Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Judul: Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Penyelaras Aksara: Widyawati Oktavia
Desainer Sampul: Levina Lesmana
Penyelaras Tata Letak: Landi A. Handwiko
Ilustrator Sampul dan Isi: Ida Bagus Gede Wiraga (@ibgwiraga)
Tebal: vi + 294 halaman
ISBN: 979-780-771-1
Penerbit: Gagasmedia

Blurb

“Aku tidak bersepakat dengan banyak hal, kau tahu. Kecuali, kalau kau bilang bahwa jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri.

Untuk hal itu, aku setuju.”

Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta.
Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui dan mengisahkan sisi gelap cintanya.
Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan yang tersembunyi dalam cinta.

Bukankah kisah cinta selalu begitu?
Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang, selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman.
Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.

Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih.
Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.

Sayangnya, cinta tak sekadar manis. Cinta tak sekadar terang.
Cinta tak melulu tentang senyum dan tawa. Ini kisah cinta yang sedikit berbeda.

Masih beranikah kau untuk jatuh cinta?

“Cinta yang Bara ungkap di buku ini bukan lagi sebatas manis dan perih, melainkan juga sisi gelap. Saya menemukan proses pendewasaan dalam cerpen-cerpen Bara. Dibandingkan dengan karya-karya ia sebelumnya, kali ini ada warna yang berbeda.”
—Dewi ‘Dee’ Lestari, penulis

“Kisah-kisah cinta Bernard Batubara memukau saya. Caranya menggambarkan percintaan sepasang kekasih kadang kala memberi ruang untuk membayangkan adegan yang lebih panjang. Di dalamnya, ikut terungkap pula situasi sosial dan masalah kemanusiaan di dunia kontemporer kita.”
—Linda Christanty, penulis

Review

Buku ini sebenarnya sudah lama saya selesaikan. Lama sekali. 😆 Tapi ya baru sempat direview sekarang.

Jadi, nggak usah berpanjang-panjang, mari kita review sekarang.

Buku ini merupakan kumpulan cerpen dari Bernard Batubara. Saya sendiri, sejujurnya, belum pernah membaca buku Bernard secara utuh. Well, saya pernah sih mencoba baca Cinta. (Cinta dengan Titik). Tapi ya gitu deh 😐 Sepertinya bukan my kinda book. So I gave up.

Nah, kemudian saya memutuskan untuk pengin kembali baca buku Bernard tapi let’s begin from the right start, yaitu dengan membaca kumpulan cerpennya dulu 😀 Yeah, you know me lah. Miss Kumcer. Halah.

Content

Buku ini berisi 15 cerpen, and they are:

  1. Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
  2. Nyanyian Kuntilanak
  3. Seorang Perempuan di Loftus Road
  4. Hujan Sudah Berhenti
  5. Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
  6. Seribu Matahari untuk Ariyani
  7. Langkahan
  8. Meriam Beranak
  9. Lukisan Nyai Ontosoroh
  10. Bayang-bayang Masa Lalu
  11. Orang yang Paling Mencintaimu
  12. Nyctophilia
  13. Bulu Mata Seorang Perempuan
  14. Menjelang Kematian Mustafa
  15. Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Daaaan seperti biasa, mari kita ambil 3 cerita favorit dan 1 cerita yang paling lemah menurut saya.

Cerita pertama, Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah.

Nah, jadi ceritanya saya nggak sengaja memang memegang buku ini, terus ndilalah ya baca cerpen pertama ini I was like “Yampun, aku musti baca buku ini!” 😆

Ceritanya tentang seorang perempuan bernama Hamidah. Mmmm, rada-rada berbau Cinderella sih. Jadi Hamidah ini tadinya buruk rupa, sedangkan ibunya cantik sekali. Ibunya yang sudah meninggal datang kembali pada Hamidah dalam bentuk kunang-kunang, lalu memberi Hamidah kecantikan. Kecantikan itu akhirnya membuat Hamidah jadi juga punya suami. Namun karena begitu cantiknya, suaminya nggak rela wajah Hamidah ‘dinikmati’ oleh orang lain. Maka dikurungnya Hamidah di dalam rumah, nggak boleh ke mana-mana. Karena dikurung, Hamidah jadi sedih. Well, siapa yang nggak bakalan sedih sih yah? Hingga akhirnya Hamidah memutuskan untuk menyerahkan kembali kecantikannya. Endingnya gimana? Cukup ngetwist, pemirsa. Baca sendiri :mrgreen:

Cerita kedua, Seribu Matahari untuk Ariyani.

Ini cerita tentang anak autis. Bukan, bukan Ariyani yang autis. Tapi seorang bocah yang dipanggil Tompel. Suasana pembullyan kerasa banget di cerita ini. You know lah, anak seperti Tompel ini sasaran empuk bully teman-temannya. Apalagi sepertinya dia sekolah di sekolah umum. Abangnya sendiri suka ngebully. Cuma ibunya yang cinta setengah mati. Dan Ariyani ini jadi satu-satunya teman yang nggak ngebully dia. Pokoknya baik deh. Tompel suka sama Ariyani. Tapi Tompel menyaksikan Ariyani ternyata juga korban bully. Tapi pembullyan Ariyani lebih miris. Hiks 😥

Cerita ketiga, Bayang-bayang Masa Lalu.

Lagi-lagi tentang cinta. Cinta yang setia menunggu, cinta yang percaya. Ceritanya seputar Ainun, seorang perempuan berusia 690 tahun. Yep, kamu nggak salah lihat. Ainun berusia 690 tahun, gara-garanya dia dikutuk menjadi tua dan tak bisa mati karena jatuh cinta pada manusia yang berseteru dengan kaumnya. Tapi pada akhirnya dia juga merasa dikhianati oleh cinta. Ah, cinta.

Tsah.

😆

Nah, sudah tiga cerita favorit, dan sekarang tentang cerita yang paling so-so.

Adalah Langkahan. Sebenarnya sih mungkin karena cerita ini paling realism ya. Jadi agak-agak terlalu berbeda dengan cerita-cerita lain yang dibalut suasana mistis, kelam dan beberapa bahkan surreal. Cerita tentang adik yang pengin menikah lebih cepat ketimbang kakaknya. Dalam tradisi Jawa, jika adik ingin menikah lebih dulu, maka dia harus membayar semacam ‘sogokan’ pada kakaknya supaya diperbolehkan menikah lebih dulu. Sogokan inilah yang dinamakan langkahan. Adik akan membelikan barang-barang yang sesuai dengan yang diminta oleh sang kakak. Sebenarnya cerita ini berhasil sih mengangkat tema langkahan. Yang membuatnya agak so-so ya karena itu tadi. Genrenya paling beda.

Well, secara keseluruhan sih cerpen-cerpen dalam buku ini dikemas secara apik. Dan penulis selalu bisa memerangkap saya dengan kalimat-kalimat yang visualable, yang bisa banget memantik ide berloncatan.

Maukah kau dengar sebuah kisah, tentang seorang perempuan yang kecantikannya begitu berbahaya hingga bisa mengacaukan seisi alam raya dan memorak-porandakan semesta?

Mama tak pernah tahu bahwa aku bisa berbicara kepada hujan.

Ia meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya kekasihnya. Aku tak mudah percaya.

Kapan cinta tak membuatmu gila, Jamelia?

Ketika itu, aku hanyalah pemuda biasa berusia 117 tahun, atau dalam hitungan bangsamu, tujuh belas tahun.

Ya, itu hanya beberapa di antaranya. Ada puluhan kalimat lain, yang bahkan bisa langsung saya ubah dan bisa menjadi prompt untuk cerita yang sama sekali baru. Well, jadi saya harus berterima kasih pada penulis 😆

Dan karena kalimat-kalimat tersebutlah, saya mengapresiasi dengan memberi buku ini rating empat setengah dari lima bintang yang saya punya 😉

Btw, saya jadi pengin baca Milana 😀 Kalau ada yang mau ngelego, boleh colek saya 😀

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ak says:

    Jadi pengin baca

    Like

    1. RedCarra says:

      Yuk, baca 😀

      Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s