Koloid – Dia Seperti Sedang Menciptakan Kami

10310670_10152792138005489_5090916688825693411_nJudul: Koloid – Dia seperti sedang menciptakan kami
Penulis: Pringadi Abdi Surya dkk.
Tebal: viii + 84 halaman
ISBN: 9786029631500
Penerbit: Sokobuku

Blurb

Kita memahami manusia sebagai pelaku. Tetapi kumpulan cerpen ini justru manusia.sebagai korban. Dari manusia dan khayalnya. Manusia dan kasur. Manusia dan setan di kepalanya. Tiga manusia menjelma garpu. Manusia dan roda nasib. Sampai rentetan-rentetan kematian.

Review

Cerita pendek memiliki.daya pikat tersendiri. Selain dapat dinikmati seperdudukan, cerpen juga mampu memotret beberapa sisi kehidupan setiap tokoh dan pikirannya. Pun perasaannya. Di sinilah, cerpen menjadi penyampai pesan yang tepat. (Pengantar Penerbit)

Banyak yang heran pada saya, pada kegemaran saya memburu buku kumpulan cerpen. Bahkan saya dianggap aneh karena saya lebih suka cerpen ketimbang novel. Hahahaha, saya memang lebih menikmati membaca kumpulan cerpen karena ya itu, pendek-pendek. Nggak terlalu mengikat saya untuk duduk membaca dalam jangka waktu terlalu lama.

Enough about me. Saya memang cuma mengamini kata pengantar penerbit itu aja sih ­čść

Kumpulan Cerpen Koloid ini merupakan kumpulan para penulis dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang memiliki daya jelajah yang sangat menawan. Banyak kisah yang menarik untuk dinikmati.

Ada 9 cerita pendek dalam buku ini, yaitu:

  1. Bila Mata Ayah Merah
  2.  Setan di Kepala Ibu
  3. Bulan Biru
  4. Tentang Bau dan Larutan Aku
  5. Adamantine
  6. Garpu
  7. Boneka Neraka
  8. Ziarah
  9. Kasur

Jujur, saya nggak menyangka menemukan dua  nama yang cukup terkenal ini di sini, yaitu Pringadi Abdi Surya dan Norman Pasaribu, yang kemarin baru aja saya temukan namanya dalam pengumuman nominasi penerima Khatulistiwa Literary Award tahun ini.

Anyway, saat saya tak menemukan nama editor dalam credit title, maka kemudian saya semacam menyiapkan diri akan menemukan ketidakrapian, typo dan permasalahan EYD lainnya. Dan emang benar, typo bertebaran di sepanjang buku.

Tapi, itu tak mengurangi kualitas cerita secara keseluruhan. Setidaknya ada 3 cerita yang menarik perhatian saya, seperti biasa ­čśÇ

Yang pertama adalah Bila Mata Ayah Merah, karya Ambar Permana. Cerita tentang seorang anak yang dibayangi ketakutan pada sang Ayah. Cerpen ini banyak mengulas sisi psikologis seorang anak yang mengalami abuse oleh orangtuanya sendiri. Namun di akhir cerita, ada alasan memang kenapa sang Ayah melakukan abusing. Dan di akhir cerita pula sang Ayah akhirnya ‘menyelamatkan’ si anak meski dengan cara tragis.

Cerita kedua yang menarik adalah Setan di Kepala Ibu karya Pringadi Abdi Surya. Sekilas lagi-lagi mengingatkan saya pada cerpen Avianty Armand ­čść tapi ga ding! Ini beda. Si tokoh mengaku melihat ┬ásetan yang menguasai ibunya, tapi sebenarnya ini hanya ada di pikirannya.

Cerpen yang lain, yang unik adalah Kasur. Iya, ini emang tentang kasur. Bukan lagi bicara secara metafora. Tapi benar-benar ngomongin kasur, tempat kita tidur. Apa istimewanya kasur hingga bisa jadi cerpen? Ternyata kasur ini emang istimewa sih. Hehehe. Cerpen Kasur ini ditulis oleh  Satria Anggaprana.

Di antara cerpen-cerpen ini ada satu cerpen yang ditulis dalam bahasa Inggris. Judulnya Adamantine. Saya ga berani ngulas apa-apa, karena keterbatasan saya akan English Literary. Jadi saya memang pass bacanya.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Lidya says:

    tiga aja menarik berarti yang lainnya juga menarik pastinya ya mbak

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s