Kartu-kartu di Meja

10846377_10152894348705489_4626513020269942544_nJudul: Kartu-kartu di Meja
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.
Tebal: 352 halaman
ISBN: 979-605-041-2
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Mr. Shaitana tidak hanya mengumpulkan tabung-tabung inhaler, barang-barang antik dari Mesir, tapi juga pembunuh-pembunuh. Bukan pembunuh yang sudah tertangkap (kalau perlu yang kelas dua), tapi pembunuh-pembunuh yang berhasil lolos. Diundangkan Hercule Poirot untuk dipertemukan dengan koleksinya itu.

Sebelum malam berakhir, sang kolektor menjadi mayat–ditikam oleh salah seorang pembunuh yang dipamerkannya.

Jalan Cerita

Buku ini merupakan salah satu buku Agatha Christie dengan Hercule Poirot sebagai tokoh detektif utamanya yang masuk ke perburuan saya.

Cerita dibuka dengan pertemuan dan perkenalan Hercule Poirot dan Mr. Shaitana dalam suatu pameran di London. Shaitana memamerkan salah satu koleksi anehnya dalam pameran itu. Setelah berbincang-bincang sejenak, Shaitana mengaku mempunyai koleksi luar biasa lainnya, yaitu koleksi pembunuh. Bukan sekadar pembunuh, namun pembunuh-pembunuh nomor satu artinya pembunuh-pembunuh yang tak pernah tertangkap. Poirot agak terganggu dengan gagasan Shaitana ini, hingga kemudian Shaitana mengundang Poirot hadir dalam pestanya.

Pesta itu dihadiri oleh delapan orang. Lucunya, empat orang pertama adalah Kolonel Race, Inspektur Battle, Ariadne Oliver dan Poirot, adalah orang-orang yang banyak mengungkap pembunuhan. Sedangkan empat orang yang lain, adalah Dr. Roberts, Nyonya Lorrimer, Mayor Despard dan Meredith Jane, yang diduga kesemuanya pernah melakukan pembunuhan, tapi tak satupun yang didakwakan.

Makan malam bersama itu sebenarnya biasa aja, hingga suatu saat Shaitana mengatakan sesuatu yang diduga membangkitkan “kecemasan” seseorang. Makan malam selesai, kemudian dilanjutkan dengan permainan bridge. Empat pasang dalam dua permainan. Selagi kedelapan orang asyik bermain, salah satunya telah membunuh Shaitana.

Review

Well, what can I say? 😀 Agatha Christie sudah tak perlu lagi dibahas kepiawaiannya meramu cerita detektif. Dari sekian puluh novel, saya sudah membaca entah berapa persennya. Namun, yes, nggak semua memang memuaskan. Cerita ini adalah salah satu yang kurang memuaskan saya.

Pertama, banyaknya istilah dan teknik-teknik bridge mewarnai hampir seluruh jalan cerita. Saya agak-agak lost karena saya nggak bisa main bridge, jadi saya susah ngebayanginnya. Apalagi Poirot memang fokus banget dengan jalan permainan bridge, hingga ia menanyakan jalan permainan ini kepada siapa saja yang diinterview-nya. Meski pada akhir cerita, memang, Poirot menganalisa para tersangka secara psikologis melalui jalan permainan bridge ini. Menarik? Banget!

Kedua, adanya lost setting waktu saat pengungkapan akhir. Saat Dr. Roberts meletakkan surat-surat Mrs. Lorrimer di meja yg kemudian diposkan oleh pelayan Mrs. Lorrimer dengan waktu kedatangannya ke rumah Mrs. Lorrimer pagi itu, lalu memberikan “pertolongan” saat Mrs. Lorrimer sekarat. Semacam selip waktunya gitu. Dr. Roberts datang, meletakkan surat di meja lalu lari ke atas ke kamar Mrs. Lorrimer. Pelayan membawa surat itu ke pos untuk dikirimkan. Sedangkan Dr Roberts mengaku datang ke rumah Mrs. Lorrimer setelah menerima surat. Hmmmm… kayak nggak ketemu ya waktunya. Well, kalo ada yang bisa menjelaskan pada saya tentang ketidakcocokan waktu kedatangan Dr. Roberts di atas hingga masuk ke akal saya, dengan senang hati akan menambah rating deh 😆

But yeah, novel ini bikin saya CLBK sama Agatha Christie. Saya masih menyimpan dua lagi novel Agatha Christie di timbunan. Can’t wait to read them 😀

Rating

Dua dari lima bintang, karena ketidakcocokan waktu itu tadi 😀

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s