Kukila

Judul: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Editor: Siska Yuanita
Ilustrasi: eMTe
Layout: @bayu_kimong
Jumlah halaman: 192
ISBN: 978-979-22-8839-1
Penerbit: Gramedia Pustaka Utam

Blurb

Nak, dua hal aku benci dalam hidup: September dan pohon mangga. September tidak pernah mau beranjak dari rumah. Betah. Ia sibuk meletakkan neraka di seluruh penjuru. Di ruang tamu. Di ranjang. Di meja makan. Bahkan di dada.Batang pohon mangga tetap selutut persis prasasti batu. Ia berdiri mengekalkan dosa-dosaβ€”dan dosa adalah pemimpin yang baik bagi penyesalan-penyesalan.

Kukila adalah perempuan itu, yang membenci September dan pohon mangga. Hidupnya didera rasa bersalah yang besar, kepada mantan suaminya, mantan kekasihnya, dan anak-anaknya. Kepada suratlah dia berbicara dan kepada pohon-pohonlah dia menyembunyikan masa lalu, karena rahasia, konon, akan hidup aman dalam batang-batang pohon.

Selain β€œKukila (Rahasia Pohon Rahasia)”, di dalam buku ini ada dua belas cerita pendek lain, dikisahkan dalam kata-kata Aan Mansyur yang manis, bersahaja, kadang sedikit menggoda.

Review

Ada 16 cerita pendek dalam buku ini. And they are …

  1. Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)
  2. Kebun Kelapa di Kepalaku
  3. Setengah Lusin Ciuman Pertama
  4. Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji
  5. Setia adalah Pekerjaan yang Baik
  6. Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
  7. Membunuh Mini
  8. Aku Selalu Bangun Lebih Pagi
  9. Ketinggalan Pesawat
  10. Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi
  11. Lima Pertanyaan Perihal Bakso
  12. Lebaran Kali ini Aku Pulang
  13. Hujan. Deras Sekali.
  14. Tiba-tiba Aku Florentino Ariza
  15. Tiga Surat yang Belum Terkirim
  16. Cinta (Kami) Seperti Sepasang Anjing dan Kucing

Hmmm … Mulai dari mana nih, reviewnya? πŸ˜€ Satu-satu? Nggak ah. Kayak biasanya saja, ambil 3 favorit dan 1 yang menurutku rada ‘enggak’.

Ok. Here we go.

Dibuka dengan cerita pendek utama, “Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)”. Sebuah cerita pendek yang tidak pendek. Dia menghabiskan 62 halaman sendirian. Tentang lika liku cinta Kukila – Pilang – Rusdi. Di bagian akhir ada twist yang cukup meledak, namun ‘masih dalam batas kewajaran’. Lah, apa pula itu? πŸ˜† Yaaa, maksudnya meledak, tapi yahhhh masih yang nggak bikin shock gitu. Cerita diawali dengan adegan perceraian Kukila dan Rusdi. Kemudian berlanjut pada perang batin Kukila, yang diikuti dengan permintaan maafnya pada ketiga anaknya. Nah, ketiga anaknya masing-masing juga punya cerita pada subbab cerpen ini. Hingga kemudian juga ada cerita dari sudut pandang Rusdi dan Pilang. Bahwa ketiga anak Kukila ternyata anak-anak Pilang. Pada akhirnya ketahuan deh semuanya, mengapa Kukila sampai bisa punya anak dari Pilang dan kenapa bukan dari Rusdi. Dan tunggu sampai ada pengungkapan rahasia Rusdi di akhir cerita. Cerpen ini terdiri atas 13 subbab, dan ya memang, jadinya sangat panjang untuk sebuah cerpen. Sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah novel kalau menurut saya. Banyak hal yang bisa dicabangkan lagi. Atau mungkin sebuah omnibook?

Cerpen lain yang unik menurut saya adalah “Hujan. Deras Sekali.”. Dari judulnya saja, terus terang, saya sudah suka. Pasti ada maksud dengan penggunaan tanda titik di situ. Well, pelajaran yang bisa ditarik dari cerita pendek yang satu ini: selalu ada keuntungan/manfaat yang bisa ditarik bahkan dari sebuah bencana. Kamu nggak pernah tahu, siapa saja yang mendoakan hal-hal yang menurut kamu merupakan sebuah bencana. Jadi di sini, setidaknya ada empat orang yang mendoakan satu hal yang sama: hujan jangan pernah berhenti. Hujan menderaslah. Kalau perlu, banjir sekalian. πŸ˜€

Cerpen unik ketiga adalah Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing. Kenapa unik? Karena di sini ada 13 hal yang bisa kamu pelajari dari kucing dan 13 hal yang bisa kamu pelajari dari anjing. Haha. Mau tahu nggak, hal apa saja? Boleh deh saya kutipin yah πŸ˜€ Penting banget ini soalnya.

Hal-hal yang bisa kamu pelajari dari kucing:

  1. Berbahagialah melihat orang yang kamu cintai
  2. Bersemangatlah untuk menjawab rasa penasaranmu sendiri kepada hal-hal baru.
  3. Jangan pernah meremehkan kekuatan pujian.
  4. Jangan takut menunjukkan sukacita. Jika kamu senang, tunjukkan.
  5. TIdur sianglah dan lakukan peregangan ketika bangun.
  6. Bersetialah!
  7. Pada siang hari, ketika panas menyengat, bersantailah di bawah pohon.
  8. Milikilah mainan favorit.
  9. Jangan menyimpan dendam.
  10. Tidurlah dengan posisi yang menurutmu paling nyaman.
  11. Garuk gatalmu sendiri.
  12. Lindungilah orang-orang yang kamu cintai.
  13. Terimalah pujian dan perhatian dengan tulus.

Hal-hal yang bisa kamu pelajari dari seekor anjing

  1. Istirahat dan relaksasi adalah kunci menuju kebahagiaan, dan jangan bekerja terlalu keras.
  2. Selalu sisihkan waktu untuk tidur bermalas-malasan seperti kucing.
  3. Malam hari adalah waktu yang menyenangkan untuk berbagi dengan keluarga. Sempatkan bermain dengan anak-anakmu.
  4. Habiskan waktu dengan orang yang kamu cintai, terutama saat mereka bekerja. Duduklah dekat komputernya dan mendengkurlah kalau perlu, sesekali kamu boleh mengacaukan keyboard-nya.
  5. Tunjukkan kepada orang-orang yang kamu cintai bahwa kamu mencintai mereka.
  6. Tunjukkan keriangan ketika mendapatkan hadiah.
  7. Nikmatilah sinar matahari.
  8. Jagalah kamar mandi tetap bersih.
  9. Sesekali duduklah di beranda dan nikmatilah pemandangan.
  10. Bersikaplah mandiri.
  11. Jangan mau melakukan semua yang orang minta.
  12. Tetap tenang. Jika kamu tidak ingin melakukan sesuatu, tidak perlu mendebat.
  13. Jangan takut jika sesekali melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Duduklah di rak buku atau mengintiplah dari kolong kursi.

Ha! Yang poin 11 dan 12 itu eikeh banget πŸ˜† Diem dan berlalu kalau nggak cucok. Haha.

Anyway, hmmm good points, aren’t they? πŸ˜€ Penting buat diingat. It’s called #lifeguide! πŸ˜†

Terus apa ceritanya hanya seputar anjing dan kucing? Nope. Itu hanya analogi. Ceritanya sendiri tentang cinta. πŸ˜€ Cinta yang cukup pahit.

Cerita pendek paling lemah menurut saya adalah “Ketinggalan Pesawat”. Hmmmm, kebetulan yang terlalu mengada-ada. Terlalu kebetulan. Aneh saja.

Namun, overall, tulisan Aan Mansyur memang puitis. Mau puisi atau cerita pendek, tetap, diksinya berirama, puitis tapi tetap gampang dicerna. Metaforanya nggak terlalu banyak, jadi masih bisa dinikmati oleh orang-orang yang tak terbiasa membaca diksi dewa. Setiap cerita juga menyiratkan pesan khusus. Tinggal kita aja yang bisa jeli melihatnya atau enggak. Kalau di GR sih ada yang bilang, bahwa topiknya terlalu vulgar dan nggak bisa dibaca oleh anak-anak, sehingga perlu dikasih label “dewasa” di sampulnya. Menurut saya, enggak tuh. Biasa aja. Tinggal yang baca aja, bisa menangkap arti-arti yang tersirat apa enggak. Bukankah membaca itu juga musti mikir? Jangan hanya ditelan mentah-mentah, dan percaya saja dengan apa yang kamu lihat. Dan, sepertinya kalau ada anak SMA atau SMP yang mau baca buku ini, saya kira saya malah kemudian akan mengagumi anak tersebut. Karena berat lho, buku ini kalau untuk anak SMA atau SMP. Apalagi SD. Pasti juga nggak akan masuk dalam daftar baca mereka, kecuali mereka disodorin oleh gurunya atau orangtuanya. Menurutku siiiih. CMIIW.

Kekurangan cerpen-cerpen di sini adalah terlalu banyaknya pemakaian nama ‘Kukila’. Padahal tokohnya beda-beda. Karakternya juga berbeda. Jadi semacam saya jadi kepentok mulu. Kukila di cerpen pertama karakternya nancep banget. Lalu ada Kukila lagi di “Tiba-tiba Aku Florentino Ariza” itu kayak bikin kacau karakter yang udah nancep tadi.

Dan karena messy-nya karakter Kukila ini, berakibat saya menurunkan rating bintang πŸ˜€ Tiga dari lima bintang.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Lidya says:

    puitis tapi gampang dicerna berarti aku bisa ya baca buku ini mbak, maklum aku gak ngerti puisi

    Like

    1. @RedCarra says:

      Makasih sudah baca reviewnya πŸ™‚

      Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s