Twiries – The Freaky Twins Diaries

Judul: Twiries – The Freaky Twins Diaries
Penulis: Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki
Editor: Ainini
Komik dan Ilustrator: Zamal Matian
Inker: Anton Gustian
Desainer Cover: Ann_Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de TEENS

Blurb

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu.
“Nah, kalau mata Evi itu belo-belo sipit. Kalau saya sipit-sipit belo,” jawab Eva dengan bersemangat.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang keseratus tujuh.
“Evi belo, Eva sipit,” jawab Evi.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang ketiga ribu tiga puluh dua.
“Belo, sipit,” kata kami dengan muka datar dan memberi jawaban yang tidak menjelaskan sama sekali.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu juta delapan ratus ribu empat puluh sembilan.
Menyipitkan mata. “…”

Hal-hal yang membuatmu penasaran sama si kembar, seperti, “Mereka pernah bertukar sekolah?” “Pernah bertukar pacar?” “Atau punya telepati?”.

Temukan jawabannya di buku ini.

Review

Pertama kali ngeliat bakal calon buku ini adalah pas saya pertama kalinya ketemu dengan My Fav Twins, Teh Eva Evi, sekitar 2 bulan yang lalu. Saat itu Teh Eva Evi lagi main-main ke Jogja, dan ikutan acara dari salah satu penerbit Jogja yang bertempat di salah satu kafe di daerah Babarsari. Dan iya, saya menyambangi mereka berdua di sana, menembus hujan badai dan udara dingin yang begitu menggigit. Halah, lebay detected, abaikan!

Pas udah ketemu, udah cipika cipiki, udah peluk-pelukan, saya pun tertarik dengan secarik kertas cover yang tergeletak di atas meja di hadapan saya. “Ini cover buku baru?” tanya saya sembari mengambil kertas tersebut. Warnanya ijooooo buanget hingga mencolok mata πŸ˜† jadi udah pasti “mengganggu” saya untuk kepo lebih lanjut. “Iya,” jawab Teh Eva. Dan akhirnya saya pun melihat-lihat calon cover tersebut dengan penuh minatnya. Heuuuuu… ternyata buku model personal literature. Buku bergenre begini yang sudah terkenal, apa lagi kalo bukan buku-bukunya Raditya Dika semacam Kambing Jantan atau Cinta Brontosaurus.

Yang bikin buku ini unik, tentu saja, karena ngebahas kehidupan penulisnya, yang kembar. Tentang gimana kehidupan mereka sebagai kembar, gimana kompaknya mereka ngerjain orang, apa yang menjadi twin miracle curse, apa yang menjadi twin miracle bless πŸ˜€ … dan tentu saja, pertanyaan-pertanyaan wajib yang selalu mereka dapatkan dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Dan haduh, setelah saya membaca buku ini lebih lanjut, saya jadi jengah, dan ga enak sendiri. Karena pertanyaan-pertanyaan sejuta umat yang biasa ditanyakan orang pada sepasang kembar seperti Teh Eva Evi ini kemarin saya juga tanyain -___-“. Dan pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  • Kakaknya yang mana, Teh Eva atau Teh Evi?
  • Suka ribut nggak sih?
  • Beda fisiknya di mana aja? *kayak saya nggak bisa liat sendiri*
  • Enak ya, selalu ada temen di mana-mana.

Untuuuuuuuuuuung, saya ndak nanya, pacarnya suka tukeran atau ketuker ngga? Hadeh. Karena buat saya, itu pertanyaan emang konyol banget sih πŸ˜† Jadi gini, kalo orang tersayang ya masa iya sih bisa ketuker. Chemistry pasti beda lah ya. Tanya aja sama ibu si kembar. Mau persis kayak apa, sang ibu pasti ndak pernah ketuker. Iya kan? Nah, kalo pacar sampe ketuker, wew, perlu dipertanyakan tuh kadar cintanya πŸ˜† huahahahaha… *mulai OOT* Saya yang baru pertama liat aja, langsung bisa ngebedain, masa pacar ga bisa ngebedain. Wkwkwk…

Mari kita kembali ke buku ini…

Baca buku ini, hati-hati, bisa nyengir sendirian. Kalo menurut ceritanya, Teh Evi kayaknya agak kesulitan ya menulis buku ini. Eh nggak ding, dua-duanya sepertinya agak kesulitan. Kesulitannya adalah menyeimbangkan dua gaya menulis. Wow. Saya tadinya mikir, karena kembar, dan dua-duanya penulis, saya pikir akan jadi perkara mudah buat mereka untuk menulis buku genre begini. Atuhlah, mereka kan kembar, pasti punya chemistri yang udah pas dong buat duet. Kalo kayak saya misal, mau duet nulis cerita, biasanya butuh waktu panjang di memadukan chemistri sama pasangan duet saya. Kembar mustinya kan udah biasa duet di berbagai macam hal kan? πŸ˜†

Tapi ternyata enggak lho. Kalo baca ceritanya, awal buku ini gaya bahasanya njomplang banget. Teh Eva dengan gaya cerita ringan mengalir dan lucunya. Teh Evi yang lebih satir, filosofis dan mungkin agak gelap πŸ˜€ *ngebayangin flashfiction-flashfictionnya Teh Evi*

… dan.. Aaaaaaakkk!!! Baru nyadar ada nama saya di halaman terima kasih. Itu nama saya kan? Carra yang saya kan? Ada berapa nama Carra yang Teh Eva Evi kenal ya, btw? *takut ke ge er an* Pertama kalinya ada nama sendiri di buku orang T___T saya jadi lumer meleleh. Huhuhu… *peluuuuuuuuukkk*

Buku ini menjadi buku yang ringan, lucu dan renyah. Cocok dibaca dan dibawa selama liburan kayak begini. Karena bacanya, tentu saja, dengan santai. Ga perlu mikir terlalu berat. Dan yang pasti, awas, bisa bikin cengar cengir sendiri :mrgreen:

Tiga dari lima bintang.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. selamat lebaran..mohon maaf lahir batin,
    keep happy blogging always..salam dari Makassar πŸ™‚

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s