Confessions of a Shopaholic – Modern Day Fairy Tale

Confessions of a Shopaholic

Judul: Confessions of a Shopaholic – Pengakuan si Gila Belanja
Penulis: Sophie Kinsella
Alih bahasa: Ade Dina Sigarlaki
Tebal: 472 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaanya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan… berbelanja.

Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat taguhan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu … sesuatu untuk dirinya sendiri …

Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya –selamanya.

Review

Warning: kalau belum baca buku ini, sebaiknya skip aja review ini, karena mengandung banyak spoiler.

Yes, saya bukannya mau promosiin buku ini, karena memang buku kayak begini mah nggak usah dipromosiin 😆 Bukan apa-apa, lebih karena ini buku udah cukup lawas dan cukup best-seller. Jadi kayaknya emang saya yang telat banget pengin baca buku ini 😀 So, di sini, saya akan membebaskan diri sendiri mereview dengan cara apapun sekehendak saya, termasuk ngasih spoiler.

Saya akui saya telat banget saat timbul niat pengin baca beginian. Terus terang, genre beginian sih bukan genre saya banget, meski ada beberapa buku chicklit begini sempat saya baca, dan bahkan bisa dibilang, saya suka beberapa di antaranya. Tapi semua diawali dari racun yang disebarkan oleh Bu Boss, dan juga Mbak Editor itu, yang keduanya ternyata ngefans dengan Sophie Kinsella, maka saat saya melihat tumpukan novel ini, dan novel sejenis, di obralan Gramedia, maka akhirnya … I grabbed the books 😆

Anyway. Jadi begini ceritanya -seenggaknya versi saya-…

Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan, mid 20-es I guess, bernama Rebecca Bloomwood. Sophie Kinsella berusaha mengangkat banyak ironi dalam kehidupan Rebecca. Seperti, Becky ini adalah seorang jurnalis keuangan. Logika yang akhirnya timbul dalam benak kita, tentunya, adalah pasti Becky ini pintar banget di bidang financial. Minimal, dia tahu bagaimana mempraktikkan semua yang diketahuinya selama menulis artikel keuangan itu. Karena, dengan menulis, biasanya orang akan sekaligus belajar tentang sesuatu. Sahih?

Tapiiii… Ternyata enggak! Becky ini sakit. Dia gila. Kejiwaannya terganggu. 😆 Kenapa saya bilang begitu? Karena saya sama sekali nggak habis pikir. Gimana dia, seorang Becky, wartawan keuangan, tapi sama sekali nggak bisa mengatur keuangan pribadinya sendiri, nggak bisa mengendalikan nafsu belanjanya, dan tetap saja berbelanja dengan kartu-kartu kredit sampai ngutang beratus-ratus poundsterling. Terbelit utang di sana sini, nggak membuatnya berpikir ulang saat dia mulai berbelanja. Tetep aja gesek sana gesek sini. Dan menemukan seribu satu excuses membenarkan tindakannya itu.

Contoh nih. Becky pada akhirnya mengerti, bahwa dia sudah kebanyakan belanja. Ada dua jalan sebenernya, yang bisa membantunya mengatasi ‘penyakit’nya itu; Kurangi Belanja atau Tambah Penghasilan. Maka, dia pun memutuskan mencoba jalan yang pertama. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Dia mau sih bikin kopi sendiri instead of beli kopi dalam gelas plastik yang lebih mahal. Tapi, tentunya, dia harus membeli dulu termos kopi yang bagus. Dia juga mau masak sendiri, tapi tentunya, dia harus membeli dulu alat-alat masak yang bagus. Dia mau masak kari sendiri, tapi karinya kepedesan, dan akhirnya cuma dianggurin, padahal sudah banyak juga bahan yang terbuang karena yaaaa, namanya first time masaknya trial and error gitu 😆

Dan terus terang, saya GREGETAN, sodara-sodara. Saya nggak habis pikir, karena kecanduan belanjanya ini, bisa mengubah seseorang menjadi begitu ignorant, begitu nggak jujurnya, begitu bodoh, begitu … ARGH! Dia boongin bossnya, sahabatnya, bahkan juga orang tuanya. Semua demi keselamatan diri sendiri dan pencitraannya. Bener-bener perempuan egois dah 😆

Saya jadi kepikiran juga sih. I mean, ini ‘cuma’ kecanduan belanja. Yang seharusnya nggak membahayakan jiwa, ha kalau kecanduannya ke narkoba? Ke alkohol? Ke rokok? Aduh banget kan? Kebayang efeknya kayak gimana. Ini kecanduan belanja ‘saja’, bisa sampai sebegininya.

Saking gregetannya, saya sampai males ngelanjutin baca pas sampai di pertengahan loh. Sumpah, emosi hahahaha… Tapi setelah ditekad-tekadin, akhirnya mulai dari sepertiga buku sampai ke ending, bisa saya selesaikan dalam satu jam sahaja. Padahal dari awal sampai ke sepertiga, aiiiihhhh, sampe berhari-hari gini 😆

How did You Experience the Book?

Jujur, saya agak terganggu dengan bahasa terjemahan kayak begini. Nggak tahu deh, dulu perasaan saya malah lebih nyaman baca buku terjemahan, macam Sidney Sheldon, John Grisham, Mario Puzo, Agatha Cristie… Kok sekarang lain ya, rasa bacanya? 😐 Atau kebawa genre? Entahlah. Terlalu banyak bahasa terjemahan yang terbawa. Contoh, banyak sekali kata ‘maksudku’. Saya bisa ngebayangin sih sebenernya, bahwa orang barat suka bilang “I mean…” yang kemudian diterjemahkan menjadi “maksudku…”. Tapi kayak nggak masuk gitu, kalo diterjemahkan bulet-bulet ke dalam bahasa Indonesia. Karena kebiasaan orang sini nggak gitu ngomongnya. Ah, gimana sih, cara ngejelasinnya? 😆 Pokoknya gitu deh.

Saya juga nggak terlalu tertarik dan peduli dengan topik keuangan, sebenernya. Jadi saya nggak merasakan curiousity saat membaca seluk beluk pekerjaan Becky. Ditambah lagi, saya sebel dengan betapa ignorant-nya dia terhadap pekerjaannya.

Padahal ketika sampai di ending, dia akhirnya juga nyadar sih. Bahwa ternyata tak ada yang sia-sia selama waktu dia bekerja menjadi jurnalis itu. Dia jadi banyak belajar sesuatu, yang kemudian dia rasakan sendiri hasilnya nanti.

Meski saya bisa ngebut di ending, tapi entahlah saya merasa semacam ‘kosong’ gitu di ending. Iya sih, Becky lantas mendapatkan pekerjaan. Iya sih, Becky lantas bisa dapat uang untuk melunasi utang-utangnya. Iya sih, Becky lantas bisa menemui orang bank yang selama ini mengejar-ngejarnya untuk nagih. Iya sih, Becky terus pacaran sama Luke Brandon…

Tapi, dengan semua kesulitan di depan, kok ya menggelindingnya gitu amat yak. Tahu-tahu dia disewa televisi untuk menjadi narsum tetap. Tiba-tiba dia sudah nggak nafsu lagi belanja, saat diajak Suze sahabatnya. Tahu-tahu aja dia udah di hotel sama Luke Brandon. 😐

Oiya, perihal dia akhirnya sama Luke Brandon, itulah yang bikin saya makin mantap kasih judul “Modern Day Fairy Tale” di review ini 😆 Luke Brandon, si pangeran, tadinya digambarkan tak tersentuh. Tapi tiba-tiba saja sudah ngajak Becky nginep di hotel 😛

Btw, bukunya sendiri, fisiknya juga nggak terlalu bagus euy 😐 … kertasnya buram abes. Dibaliknya licin. Jadi kadang maunya balik satu halaman, jadinya dua halaman kebalik. Sekali dua kali yaaaa okelah. Tapi kalo terus-terusan gitu? Ngggg…

Tapi overall, sebenernya tetap ada pesan moral dalam buku ini. Setiap kali proses hidup terlampaui, kamu ternyata sudah belajar sesuatu. Jadi, nikmatilah tiap tahapannya. 😀

Dua setengah dari lima bintang.

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. mak irul says:

    Sdh nonton filmnya…hehehe…tp yg ginian memang bkn genre sy jg…;)

    Like

    1. @RedCarra says:

      Aku baru baca, dan belum nonton filmnya.
      Hadeh ,___, kudet sekali…

      Makasih Mbak Irul sudah mampir 😀

      Like

  2. Jadi penasaran baca buku. Pengen mengenal karakter becky,pengen mengetahui ending yang terasa “kosong” atau hampa . Hmhmhm semoga masih ada di toko buku.

    Like

  3. menik says:

    untung aku lebih dulu lihat film-nya mbak, gregetan banget ama si Becky nih hahaha
    tapi aku gak mau baca bukunya ah, takut kecewa hehehe

    Like

  4. Iya mak, pilemnya udah pernah tayang di Global TV, kalo ga salah. Agak2 absurd emang, tapi lumayan laaah… kalo bukunya aku blum baca.

    Like

  5. Ruri says:

    saya belum pernah baca bukunya, mbak, tapi menilik resensi mbak kayaknya bagusan filmnya deh (udah nonton) , hehe. ngikik ngeliat panjangnya deretan kartu kredit di dompetnya Becky, tapi limitnya pada abis semua, qiqiqi..

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s