Little Stories

10382979_10152962960600489_5712068355267545370_nJudul: Little Stories
Penulis: Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody dan Rieke Saraswati
Desain Sampul: Staven Andersen
ISBN: 978-602-03-0190-7
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Kumpulan cerpen ini ditulis oleh lima perempuan muda yang bersemangat untuk menulis fiksi secara baik dan benar. Di bawah bimbingan Maggie Tiojakin; Adeste Adipriyanti, Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Faye Yolody, dan Rieke Saraswati, menjalani kursus menulis kreatif selama delapan minggu.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian sesuai kategori latihan. Menulis cerita pendek bertema kuliner dan demonstrasi, menulis cerpen berbasis prompter (kalimat awalan yang telah ditentukan), serta menulis cerpen bertema bebas.

Little Stories bisa menjadi bahan pembelajaran untuk mereka yang memiliki keinginan untuk belajar menulis kreatif. Tapi jangan membayangkan kumpulan cerpen ditulis seperti buku panduan, setiap cerita pendek di sini menyuguhkan kenikmatan pada pembaca dengan caranya sendiri. Ada kisah yang menggugah haru, ada yang membangkitkan kengerian, dan tentunya ada cinta dan rasa manis yang menyisakan keinginan untuk membaca lebih banyak.

Review

Saya ingat gimana hebohnya Orin saat dia lagi galau memilih cover buku ini. Yaya, tiba-tiba saja inbox FB saya penuh dengan celotehannya 😆 Ngepasi banget waktu itu saya juga lagi ngegarap desain cover untuk buku Blogger Punya Mimpi yang sedang digarapnya. Ada beberapa alternatif desain saat itu yang diperlihatkan Orin pada saya. Dan, ah, saya lupa saya milih yang mana. Ah, itu nggak penting sih. Bagian yang penting adalah saat itulah saya tahu Orin sedang in-project bareng Maggie Tiojakin.

Yes, saudara-saudara, Maggie Tiojakin! Siapa sih yang ga kenal beliau? Fiksi Lotusnya pasti sudah kamu tahu deh. Webnya penuh dengan cerpen-cerpen tingkat dunia yang diterjemahkannya dengan apik.

Baiklah, karena ini seharusnya menjadi sebuah book review, maka mari kita fokus ke review ya.

Catatan pertama saya adalah di blurb. Saya masih nggak ngerti kenapa sering banget saya liat blurb yang nggak menggambarkan isi buku, dan justru ini malah dilakukan oleh penerbit-penerbit besar. Apakah ini strategi marketing? Entahlah. Karena saya pribadi selalu membaca blurb lebih dulu sebelum memutuskan mau membeli buku atau nggak. Buku ini, jujur, kalau bukan karena Rinrin Indrianie dan Maggie Tiojakin, entah bakalan saya beli atau enggak DENGAN blurb seperti ini. Buku hasil belajar menulis? Hmmm, sepertinya saya lebih tertarik buku kumpulan cerpen yang bukan hasil belajar sih :mrgreen:

Buku ini terbagi atas empat bab yang dipisahkan berdasar tema besar tulisan, yaitu tema kuliner, prompter, demonstrasi dan tema bebas.

Daftar isinya adalah sebagai berikut:

Tema Kuliner
1. Gohu Buat Ina – Vera Mensana
2. Bakcang Terakhir – Faye Yolody
3. Brongkos Mertua – Adeste Adipriyanti
4. Sup Suzie – Rieke Saraswati
5. Semangkuk Baso Tahu – Rinrin Indrianie

Tema Prompter
1. Pisau – Rieke Saraswati
2. Lemparkan Saja ke Sungai – Vera Mensana
3. Melankolia – Adeste Adipriyanti
4. Sang Ilalang – Rinrin Indrianie
5. Serunya Membunuh Orang Gila – Faye Yolody

Tema Demonstrasi
1. Teror di Kaki Bukit – Adeste Adipriyanti
2. Menunggu Ayah – Rinrin Indrianie
3. Surat yang Tak Pernah Selesai – Rieke Saraswati
4. Aparat – Faye Yolody
5. Firasat Sang Ayah – Vera Mensana

Tema Bebas
1. Nama untuk Raka – Rinrin Indrianie
2. Berdua Saja – Vera Mensana
3. Pasien – Rieke Saraswati
4. Lorong – Faye Yolody
5. 12 Juli – Adeste Adipriyanti

Well, mari kita lihat per bab saja satu per satu. Dan saya akan ambil satu cerpen yang paling saya favoritin aja per babnya. Are you ready? Ready are you? *halagh, kebanyakan nonton kuis*.

Bab pertama, Kuliner. Pada bab ini, instruksi yang diterima oleh para murid Maggie adalah menulis cerita dengan menggunakan makanan sebagai bagian dari penyampaian cerita. Hmmm, saya kira tadinya akan banyak food story macam Brownies bertebaran. Ternyata enggak. Yang ada justru kebanyakan menggunakan makanan hanya sebagai pendamping cerita atau sampiran. Bukan salah penulis sih, tapi memang instruksinya mereka boleh menentukan seberapa besar porsi makanan di dalam cerita masing-masing. Tapi, saya sudah pasti lebih mem-favoritkan cerita yang bisa menjadikan makanan ini sebagai konflik utama. Yep, ‘Brongkos Mertua’ menjadi favorit saya. Bagaimana perjuangan seorang menantu mendapatkan pengakuan dari mertua dalam hal memasak di dapur ini menarik. Kalau yang udah pernah makan brongkos, pasti tahu betapa rumitnya rasa makanan ini. Proses masaknya juga rumit. Kerumitan inilah yang diangkat oleh penulis. Hmmm, sebenernya sih ‘kerumitan memasak’ bukan hal baru dalam food story. Tapi yah, brongkos berhasil memikat saya. Anyway, saya agak drop ekspektasinya dalam bab pertama ini. Tak banyak hal baru yang ditawarkan. Sedikit mengecewakan, hingga membuat saya meletakkan buku ini untuk beberapa lama.

Bab kedua, tema Prompter. Instruksinya adalah ‘tulislah sebuah cerita dengan menggunakan salah satu di antara dua prompter: a) Aku lemparkan buku itu ke sungai yang mengalir deras; b) Ezra menghunus pisau dapur ke arahku. Dalam bab ini beberapa penulis menampakkan taringnya *huweleh, bahasanya*. ‘Serunya Membunuh Orang Gila’ mencuri perhatian saya, meski agak-agak absurd di bagian saat aku terluka karena percobaan penusukan oleh Ezra di awal cerita. Tapi makin ke ending saya kemudian tahu, bahwa memang cerita ini absurd. Bagaimana membolakbalikkan kondisi psiko si tokoh utama, itu yang bikin saya jatuh cinta.

Bab ketiga, tema Demonstrasi. Kembali saya merasa bosan di bab ini 😐 Apalagi setelah cerita pertama ‘Teror di Kaki Bukit’. Iya, menurut saya yang megang di bagian ini adalah cerpen ‘Teror di Kaki Bukit’. Agak berbeda dengan cerita-cerita yang lain, twist di ending pun cukup bikin saya nyengir, karena yang demo di sini agak beda. Hehehe….

Bab empat, tema Bebas. Akhirnya pecah!!! Saya jatuh cinta berat sama cerpen Orin di sini, ‘Nama untuk Raka’. Saya suka settingnya, saya suka puzzle ceritanya, dan saya suka endingnya. Well done, Orin! *angkat cangkir kopi* 😆

Nah, yang di atas itu sekadar sharing pengalaman membaca buku kumcer ‘Little Stories’ ini. Bagaimanapun, saya menghargai setiap usaha penulis, termasuk para penulis buku ini. Nggak gampang mewujudkan sebuah antologi bersama. Biasanya karena kendala waktu, dan hobi menunda pekerjaan. Buku ini pun rampung dalam waktu setahun. Lima penulis doang dalam waktu setahun. Yeah, kebayang pasti pada berusaha lari-lari kejar deadline, apa daya kaki deadline lebih panjang hahahaha….

Saya punya tiga dari lima bintang yang saya berikan untuk buku ini 😉

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Orin says:

    Aku ternyata belom komen ya? hahaha.
    Matur nuwun mbakyuuuu sudah berkenan membaca Little Stories dan menuliskan reviewnya yaa *ketjup*

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s