Finally You – It’s All About Love

Judul: Finally You
Penulis: Dian Mariani
Editor: Herlina P Dewi
Proofreader: Weka Swasti
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
ISBN : 978-602-7572-28-7
Jumlah Halaman : 277
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Luisa dan Raka, dipersatukan oleh luka.
Luisa yang patah hati setelah ditinggal Hans, memilih menghabiskan waktunya di kantor sampai malam. Bekerja tak kenal lelah. Siapa sangka, ternyata bos di kantornya juga baru putus cinta. Mereka sama-sama mencari pelarian. Mengisi waktu-waktu lengang selepas jam lembur dengan menyusuri jalan-jalan padat ibu kota. Berdua. Membagi luka dan kecewa.

Antara bertahan pada kenangan, atau membiarkan waktu yang menyembuhkan. Baik Luisa ataupun Raka membiarkan hubungan mereka berjalan apa adanya. Hubungan yang dewasa tanpa ungkapan cinta. Mungkin rasa aman dan nyaman bersama kenangan, membuat Luisa dan Raka malas menyesap rasa baru dalam hubungan mereka.

Namun, bagaimana jika seiring berjalannya waktu, Raka mulai benar-benar jatuh cinta ketika Luisa justru sedang berpikir untuk kembali kepada Hans? Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu.

Alur Cerita

Dikisahkah, seorang Luisa, gadis berlesung pipi yang sedang terpuruk karena ditinggal selingkuh oleh pacarnya, Hans. Hans lebih memilih beralih ke Gina yang diakuinya suka menggoda. Karena kesedihannya, Luisa akhirnya menenggelamkan diri dalam pekerjaan sehari-harinya. Di sinilah akhirnya dia dekat dengan Raka, orang yang jabatannya lebih tinggi 2 level di atasnya. Raka ini ternyata juga masih dalam tahap move on dari Saskia, pacarnya. Jadilah dua orang yang masih terjebak dalam masa lalu ini jalan bareng. Mereka berusaha menikmati hidup, mostly dengan cara wisata kuliner makanan-makanan sehat.

Cerita kemudian berputar di antara usaha Luisa dan Raka untuk lepas dari masa lalu masing-masing. Beberapa kali keduanya sempat akan balik lagi sama mantan masing-masing.

Trus gimana? Baca sendiri.

Review

Soooo… here’s my review. *horror music on* Halah!

Cerita dalam novel ini sebenarnya sangat simpel. Menggunakan alur maju dan PoV orang ketiga, cerita yang terjalin sama sekali nggak belibet. Lurus dan lempeng, dari awal sampai akhir. Nggak butuh tenaga buat memahami setiap scene.

Kesederhanaan macam begini ini *menurut saya yang sotoy* kadang memang bisa menjadi bumerang. Bisa begitu menarik, tapi bisa jadi malah membosankan. Nah, Finally You ini termasuk yang mana? Tentunya semua tergantung selera πŸ˜€ Saya sempat merasa bosan di tengah-tengah. Tapiiii… eh ternyata saya bisa menyelesaikannya dengan cukup cepat. Cukup 3 hari sahaja *dipotong masa tepar*, padahal novel ini juga lumayan tebel. Jadi saya memang bosen di tengah, tapi ada rasa penasaran yang menahan hingga saya terpacu untuk segera menyelesaikan membaca buku ini πŸ˜€

Ada beberapa catatan penting sih pada buku ini. Yaitu irama plot. Atau apa ya, istilahnya? Saya nggak ngerti. Saya juga ndak pernah belajar teori menulis yang sebenernya sih. Tapi saya bisa merasakan. Beberapa bagian dalam buku ini seperti sengaja diulur, dan dalam bagian lain seperti terburu-buru. Ada beberapa bagian yang sangat kaya dengan dialog, ada bagian lain yang dengan sangat cepat dinarasikan. Semacam lagi menambal bolong yang terjadi di scene sebelumnya. Apakah ini disengaja? Entahlah :mrgreen: Mengganggu? Hmmmm, yah, cukup bikin saya garuk-garuk kepala sih. Hahaha…

Masih terlihat beberapa typo di sana sini, tapi nggak terlalu kentara.

Penokohan masih terasa mengambang. Saya ini termasuk pembaca visual, saya membayangkan apa yang saya baca. Saya bisa membentuk figur Luisa dalam benak saya. Tapi jujur, saya nggak bisa melakukan hal yang sama dengan Raka dan Hans. Apanya yang kurang ya? Entahlah. Saya juga nggak tahu. Ciri-ciri yang lebih fisik mungkin? Sejauh ini, Raka khas dengan mata kelamnya. Cuma itu aja yang tertanam dalam otak saya. Hans? Lebih blur lagi. Tapi anehnya, saya malah bisa membentuk figur Saskia loh πŸ˜† Nah loh… Padahal Saskia, meski punya peran penting, kemunculannya nggak terlalu banyak di sini. Tapi saya malah bisa membentuk figur imajinatifnya. πŸ˜€ Perihal usia, juga nggak terlalu bisa teraba ya. Luisa ini twenty something lah kali ya. Raka? Hans? Entah. Karakter yang agak lost buat saya adalah Bruce. He’s like coming from nowhere. Pelengkap penderita banget πŸ˜€

Overall, ini novel yang manis. Ada bagian-bagian yang menimbulkan rasa hangat saat membacanya. Seperti ketika Luisa lagi ngasih perhatian ke Raka tentang makanan sehatnya. Duh, saya juga mau loh diperhatiin sampe segitunya. *menerawang* Atau ketika Raka begitu protektifnya terhadap Luisa, dengan selalu ada di saat-saat Luisa membutuhkannya *menerawang lagi*. Jadi hubungan Raka dan Luisa ini memang unik. Masing-masing minta diperhatikan, dan masing-masing protektif dan posesif dengan caranya sendiri. Bukankah memang ada orang yang berpikir, bahwa dengan sifatnya yang posesif itu berarti menunjukkan rasa cintanya? Seperti itulah Luisa dan Raka. Mereka saling menjaga. And that’s so sweet!!! *menerawang dengan mata berkaca-kaca*

Tokoh

  1. Luisa. Gadis cantik berlesung pipi, berkalung bandul salib. πŸ˜€ Ceria di suatu waktu, sekaligus sendu dan muram. Karakter khas protagonis, yang bisa bikin pembaca jatuh cinta. Suatu saat bisa begitu labil, dan gampang tersentuh. Gampang nangis, pokoknya hatinya lembutttt banget kayak eikeh. Saat paling menyebalkan adalah ketika dia malah balik lagi ke kesalahan masa lalunya. Wew. Nggak kapok. πŸ˜›
  2. Raka. Cowok bermata kelam. Seorang general manager *iya kan ya?* sebuah pabrik besar yang super sibuk. Setiap hari bisa saja menghadapi 400-an email yang menuntutnya untuk dibalas. Workaholic sejati. Nggak pinter berkata-kata, nggak ada manis-manisnya deh kalo ngerayu atau mengungkapkan perasaannya. Nggak biasa basa basi. Tapi sekalinya ngomong cinta ke Luisa, bikin klepek-klepek. Karakter gitu yah, yang suka apa adanya, kalo ngomong sayang kan jadinya emang seriusan, bukan sekadar gombal. *pukpuk Raka*
  3. Hans. Nyebelin. Udah selingkuh, enak aja minta balikan. Jitak nih! *pembaca terbawa emosi* Udah ah, bahas dia mah πŸ˜†
  4. Saskia. Wew. Perempuan b*tchy abesss πŸ˜† So far, justru karakter Saskia ini karakter favorit saya dalam novel ini. Hahaha… Jangan dijitak ya, Kak Dian πŸ˜† Nanti kalo bikin sekuelnya, ada bagusnya juga nih ngelanjutin kisah si Saskia πŸ˜€

Quotes

Kamu itu entah di mana. Di sini *otakku* … di sini *hatiku* … atau keduanya? Kamu … Ternyata jauh lebih penting dari masa lalumu. (hal.256)

Kalau biasanya aku melihat dengan hati, kali ini hatiku seperti tidak berfungsi. Hanya logikaku yang kupikir benar. (hal. 265)

“Jangan dilepas lagi. Tangan kamu.” (hal. 269)

“Kamu kenapa sih hobi banget bikin nangis?” “Me? Really? Padahal aku sayang gini sama pacarnya.” (hal.274)

Ternyata bukan tentang waktu. Bukan juga tentang masa lalu. Ini tentang menemukan orang yang paling tepat untuk hidupmu. (hal. 275)

Lohhh, quotes-nya kok dari halaman-halaman terakhir doang. Abisnya, quote-quote di ending itu semuanya JLEB! T___T

My rating: 3/5

PS: Foto bukunya sementara pinjem dulu, sampe punya foto sendiri ya πŸ˜€

Oiya. Jangan lupa ikutan blog tour-nya ya πŸ˜€ di blog-blog berikut.

 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. aku pun ikut menerawang πŸ˜‰
    reviewnya jadi bikin saya kepengin pinjem nih Mak Carra xixixiii…

    Like

  2. oline says:

    Wahhh lagi rame GA buku ini..
    Kayaknya bagus. Jadi penasaran pgn baca n beli. Ehh pinjem aja deh ma mak carra :)))) qiqiqi….

    Like

  3. Nathalia DP says:

    Suka sm quote2nya…
    Mak, gmn sih caranya spy bisa jadi host blog tour? πŸ˜€

    Like

  4. Lidya says:

    ya gak dikasih tau akhirnya nih mbak πŸ™‚

    Like

  5. leny says:

    Akhirnya bagaimana tuh mbak?

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s