Remember Paris

Remember ParisJudul: Remember Paris
Penulis: Icha Ayu
Editor: Herlina P Dewi
Proof Reader: Weka Swasti
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Sindy
Tebal: 263 halaman
ISBN: 978-602-7572-31-7
Penerbit: Stiletto Book

Blurb

Perpisahan Kirana dari Manu membuatnya kembali teringat akan hari-hari yang mereka lalui ketika masih mengikuti short course program di Jenewa-Swiss. Semuanya sempurna: kehidupannya bersama host family, keseruan bersama para sahabatnya, dan tentu saja, kebersamaannya dengan Manu, lelaki Perancis yang menjadi kekasihnya.

Empat tahun, bukan waktu yang singkat untuk bisa melupakan seseorang. Takdir pun seolah masih berpihak pada hubungan mereka. Saat Kirana ditugaskan ke Paris untuk meliput berita, kenangannya bersama Manu kembali muncul. Kirana tak tahu apa yang harus dilakukan, yang dia tahu, Paris tidak lagi sama seperti ketika dia meninggalkan kota itu.

“Don’t ever leave me alone again and I promise that I’ll never let you go!” janji Manu ketika akhirnya menemui Kirana di Trocadero, di malam terakhir kunjungan Kirana ke Paris.

Apa yang terjadi setelahnya? Mungkinkan satu cinta yang mereka miliki dapat menghapus 11.369 perbedaan yang ada?

Review

Nah, setelah saya bolos ikutan Monday FlashFiction Reading Challenge bulan April, saya akhirnya memutuskan untuk ikut di bulan Mei ini. Mmmm, kira-kira curang ga ya, saya udah baca buku ini pas masih dalam proses edar ke toko buku. Tapi baru sempat ke-review sekarang πŸ˜† Iya, udah lama yah. Jadi, saya emang baca ulang pas mau tulis review ini πŸ˜†

Baiklah. Mari mulai review dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan oleh PIC Reading Challenge πŸ˜€

1. Kesan yang kamu harapkan saat ingin membaca bukunya

Nah, buku ini kan merupakan sekuel dari Distance yang merupakan re-publish dari Winter to Summer (sudah saya review di sini). Jadi, saya mengharapkan akan menemukan kelanjutan kisah Kirana dan Manu yang berbeda bangsa dan berbeda budaya itu. Dan seperti saat membaca Distance (Winter to Summer), saya juga mengharapkan ada pengetahuan baru mengenai kebudayaan asing dan juga pola pikir orang asing. Hal-hal tersebut memang menarik banget buat saya. Apalagi kalau dikemas dalam bentuk fiksi begini πŸ˜€ Jadinya kan nonfiksi rasa fiksi. Hehehe. Plus, pas baca Winter to Summer kan rasanya saya diajak jalan-jalan keliling Eropa, dari mulai Brussel, Barcelona, Berlin hingga berakhir di Paris. Jadi saya juga mengharapkan demikian di buku ini.

2. Kesan yang kamu dapatkan setelah membaca bukunya.

Yah. Dalam novel ini, kita akan dihadapkan pada tak hanya persoalan jarak dan perbedaan kebudayaan yang harus dipecahkan oleh pasangan Kirana dan Manu. Tapi konflik utama malah terletak pada perbedaan agama di antara mereka berdua. Bisa dibilang 80% konflik berputar di permasalahan tersebut. Well, tak usah antara Manu dan Kirana sih. Sesama WNI saja dihadapkan oleh kesulitan saat harus menikah beda agama. Ini udah beda bangsa, beda budaya, jauh pula. Sooo complicated.

3. Intisari dari buku tersebut apa aja?

Mmm, pada dasarnya alur ceritanya begini. Kirana akhirnya harus melepaskan Manu untuk kembali ke Paris. Nggak bisa enggak, karena bagaimanapun, Manu memang warga negara Paris. Dia punya keluarga di sana, punya kehidupan di sana. Jadilah hubungan dijalani secara long distance. Berdua ini sebenarnya cukup menjaga komunikasi. Mereka berkirim email, dan secara rutin main di skype. Tapi, memang seperti yang sudah dibilang, “cinta mulai rumit saat orang-orang di sekitar menanyakannya”. Begitu juga yang terjadi pada Kirana dan Manu. Keluarganya mempertanyakan jarak yang terlalu jauh, kehidupan yang terlalu berbeda, dan akhirnya menyinggung agama.

Sebagai seorang barat, yang biasanya memang lebih open-minded, Manu sebenarnya bersedia untuk pindah agama sesuai dengan agama Kirana. Tapi Kirana sendiri malah merasa ragu. Prinsip Kirana, ia tidak ingin membuat Manu pindah agama HANYA karena ingin menikahinya, hanya karena ingin bersamanya. Kirana ingin, jika memang Manu mau pindah agama, itu ya berarti karena Manu mengimaninya. Ya kira-kira gitu deh, kurang lebih.

Dan karena desakan keluarga dan kondisi, akhirnya Kirana harus merelakan Manu pergi dalam arti sesungguhnya. Yep, putus. Tapi mereka masih berhubungan baik sih. Masih berteman. Dan ini membuat Kirana malah makin susah move on. Padahal saat itu sudah datang Ario, yang baik dan mencintai Kirana.

Terus … baca sendiri πŸ˜€

4. Alur ceritanya bagaimana? Maju, mundur atau maju mundur?

Alurnya maju mainly. Tapi ada beberapa bagian flashback, tapi nggak terlalu jauh ke belakang.

5. Kamu β€œgreget” nggak sama ending-nya? Apa sesuai dengan harapanmu?

Kalau ditanya ending, ya seperti roman pop pada umumnya. Endingnya dengan gampang ditebak. Hehehe. Tapi ah, perjalanan ke endingnya sih yang penting. Dan, yep, menyenangkan.

6. Apa manfaat yang kamu peroleh setelah membaca buku tersebut?

Lagi-lagi saya mendapatkan pencerahan mengenai pola pikir orang barat. Terutama saat membaca email dari Ibu Manu. Kutipin dikit yah.

Kalian berdua dibesarkan di dua negara dengan budaya yang sangat berbeda, dan aku yakin karakter kalian berdua pun tidaklah sama. Selanjutnya, akan ada banyak pertanyaan yang harus kalian hadapi.

Di manakah kalian berdua akan tinggal? Apa yang akan kalian berdua lakukan setelah hidup bersama? Apakah kalian memiliki rencana hidup yang sama selain tinggal bersama dan memiliki anak? Kenapa kalian memutuskan untuk menikah? Apakah hanya untuk memermudah urusan birokrasi atau kalian memang siap untuk saling mengikat dalam hidup? Bukankah lebih baik bagi kalian berdua untuk tinggal bersama dulu sebelum menikah? Karena dengan melakukan hal tersebut, kalian akan berdua akan tahu rasanya tinggal bersama dalam rutinitas.

You know, mungkin beberapa dari kita berpikir, kurang ajar banget ini Ibu Manu nyuruh-nyuruh buat kumpul kebo. Hih!

Hmmm, benarkah kurang ajar?

Kalau saya malah berpikir, betapa tinggi dia menghargai sebuah komitmen.

Hidup berumah tangga tentu bukan keputusan yang bisa dipikirkan dan lalu diputuskan hanya semalam. Hidup berumah tangga itu bukan bahan becandaan. Bahkan yang udah pacaran lama pun suka kaget sendiri dengan kebiasaan pacar yang kemudian sudah jadi suami/istri yang di luar dugaan. Dan orang barat memang punya cara tersendiri untuk mengatasi permasalahan ini. Jangan dipandang dari sudut norma-norma loh ya. Kalau mau diukur dengan norma yang berlaku di Indonesia sih, nggak bakalan masuk akal. Tapi coba dipikirkan secara logis.

Saya memang mencoba mengandaikan diri saya sebagai mereka, dan menurut saya cukup masuk akal.

Novel ini membawa pikiran kita lebih terbuka lagi mengartikan perbedaan antara manusia.

Dih, berat amat yak, kedengerannya πŸ˜†

7. Kalau kamu ditakdirkan berada di kota yang ada di judul buku yang kamu review tersebut, apa yang ingin kamu lakukan?

Jalan-jalan, tentu saja πŸ˜€ Saya akan ke semua lokasi yang disebutkan dalam buku Remember Paris ini πŸ˜† Terutama ke Le Mur Des Je T’aime, Dinding Cinta. Akkkk!

Sumber

Aminnnn! πŸ˜€ Oh dan tentu saja, saya akan menemui Icha Ayu, sang penulis, yang sekarang tinggal di sana πŸ˜†

8. Berapa rating-mu untuk buku-nya?

Aku kasih tiga setengah dari lima bintang yang aku punya ^_^

***

Untuk Monday FlashFiction‘s Reading Challenge bertema nama kota

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s