Drama itu Berkisah Terlalu Jauh

10660279_10152785256330489_2596603211795156512_nJudul: Drama itu Berkisah Terlalu Jauh
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Arman Dhani
Tata Letak: Nur Afandi
Desain Sampul: Hariz Irfan
Tebal: xiii + 184 halaman
ISBN: 978-602-1318-05-8
Penerbit: EA Books

Blurb

Ada yang janggal, ketika orang hilang, pembantaian, pembunuhan misterius dan penindasan kaum minoritas di sebuah negara begitu saja dilupakan. Kejahatan manusia seperti sebuah tren yang telah berlalu. Konon Reformasi membawa kita ke sebuah zaman keterbukaan. Dan di sini kita sering mendengar slogan serta kampanye melawan lupa, menolak lupa, menolak bungkam, dan sebagainya. Tapi sedikit sekali yang bisa menjelaskan, sebenarnya apa yang kita tolak dan siapa yang kita lawan?

Jargon, slogan dan pamflet lantas hanya berhenti pada sekadar usaha merayakan sesuatu yang berulang sebulan sekali atau setahun sekali. Kemudian lantas diam untuk hati-hati setelahnya. Lewat buku ini, Puthut EA menjadi juru bicara bagi korban, manusia yang dikalahkan lantas dipaksa menyerah. Namun jangan berhadap ada heroisme di sini. Kisah-kisah ini hanya fiksi, hanya kisah ‘kebohongan’ dari kebenaran yang dilupakan.

Review

Akhirnya saya baca bukunya Puthut EA, setelah beberapa lama cuma ngelayanin pembeli-pembeli 😆 Iya, ini buku yang saya jual, tapi saya belum baca. Ini buku pertama Puthut EA yang saya baca, sudah mengantri di belakang adalah Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta dan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali.

So, jadi gimana nih kesannya? Let’s see 😀

Buku kumpulan cerpen ini berisi 15 cerita. Mereka adalah:

  1. Drama itu Berkisah Terlalu Jauh
  2. Berburu Beruang
  3. Orang Terakhir yang Ditunggu
  4. Koh Su
  5. Doa yang Menakutkan
  6. Anak-anak yang Terampas
  7. Mas Marga
  8. BAPA
  9. Retakan Kisah
  10. Perempuan Tanpa Nama
  11. Bocah-bocah Berseragam Biru Laut
  12. Galeri Monster
  13. Ibu Pergi ke Laut
  14. Sebuah Peristiwa tentang Kematian
  15. Sisa Badai di Sepasang Mata

Yep, 15 cerita yang kesemuanya menceritakan tentang penyakit. Penyakit manusia, penyakit masyarakat dan penyakit negara. Kesemuanya tetang drama tragedi, tentang hal-hal yang pengin disimpan rapi dan rapat tapi somehow, baunya menguar ke mana-mana. Namun meski semua tragedi, cara berceritanya sama sekali tak gelap atau surealis, seperti yang sering kita temui di cerpen-cerpen Agus Noor misalnya.

Dari ke-15 cerita, saya mau ambil 3 cerita aja deh buat saya review.

Yang pertama adalah Berburu Beruang. Cerita tentang seorang pria yang menolak lupa mengenai luka-luka yang sudah ditorehkan oleh negeri, dan pria lain yang ketiban sampur untuk mengurusinya. Dibuka dengan adegan perburuan beruang di kebun. Hah? Beruang di kebun? Iya, beruangnya berada di antara pohon pisang dan gerumbul-gerumbul dedaunan 😆 Kok bisa? Iya, bisa. Bahkan visualisasi adegan perburuannya begitu nyata dalam benak saya sebagai pembaca. Saya jadi ikut berburu 😆 Beruangnya tertangkap kah? Iya, beruangnya terkalahkan, dan dikubur 😀 Cerita ini cerita psikologis, menurut saya. Ada fragmen mengenai penyakit kejiwaan di dalamnya. Namun, tak semata-mata membuat kita miris. Malah kita jadi mengerti alur pikiran seseorang yang menolak untuk berpikir wajar, sewajarnya manusia biasa.

Cerpen kedua, yang menarik menurut saya, adalah BAPA. Membacanya semacam membaca The Godfather, atau Omerta 😆 Iya, Mario Puzo banget, mafioso banget. Sekelompok manusia dalam lingkaran kekuasaan absolut. Masing-masing orang diutus untuk memegang satu kerajaan bisnis, ada rumah sakit, ada pertambangan, hotel, restoran dan lain-lain. Juga ada bisnis rahasia yang menyokong kerajaan kecil itu paling besar secara financial, yaitu bisnis narkotika dan bisnis senjata. Si “Aku” adalah seorang dokter, karena itu dia dipercaya untuk memegang bisnis rumah sakit. Somehow, tiba-tiba muncullah konflik dalam lingkaran ini. Seseorang yang dianggap ‘berkhianat’, dan kemudian harus dihilangkan jejaknya. Wuw, khas Italiano banget! Tapi membacanya, saya tak semata seperti sedang membaca The Last Don, misalnya. Alih-alih, saya malah teringat akan sosok orang tua yang pernah berjaya di negeri ini, menguasai semua aspek negeri dari A hingga Z, menanamkan orang-orang kepercayaannya (dan juga anak-anaknya) di berbagi tempat strategi. Membangun kerajaannya di dalam sebuah negara. Oh ya, BAPA mengingatkan saya akan orang tua tersebut 🙂

Cerpen ketiga, yang cakep banget, adalah Ibu Pergi ke Laut. Tentang kesedihan anak yang ditinggal pergi ibunya. Sebenarnya, idenya tak baru. Tapi saya suka banget penggal adegan yang ini.

“Mbak, kalau ibu membalas suratku lewat apa?”

Mbak Memi diam. Kemudian ia menjawab, “Lewat hujan, Dinda.”

“Kenapa lewat hujan?”

“Kata Bu Guru, hujan itu berasal dari air yang menguap. Air di laut, di danau, di sungai, menguap karena panas matahari. Uap itu lalu berkumpul menjadi awan, dan kemudian turun menjadi hujan.”

Aku bingung. Tapi itu tidak penting. ” Lalu surat ibuku ikut turun bersama hujan, ya?”

Mbak Memi kembali diam. “Mungkin, Dinda. Tapi coba kamu tanya pada ayahmu nanti.”

Aku tersenyum lega. Aku membayangkan alangkah indahnya. Surat dari ibuku naik ke langit, lalu ada di dalam awan, dan kemudian turun bersama hujan ke rumahku. Mungkin akan tertempel di daun, mungkin akan tertempel di jendela, mungkin juga ada di pagar rumah.

Snap! Fyuh!!

Well, tapi tetep aja yang saya ga suka. Iya, selalu ada ya, meski ditulis sama penulis yang senior 😆 Ga sih, kadang sayanya yang ga ngerti. Yang ini juga kayaknya saya yang nggak ngerti sih. Galeri Monster, menurut saya, kok kayak esai ya 😐 Kalau di Prakata yang ditulis oleh Penyunting disebutkan, Galeri Monster merupakan metafora negeri yang sakit. Secara surealis Puthut menjadikannya sebagai penggambaran kondisi masyarakat Indonesia pada Orde Baru. Kisah ini merupakan bukti bahwa untuk bicara tentang sebuah rezim, tak perlu menuliskan berapa represifnya sebuah rezim, namun bisa menghadirkan sebuah alegori atas kekuasaan yang begitu mutlak.

Nah, artinya apa ya? 😆 Saya nggak ngerti hahahahaha…

Sayang banget, typo betebaran di berbagai tempat hingga sampai pada taraf annoying. Mungkin penyuntingnya memang tak fokus ke memperbaiki EYD dan typo ya? Entahlah. Cukup parah soalnya. Di beberapa bagian dalam cerpen-cerpennya kok juga terbaca terlalu membosankan ya, karena terlalu telling. Paling parah di Drama itu Berkisah Terlalu Jauh, menurut saya. Saya bacanya pokerface banget. Padahal menjadi cerpen pembuka. Oh well…

Saya kasih 3 bintang dari 5 bintang yang saya punya. Padahal bisa saja saya kasih empat, sebenernya.

 

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s