Mere Matkadevi – dan 123 Karakter Lainnya

Judul: Mere Matkadevi
Penulis: Tulus Ciptadi Akib
Perancang Sampul: Diki Satya
Tebal: xvi + 232 halaman
ISBN: 978-979-709-714-1
Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Blurb

Mana lebih sakit, ditinggal putus pacar setelah delapan tahun pacaran atau ditinggal rusak laptop setelah empat tahun berteman? Andare Putri Avanti ngalamin dua-duanya dalam satu bulan. Cuma beda dua hari.

Andare adalah salah satu dari 124 tokoh dalam buku kumpulan cerita ini. Ada juga kisah tentang Asih yang walau punya bibir sumbing, namun tetap pede ikutan lomba karakoke di kampungnya. Go Asih go!

Cinta, karakter lain lagi, nekat nyamperin artis yang namanya Rangga ke tempat pemotretan. “Mana Rangga? Mana Rangga yang nggak mau diwawancara?!”

Pun ada Tribuana Mentari, yang walau sebenarnya tahu apa yang dilakukannya melanggar aturan, tapi ya dia bodo amatan. Kadang manusia bisa jadi lebih dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri. Karena itulah kita butuh teman yang mendengarkan.

Tulus Ciptadi Akib, sang pendongeng muda yang kadang-kadang ‘sok tua’ bilang, “Hidup manusia memiliki banyak sisi yang berwarna-warni. Kadang menyentuh, kadang menyentak, tetapi selalu familier.” Seperti itulah karakter-karakter yang bermunculan dalam kumpulan cerita (sangat) pendek, yang ditulisnya dengan sangat tulus.

Maka, jangan lupa berkenalan juga dan siap-siap jatuh sayang pada Mere Matkadevi dan karakter-karakter lainnya. Siapa tahu dengan mengenal mereka, kamu justru bisa lebih mengenal dirimu sendiri.

Review

Saya tahu adanya buku ini saat Bu Boss saya menerima satu paket buku yang dibelinya dari LitBox. Langsung tertarik karena di sampulnya tertulis, “Mere Matkadevi dan 123 karakter lainnya.” Dengan buku ‘setipis’ ini berisi 123 karakter, bisa diperkirakan PASTI isinya cerita yang amat pendek. FlashFiction-kah? Mungkin.

Dan saya pun makin yakin saat membaca blurb. Cerita (sangat) pendek mengenai karakter-karakter manusia. Well… well… well… Somehow, saya harus punya, jadinya. 😆

Buku ini memang berisi cerita tentang, tak tanggung-tanggung, 124 karakter yang disusun berdasarkan abjad. Dari mulai karakter anak-anak usia empat tahun, hingga seseorang yang berusia tujuh puluhan tahun. Tak hanya karakter manusia, bahkan juga ada karakter anjing, seperti dalam Blacky Blak. Dari yang sweet lope-lope, hingga yang miris mengiris. Dari yang bikin senyum-senyum, hingga yang bikin saya bilang, “Asem!”.

Kita bisa ketemu sama Cinta. Cinta yang Rangga. Penulis semacam membuat sekuel Ada Apa dengan Cinta tapi dalam cerita yang sangat pendek. Bisa banget ya dia membuat cerita super pendek sekuel sebuah film ngetop yang cukup panjang. Sampai dia juga bisa menyebutkan ke mana Milly, Carmen, Alya dan Maura. Saya sampai tergelak pas bacanya.

Kita juga bisa ketemu sama Fira Putri Indriyani. Bapaknya seorang superhero, tapi seragamnya nggak hitam kayak batman, tapi berseragam putih. Mirip Avenger, pasukannya banyak, temannya banyak. Ternyata superhero kalau berantem rame-rame. Somehow, saya menangkap arti ‘satir’ dari cerita satu ini. Mengingatkan kita akan pasukan seragam putih, yang serius banget mengalangi datangnya Lady Gaga 😆

Paling lucu sih, Wira Candra Perunggu. Really… really love the idea! 😀

Nama-nama karakternya juga lucu-lucu, Budi Putra Bangsa, Dua Diandra, Halo Harrison, tapi juga ada yang terlalu maksa kayak Korea Kunanti 😆 not sure if ini benar-benar nama karakter seperti yang lain sih kalo liat ceritanya 😀 Ada juga Opera Mustika.

Anyway. Layoutnya sih menarik ya. Ada beberapa ilustrasi yang menghias beberapa halamannya. Ada beberapa halaman yang diwarna hijau. Tapi, mmm, somehow, malah jadi ga kebaca kalo pas malam -___-“ karena warna hijaunya cukup tua, dan font-nya pake warna hitam. Jadi, bener-bener deh ada yang ga kebaca 😦

Selain itu, ada inkonsistensi nama karakter. Judulnya Emmy Martie, tapi di ceritanya namanya Juni. Judulnya Ilana, tapi dalam cerita jadi Liana. Hartono, jadi Rinto. Dari Fira jadi Stefani. Ada banyak typo juga menghiasi, yang jadi makin mengganggu ketika mendekati akhir.

Yang menarik lagi, cara bercerita Tulus yang saaaaangat khas. Seperti bukan bahasa literasi, bukan gaya bahasa karya tulis. Bukan gaya bahasa sastra tulis. Dia malah semacam membawa gaya bahasa dongeng lisan ke dalam tulisan. Pantes dia menyebut dirinya sendiri sebagai ‘pendongeng’ instead of penulis 😀 Dia tak terlalu pusing dengan struktur kalimat yang SPOK, malah kadang dia bikin KOPS. Dibolak-balik. Tapi anehnya, tetap nyaman banget dibaca. Kadang terasa seperti kita sedang diceritain secara lisan. Membuat ceritanya, meski miris, jadi terasa ringan.

Quotes

Tak seperti biasanya kalo saya lagi baca kumpulan cerpen yang jarang banget menemukan quotes keren, saya banyak banget menemukan quotes menarik dalam buku ini.

Patah hati itu lebih berharga dari tidak tersambung sama sekali. Jadi jangan menangis, karena kamu tidak pernah benar-benar merugi. (hal. 9)

Bye-bye diet, lagi ngangkat barbel galau 20 kg nih soalnya. (hal. 38)

Menulis itu seperti bercerita, berkelana, dan bersahabat dengan diam. (hal. 97)

Bayangkan saja wajah mirip Kasino berambut panjang plus bedak setebal semangat perjuangan. (hal. 127)

Sepi itu lampu disko, sendiri itu lantai dansa. (hal. 139)

Selamat jalan, Ayah. Baik-baiik ya di surga. Jangan centil sama bidadari, masih ada Ibu di sini. (hal. 205)

Remah-remah nastar yang mudah hancur berserakan. Kayak hati. (hal 214)

Seandainya semua kesalahan typo dan kesalahan nama, yang sangat mengganggu itu diperbaiki, bisa jadi empat bintang tuh 😉

Tiga setengah dari lima bintang.

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s