumala
Desain Sampul: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
Tebal: x + 168
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Karena Setiap Perjalanan Menyimpan Cerita…

Setiap perjalanan menyimpan cerita: kepedihan, kekecewaan, kehangatan, ataupun kebahagiaan. Begitulah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kepastian, mencari cinta, menemukan jati diri, atau bahkan untuk kabur dari hiruk-pikuknya hidup.

Beberapa perempuan menempuh jarak dan waktu, demi cinta. Di sudut Jakarta, Lina harus menabung keberanian untuk kembali pulang dengan sekoper kesedihan. Sementara Clara menemukan dirinya kembali di negeri antah-berantah. Perempuan lainnya sibuk membuang masa lalu dan mulai mengoleksi kepingan-kepingan masa depan.

Kisah-kisah dalam buku ini akan mengantarkanmu menjelajah waktu dan menelusuri kenangan, karena setiap perjalanan menyimpan cerita.

Review

Buku ini merupakan buku kedua yang saya baca dalam rangka kebut baca buku terbitan sendiri 😆 Hya ampun, emang diwajibin ya Ra? Enggaaaaa… sebenernya ini mah bisa-bisaannya saya aja baca buku gratis *pletak!*

Anyway…

Buku ini *lagi-lagi* adalah kumpulan cerpen, yang mempunyai benang merah tokoh utamanya, perempuan, dan kesemuanya terlibat dengan dan dalam suatu perjalanan. Daaaan, kebanyakan *atau hampir semua ya?* perjalanan adalah perjalanan cinta. Ohhh yes, cinta. Hal yang selalu bisa menjadi cerita.

Cintaaa ohhhh… cintaaaa…. *nyanyik seriosa malam-malam* *kemudian batuk*

Kontributornya sendiri adalah nama-nama yang sudah lumayan dikenal. Ada Lala Purwono, Triani Retno, Yuska Vonita, Eva Sri Rahayu dan lain-lain. Ada 13 cerita perjalanan perempuan terangkum dari ke-13 penulis perempuan, yaitu:

  1. Ibu di Hatiku – Nimas Aksan
  2. Asing – Theresia Anik
  3. Cinta Berhenti Sampai di Sini – Triani Retno A
  4. Bali Selalu Punya Cerita – Mpok Mercy Sitanggang
  5. Zelmania – Tikah Kumala
  6. Jodoh dari Hongkong – Judith Hutapea
  7. Perjalanan Kenangan – Eva Sri Rahayu
  8. I am Leaving – Lala Purwono
  9. Life is About Choices – Icha Ayu
  10. Pulang untuk Cinta – Ririe Rengganis
  11. My Vegas (Un)Wedding – Yuska Vonita
  12. Aku Pasti Kembali – Lygia Pecanduhujan
  13. Niki Kopitiam – Widya Ross

Hmmm, kalo diliat di list kontributor memang ya, buku ini jadi semacam “arisan” penulis Stiletto. Keliatan banget kan? 😆 hihihi…

Dibuka dengan manis oleh “Ibu di Hatiku”, satu persatu perempuan ini bercerita. Saya berusaha mengikuti setiap kata yang berbaris, tapi pada akhirnya tetap ada beberapa yang saya favoritkan, dan ada beberapa yang saya perhatikan agak terlalu janggal.

Yang janggal tentu saja cerita yang lantas menimbulkan pertanyaan seperti, “Hah? Emangnya ini setting di mana?” sambil berusaha buka-buka lagi di halaman sebelumnya. Atau… “Hah? Kok ada orang tau-tau banget gitu ngintilin kita sampe ke rumah? Lalu ngasih barang yang ketinggalan di pesawat?” Atau juga… “Hah? Sumpe lo, ini akhirnya cuma mim… oh well…” 😆 Ada juga yang, wow, konfliknya berat sekali tapi dipaksakan masuk ke dalam satu cerpen beberapa ribu kata saja. Jadi kayak deadline. Dipepetin #eh

Tapiii, di antara yang janggal, tentu ada yang menarik perhatian. Zelmania adalah yang pertama. Dibuka dengan beberapa kalimat yang cukup wow, seperti …

Mata merah saga berair seperti telaga meneteskan ruh , dan jadilah aku. Tak ada beban misi selain menemani pemilik mata itu, Zelmania. Kelak, ketika mata itu tak lagi merah, berarti aku mati. Lalu lahir kembali dari pemilik mata merah yang lain.

Ding! Ya, saya langsung mendengar bunyi “ding” itu dalam kepala saya, seperti biasa kalau saya menemukan tulisan yang masuk ke selera saya. Saya ikuti ceritanya sampai habis, dan yesssss, ini cerita paling menarik dalam buku ini. Cerdas mensimbolisasi cinta, cerdas mensimbolisasi konflik.

Cerita kedua yang menarik, adalah Pulang untuk Cinta. Cerita perjalanannya tak melulu soal perjalanan fisik, dari kota ke kota lain atau dari negara satu ke negara lain. Tapi perjalanan yang diceritakan adalah sebuah perjalanan jiwa, yang akhirnya kembali pulang dan kembali menjadi diri sendiri. Penulis juga dengan cerdas mensimbolisasi perjalanan yang tidak diterjemahkan secara vulgar, tapi bisa menjadi refleksi bagi yang membaca. Nice one.

Cerita ketiga yang cukup menarik adalah I am Leaving. Plotnya teratur, tata tulisnya sangat rapi. Khas seorang Lala Purwono 😆 Oh ya, dan satu lagi, bertebaran quotes cakep. Pokoknya Jeung Lala banget deh. Idih, sok akrab sekali saya. *selftoyor*

Quotes

“… menjadi seorang ibu bukan melulu perkara hamil dan melahirkan. Tanpa harus berdiam di rahimnya, aku tahu dialah ibu yang dipilihkan Tuhan untukku.” (hal. 13)

Lelaki tak ubahnya sebuah makanan. Aku yang memutuskan menu, mencari bahan, meracik bumbu, memasak, dan menghidangkannya. Kalau masakan itu pahit atau asin, tetap akan kutelan. Jika makanan itu beracun, biarlah aku mati atas keputusanku sendiri. (hal. 63)

Cinta yang tak selesai, menyisakan kesunyian di sudut ruang, menghidupkan hantu yang menakutkan: kenangan. (hal. 81)

Life is a gamble. You play to win, oftentimes you lose, but that doesn’t mean you are a loser. You’re just unlucky. (hal. 93)

“Always remember that you ALWAYS have a full control of yourself for everything, but you only have to learn to take risks dan bertanggung jawab atas pilihan yang kamu ambil.” (hal. 117)

Bila seorang lelaki berkata “I love you” padamu, jangan percaya begitu saja. Sebab, bisa jadi maksudnya bukan “aku cinta padamu”, melainkan “mana tubuhmu?”. (hal. 119)

Tuhan menciptakan dua telinga, dua mata dan satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara. Tuhan memberikanku 2 tangan yang sempurna agar aku menulis lebih banyak, tak peduli mata-mata di luar sana lebih banyak mencibirnya. teruslah menulis. sebab tulisan itulah yang membuatmu ada. (hal. 127)

Terkadang kesetiaan itu ibarat kapal. Ada jadwalnya sendiri kapan harus berlabuh dan pergi. (hal. 153)

Nah, untuk penggemar cerita pendek seperti saya, buku kumcer seperti Ladies’ Journey ini bisa menjadi semacam selingan memang. Biar otak juga kadang harus mendarat sebentar di bumi, biar nggak terlalu melayang ke mana-mana karena disuguhi cerpen-cerpen absurd ala media. 😆 Tapi kok ya, pada akhirnya cerita yang bener-bener nyantol di kepala adalah yang seperti Zelmania dan Pulang untuk Cinta ya? 😆 hahahaha… sami mawon. Masalah selera saja, saya kira. Tapi ya cerita yang lain sangat related lah dengan banyak orang, saya kira. So, buku ini merupakan teman yang manis terutama buat kamu yang sedang dalam perjalanan maupun dalam “perjalanan”. Perjalanan apa? Hanya kamu yang tahu 😀

Tiga setengah dari lima bintang.

Hmmmm… empat dari lima bintang deh, terselamatkan oleh dua cerita tadi 😆

*reviewer labil*

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s