Lukisan Matahari – Lukisan Kata dalam Cerpen 1990-an

Judul: Lukisan Matahari – 19 Cerpen Pilihan Bernas
Penulis: Achmad Munif, Agnes Yani Sardjono, Agus Noor dkk
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: 1993

Blurb

Buku ini menampakkan diri sebagai kumpulan cerita pendek yang aneh.
Mungkin, sebagai satu kesatuan utuh dalam arti buku, antologi ini merupakan data sastra yang untuk meminjam istilah para ahli, sui generis, tidak ada duanya. Adapun alasan penyebutan itu adalah bahwa dalam kumpulan ini, cerpen asli disatukan dengan cerpen terjemahan.

Review

Sastra Koran, begitulah orang memberi nama bagi karya sastra yang dimuat di halaman koran, sesungguhnya memiliki posisi dan makna yang strategis, bagi keseluruhan perkembangan sastra kita. Salah satu posisi dan makna strategis dari sastra koran adalah mengurangi atau malahan menepiskan kemungkinan terasingnya karya sastra di tengah masyarakatnya.

Sayangnya, sastra koran memiliki kelemahan yang justru sebagai akibat dari kehadirannya sebagai sastra koran itu. Koran yang cenderung mengikuti irama jurnalistik, yang berlari mengikuti dinamika perkembangan masyarakat dan dunia, menyebabkan terciptanya perilaku pembaca yang juga ‘berlari’, dalam arti bahwa usia koran hanya sehari, setelah itu pun koran mati dan isinya dianggap ketinggalan.

* Kata Pengantar penerbit

Hmmm, saya pikir bener juga sih. Saya suka baca koran minggu karena cerpennya. Tapi saya ndak langganan koran. Jadi saya sering ketinggalan. Bukan sering lagi, selalu ketinggalan. Satu-satunya jalan, ya blogwalking, baca blog lakonhidup. Tapi saya pun merasa nggak nyaman baca blog begitu. Paling seneng ya, baca buku. Pada akhirnya inilah yang membawa saya untuk mengumpulkan buku-buku cerpen koran.

Seiring koran yang akhirnya tertumpuk sebagai barang bekas, cerpen itu pun akhirnya juga menjadi ‘barang bekas’. Lalu apa? Apa yang bisa menjadikannya ‘abadi’? Bagaimana pun cerpen adalah karya otak dan hati manusia. Menurut saya, ini sangat sangat pantas untuk diabadikan.

Jawabannya, tentu saja, adalah mengumpulkannya menjadi sebuah buku antologi.

Antologi Lukisan Matahari ini, contohnya.

So here is my review.

Buku ini berisi 19 cerpen pilihan Bernas. Buat yang belum tahu, Bernas adalah koran lokal di Jogja sekitaran tahun 90-an. Sekarang sudah tutup, dan digantikan oleh Tribun Jogja. Bernas ini merupakan salah satu bagian dari Kompas. Yes, jadi mustinya udah dapat bayangan lah ya, gimana cerpen-cerpen yang dimuat di sana, meski tetep kualitasnya di bawah Kompas sih. Dalam buku ini ada 15 cerpen yang ditulis oleh penulis-penulis lokal, dan 4 cerpen yang merupakan terjemahan.

Somehown, justru cerpen-cerpen dari penulis-penulis Indonesia malah sangat lebih menarik ketimbang cerpen-cerpen terjemahannya. Membaca cerpen-cerpen terjemahannya, seperti membaca terjemahan dari google translate. Iya, mengganggu banget. Ya, mungkin memang terjemahannya yang memang nggak bagus. Jadi seandainya saja saya bisa menemukan cerpen aslinya, barangkali saya bisa menikmati.

Cerpen-cerpen di sini sarat dengan pesan moral dan kritik sosial. Yes, khas cerpen media. Setting kebanyakan adalah di Jogja dan sekitarnya. Dialog-dialognya pun sarat dengan logat Jawa meski ditulis dalam bahasa Indonesia. Pokoknya, napasnya, Jogja banget deh!

Ada beberapa yang menarik perhatian. SANG BOSS, menceritakan mengenai ambruknya sebuah perusahaan akibat ulah sang boss baru yang tak bertanggung jawab. Diceritakan dengan gaya absurd dan lebay, cerpen ini malah jadi menarik sekali. Saya berusaha mendekonnya di blog fiksi. Hanya saja belum selesai 😆 Ada kesulitan tersendiri untuk mendekon cerita model begini. Dibilang fantasi, ya fantasi karena terlalu absurd. Dibilang realis juga bisa, karena tokoh-tokoh dan konfliknya bisa saja terjadi somehow.

Cerpen SLOGAN menceritakan tentang dewan kota yang sedang bersidang untuk menentukan slogan kota mereka. Oh ya, ini satir. Menyindir bahwa orang-orang terlalu serius memikirkan hal yang remeh temeh, dan malah mengabaikan hal-hal yang harus serius diperhatikan.

Cerpen WAJAH TANPA REMBULAN diceritakan dengan napas feminisme yang kental. Cerpen ini juga absurd, menceritakan kehidupan kaum terpinggirkan di pinggir kali yang mencari hidup dari libido. Yes, tentang kehidupan para PSK.

“Kalau kau memang ibu sejati, lakukanlah sesuatu yang berarti. Atau lebih baik mati. Hentikan semua dosa ini!” (hal. 79)

LUKISAN MATAHARI, ini favorit saya dari semua cerpen. Bercerita mengenai mimpi seorang pelukis, yang kemudian ditawar dengan harga yang sangat tinggi oleh seorang kaya raya. Namun ada syaratnya, si pelukis harus mengubah lukisannya sesuai dengan yang diminta oleh si penawar.

“Aku tidak akan mengubah lukisan ini. Aku tidak akan menjual mimpiku sendiri. Aku masih punya harga diri. Apa di negeri ini orang tak boleh bermimpi? Padahal hanya itu milik kita yang paling berharga. Sekarang mau dirampas. Tidak!” (hal. 19)

SOKRA, kurang lebih mempunyai premis yang sama dengan Lukisan Matahari. Bercerita tentang seseorang yang secara kebetulan meraih kedudukan tinggi, namun kemudian rindu bermimpi.

“Mimpi itu memang bukan barang mahal, Bung. Tapi bagi kamu cukup berharga. Dengan mimpi, kami bisa merasakan nikmatnya kursi empuk, dinginnya udara yang dihasilkan AC dan sebagainya. Lewat mimpi kamu bisa merasakan nikmatnya dunia.” (hal. 84)

Sedangkan empat cerpen terjemahan dalam buku ini adalah karya-karya Ernest Hemingway (Museum Perjuangan), Parfum (Ryan O’neil), Sebelum Tapa dan Semedi ( C. Rajagopalachari) dan Daun Terakhir (O. Henry).

Banyak typo dan kata tak baku yang saya temukan. Tapi ini buku terbitan tahun 1993. Barangkali saat itu, kata-kata inilah yang baku. Jadi, entahlah. Saya hanya merasa kurang nyaman dibaca saja jadinya.

Tiga setengah dari lima bintang.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Gulunganpita says:

    Walau cuma 3,5 tapi saya tertarik membaca buku ini..
    Gegara ada kata Mataharinya mungkin -__-

    Like

  2. Lidya says:

    aku baru tahu istilah sastra koran mbak

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s