Senyum Karyamin

C360_2015-05-16-22-16-38-455Judul: Senyum Karyamin
Penulis: Ahmad Tohari
Editor: Maman S. Mahayana
Desain Cover: Rahardjo S.Tebal: 88 halaman
ISBN: 979-403-603-x
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Kumpulan cerpen ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”. Selain itu, gaya bahasa Tohari “lugas, jernih tapi juga sederhana, di samping kuatnya gaya bahasa metafora dan ironi”.

Jika Anda sudah membaca trilogi Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jantera Bianglala (1986), Anda pun perlu membaca kumpulan cerpen ini.

Review

Buku ini berisi 13 cerpen, yaitu:

  1. Senyum Karyamin
  2. Jasa-jasa Buat Sanwirya
  3. Si Minem Beranak Bayi
  4. Surabanglus
  5. Tinggal Matanya Berkedip-kedip
  6. Ah, Jakarta
  7. Blokeng
  8. Syukuran Sutabawor
  9. Rumah yang Terang
  10. Kenthus
  11. Orang-orang Seberang Kali
  12. Wangon Jatilawang
  13. Pengemis dan Shalawat Badar

Oke, seperti biasa, mari kita ambil 3 cerpen paling asik dan 1 cerpen yang paling inferior menurut saya.

(((inferior))) — Apaan sih? ๐Ÿ˜†

Cerpen pertama, adalah Senyum Karyamin. Karyamin, seorang lelaki kuli pembawa dan pemecah batu kali. Setiap harinya harus pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material yang berada di atas sungai. Bisa kebayang kan, bagaimana dia memikul dua keranjang besar sedangkan jalan menanjak. Yep, cerita memang seputar perjalanan Karyamin suatu hari dari sungai ke pangkalan material tersebut. Dalam perjalanan menanjak itu, tiba-tiba ada burung yang mengganggunya, hingga ia terguling jatuh. Batunya? Yang bergelindingan kembali ke sungai. Ini berarti dia harusย  mengumpulkan lagi, lalu mengulang langkahnya mendaki tepi sungai masih sambil memikul dua keranjangnya. Tambahan: dia dalam kondisi kelaparan, dan istrinya sedang sakit. Ya, dia kelaparan berat. Saat memutuskan pulang, di tengah jalan dia dicegat oleh Pak Pamong, yang mengejarnya untuk dimintai dana bantuan untuk Afrika yang sedang kelaparan. Hummmm, dimintai dana bantuan kelaparan sedangkan Karyamin sendiri sedang kelaparan. ๐Ÿ˜ Ironic!

Cerpen kedua. Si Minem Beranak Bayi. Cerpen ini juga menceritakan mengenai ironi dalam masyarakat. Menceritakan tentang Kasdu, yang sedang menempuh perjalanan hendak ke rumah mertuanya. Dia mau mengabarkan bahwa istrinya, Minem, sudah melahirkan. Well, sebenarnya kelahiran yang lebih cepat seharusnya sih. Seharusnya baru dua bulan kemudian Minem melahirkan. Dalam perjalanan Kasdu seakan menyesali mengapa harus dilahirkan sekarang, dan dia merasa bersalah. Dia merasa karena dialah Minem jadi lebih cepat melahirkan. Sesampainya di rumah mertua, baru kemudian diketahui, bahwa Minem baru berusia empat belas tahun. Euh … Saya membacanya dengan kecut. Ini potret masyarakat kita yang memang masih ada yang terbelakang begini.

Cerpen ketiga, Pengemis dan Shalawat Badar. Bercerita mengenai ironi yang terjadi di atas bus antar kota antar provinsi. Seorang pengemis naik ke bus, dan melantunkan shalawat badar untuk meminta sedekah. Ada semacam pro dan kontra dalam cerpen ini. Okelah, dia memang membawa pujian suci itu ke dalam bus, tapi mengemis dengannya? Hmmm. Tapi di akhir, justru ada twist yang cukup nampol.

Ah, saya nggak tahu ini gimana cara ngereview buku ini biar nggak spoiler ๐Ÿ˜† Sejatinya, ceritanya begitu padat, tak ada bagian yang tak perlu, dan tak bermakna. Setiap cerita juga memiliki kekuatan yang merata, jadi saya tak bisa menemukan cerpen yang paling lemah. Tiga cerpen di atas pun saya pilih, karena bukan semata-mata kuat saja, tapi ceritanya paling nancep di otak. Ya, saya bisa menceritakan kembali, barangkali, bahkan nanti-nanti kalau sudah lama lewat. Semacam Madre-nya Dee, yang saya sampai hafal banget alurnya. Yang khas dari cerita-cerita di sini, adalah setting. Ahmad Tohari selalu membawa pembaca ke bagian terendah dalam kasta masyarakat kita. Katakanlah, di Jakarta, Ahmad tidak membawa kita ke kompleks perumahan mewah. Tapi ke perkampungan kumuh. Ahmad Tohari juga tidak membawa kita ke bandara, tapi ke atas bus antar kota antar provinsi yang pengap. Ahmad Tohari juga tak membawa kita ke pantai-pantai pribadi, tapi membawa kita menyusuri sungai di pedesaan. Nama-nama tokohnya pun tidak ada yang ‘wah’. Kamu akan berkenalan dengan Karyamin, Kasdu, Minem, Kenthus, Sulam, Suing, Blokeng dan lain-lain. Tidak ada nama seperti Bianca, Aliando, Milly dan nama-nama anak kota lain.

Yep, ini cerpen ndeso. Cerpen mengenai masyarakat kasta rendah.

Jika ingin mendapatkan gambaran potret lain dari masyarakat kita, kumpulan cerpen ini highly recommended.

Sehingga saya punya empat dari lima bintang untuk buku ini ๐Ÿ™‚

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s