Autumn Once More

Judul: Autumn Once More
Penulis: Ilana Tan, Ika Natassa, aliaZalea, dkk
Editor: Tim Editor GPU
Desain Sampul: Marcel A.W
Penata Letak: @bayu_kimong
Jumlah halaman: 232 halaman
ISBN: 978-979-22-9471-2
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Cinta <adj>: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang ‘dadakan’ dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.

Review

Buku ini diberi label metropop, yang berarti adalah novel popular punya GPU. Kenapa GPU? Apa hubungan metropop dengan GPU? Jadi, kalau dirunut-runut, metropop ini semacam “brand” novel populer yang memang dibidani oleh GPU. Apa dan bagaimana sejarahnya hingga muncul subgenre metropop ini, bisa dilihat di sini. Saya ndak akan nulis tentang apa itu metropop di sini 😆

Anyway…

Seperti yang sudah bisa ditebak, tentu saja ini adalah kumpulan cerpen popular, mengangkat kekinian, kemutakhiran hidup orang-orang yang menjadi tokoh utama.

Dan mendapati nama-nama yang sudah begitu terkenal dalam buku ini membuat saya menaruh harapan yang tinggi *meski jujur, saya belum pernah baca satu tulisan pun dari mereka yang berwujud novel 😆 saya pernah baca tulisan pendeknya Ika Natassa sih, tapi sepertinya itu nggak bisa dipakai sebagai patokan bahwa saya suka tulisannya*. Ada 13 cerpen di sini.

  1. Be Careful What You Wish For – aliaZalea
  2. Thirty Something – Anastasia Aemilia
  3. Stuck with You – Chistina Juzwar
  4. Jack Daniel’s vs Orange Juice – Harriska Adiati
  5. Tak ada yang Mencintaimu Seperti Aku – Hetih Rusli
  6. Critical Eleven – Ika Natassa
  7. Autumn Once More – Illana Tan
  8. Her Footprints on His Heart – Lea Agustina Citra
  9. Love is a Verb – Meilia Kusumadewi
  10. Perkara Bulu Mata – Nina Addison
  11. The Unexpected Surprise – Nina Andiana
  12. Senja yang Sempurna – Rosi L. Simamora
  13. Cinta 2 x 24 Jam – Shandy Tan

Sooo… sudah bisa dilihat. Hanya 4 dari 13 cerita memakai judul berbahasa Indonesia. Ada yang mau beritahu kenapa? :mrgreen: Mungkin ya, karena ini sebuah metropop, yang membawa kehidupan kekinian dalam sebuah cerita. Jadi, kekinian diidentikkan dengan bahasa Inggris yang melebur bersama bahasa Indonesia. Mungkin begitukah?

Dan dari sekian banyak cerita, saya mau bahas beberapa aja. Karena terus terang yang lain, yaaa bagus sih, tapi ya gitu deh. Tidak meninggalkan bekas apa-apa. Sedangkan yang meninggalkan bekas ini, nggak melulu karena begitu bagusnya, ada juga yang super nyebelin 😆

Yang pertama, tulisan Hetih Rusli. Saya tahu Hetih Rusli adalah seorang editor, yes? Editor lini fiksi GPU. Cukup senior. Dan ternyata cerpennya adalah yang paling ‘mematikan’ di sini. Saya paling suka, karena mungkin memang masuk ke selera. Tapi terasa begitu njomplang di antara cerpen populer yang lain 😆 Cerita tentang cinta yang sangat posesif, yang sampe stalking si ‘korban’nya. Sungguh, cerpen ini terlalu sastra untuk dimasukkan bersanding dengan cerpen yang lain.

Critical Eleven. Ika Natassa. Saya sudah tahu, kalau Ika Natassa suka banget menggunakan bahasa Inggris yang berkelindan dengan bahasa Indonesia. Saya pribadi, agak terganggu dengan bahasa Inggris yang terlalu banyak dalam sebuah cerita bersetting di dalam negeri. Agak terganggu dengan gaya bahasa ber-inggris-inggris-an dalam percakapan sehari-hari. Kecuali kalau settingmu di luar negeri ataupun kamu harus berdialog dengan seorang asing. Sebagai pembaca, saya pribadi sih penginnya, semua harus ada alasannya, termasuk dialog bahasa Inggris. If you know what I mean. Halah 😆 Tapi saya akhirnya mengagumi cara Ika bercerita. Begitu lincah. Begitu natural. Dan smart. Dialog-dialognya bener-bener mencerminkan kecerdasan. Yah, kalo baca cerpen ini sih, pantas saja dia punya fanbase dan pembaca setia yang cukup besar.

Senja yang Sempurna. Rosi L Simamora. Another ‘nyastra’ story di buku kumpulan cerpen. Sampai di cerpen ini, saya agak bernapas lega, karena saya merasa Hetih tidak sendirian 😆 Yes, ini juga nyastra banget. Agak sebanding dengan Hetih, hingga membuat buku ini menjadi cukup balanced. Perhatikan penggalan berikut.

Sekali lagi aku membaca waktu di pergelangan tanganku. Lima menit selepas janji pertemuan kami pukul 20.00. Aku ingat petugas yang melayani reservasiku mengatakan harga untuk sebuah langit barat berwarna merah lengkap dengan kepingan matahari terbenamnya pada pukul 20.00 sangatlah mahal, namun aku sama sekali tidak keberatan. Tak ada yang terlalu mahal bagi perempuan itu. Lagi pula, sekarang, berapa pun akan kubayar untuk menjadikan saat ini sempurna…

Membaca bionya di akhir cerita pun terasa berbeda. 😆

Cinta 2 x 24 jam. Shandy Tan. Ummmm… yes. Tiga di atas adalah cerpen dengan rating 4/5. Yang satu ini, maaf, saya cuma tinggal tersisa 1/5. Maunya ngetwist, tapi oh, soooo yesterday. Maunya ngetwist, tapi banyak terpeleset di logika. Ya ampun 😆

Well, begini kalo the dream team berkolaborasi. Selalu saja ada yang terpeleset. 😀

My rating: 3/5

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s