Kata Kota Kita

kata_kota_kitaJudul: Kata Kota Kita
Penulis: Cindy Pricilla, Emilya Kusnaidi, Yathizar Nao, Djan Fraumi, dkk
Editor: Nina Andiana, Anastasia Aemiliam Hetih Rusli
Illustrator: Orkha Creative
Teba: 272 halaman
ISBN: 978-602-03-1510-2
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Dalam Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di Ankara, kemacetan di Jakarta, hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan, kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia,

Kota-kota dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan beragam tema, ditulis dengan beraneka gaya, mulai dari yang lincah ala MetroPop hingga mencekam ala novel horor.

Tujuh belas cerpen mengenai kota-kota yang berbeda ini menyajikan senyap dan riuh, tawa dan tangis, cinta dan kehilangan… Dan pada akhirnya membawa kita menuju kota yang menjadi tujuan pulang.

Review

Ada 17 cerpen dalam buku ini (duh, kok banyak yah) πŸ˜†

  1. Ora – Ayu Rianna
  2. Berlari ke Pulau Dewata – Cindy Priscilla
  3. Ditelan Kerumunan – Djan Fraumi
  4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat – Dwi Ratih Ramadhany
  5. Let the Good Times Roll! – Emha Eff
  6. Sparks – Emilya Kusnadi
  7. Mamon, Cintaku Padamu – Idawati Zhang
  8. Sunflower – Lidya Renny Chrisnawaty
  9. Frau Troffea – Lily Marlina
  10. Asing – Marisa Jaya
  11. Bukan Sebuah Penyesalan – Orinthia Lee
  12. Pohon dan Cinta – Putra Zaman
  13. Di Balik Tirai Rindu – Rizky Noviyanti
  14. Bulungan – Tj Oetoro
  15. Ankara di Bawah Purnama – Tsaki Daruchi
  16. Jakarta – Yatzhiar Nao
  17. Amerta – Yulikha Elvitri

Oke. Selesai sudah nge-list cerpen-cerpennya. Well, satu catatan besar sudah ada sampai di sini. Jangan lupa bikin daftar isi. Soalnya kalau nggak ada daftar isi, susah juga buat ngereview-nya. Saya salah satu pembaca kumcer, dan selalu membuka review dengan menuliskan cerpen apa saja yang ada dalam buku. Cerita-ceritanya sih saya ingat, tapi kalau nge-list-nya pakai musti buka satu per satu kayak gini, terus terang it’s tiring -__-”

Nah, sudah? Sekarang kita ke review ya. Seperti biasa saya akan mengambil 3 cerita terfavorit, 1 cerita paling lemah. Tapi saya akan kasih bonus 1 cerita lagi di sini, karena ditulis oleh seorang teman πŸ˜†

Cerita pertama, hmmm kita ke urutan ketiga terfavorit deh. Sparks oleh Emilya Kusnadi. Jujur, saya sudah akan menghentikan membaca buku ini pada cerpen ketiga. Ah, untung saja saya tetap memutuskan lanjut hingga di cerpen keempat saya mulai merasa asyik. Lalu saya menemukan Sparks. Ah, suasana romantisnya kerasa banget. Suasana Central Park-nya pun juga kental diceritakan. Meski idenya nggak baru sih, jadi nggak akan saya komenin. Yang bikin saya jatuh cinta pada Sparks adalah kepiawaian penulis membangun suasananya. Romantis ala-ala Sleepless in Seattle gitu deh πŸ˜€ Love it.

Cerita kedua terfavorit: Mamon, Cintaku Padamu oleh Idawati Zhang. Ya ini cerita-cerita agak dark gitu deh. Tapi dari openingnya saja saya udah suka. Banget.

Akar segala kejahatan adalah cinta akan uang. (hal. 105)

Lalu ditutup dengan kalimat:

Seharusnya mereka memberitahuku kalau terkadang akar segala kejahatan adalah ketiadaan uang. (Hal. 117)

Aih. Loooove it. Semacam nyambung antara opening dengan closing, membingkai cerita dengan begitu fit-nya. Komen apalah ini. πŸ˜† Konfliknya pun tak biasa, seorang perempuan sedang berusaha “mengambil kembali” hak warisnya tapi ya itu tadi, uang menggelapkan matanya. Lalu di akhir masih pula dibumbui dengan cerita perdagangan anak, meski terselubung. Isu yang diangkat benar-benar beda dengan cerita yang lain. Sayangnya cuma satu, kota Semarang yang menjadi setting tak tersentuh sama sekali. Seandainya kejadian tersebut saya pindahkan ke Surabaya, akankah mengubah cerita? Kalau saya pindahkan ke Maumere, akankah mengubah cerita? Saya kira tidak.

Terus, kita ke cerita terrrrrrfavorit. Hmmm, nggak ah. Kita ke Ditelan Kerumunan dulu. Oh ya, cerita ini sempat membuat saya malas melanjutkan baca buku ini πŸ˜† I mean, ini ceritanya agak aneh menurut saya. Tell me, kamu baru saja kenalan sama seseorang lalu apakah mungkin kamu bertanya begini pada kesempatan pertamamu berkenalan dengannya?

“Sejak kapan kau naik bus? Kenapa tidak naik taksi saja, atau beli mobil sendiri? Kulihat kau anak orang kaya, ya kan?” (hal. 43)

Well, sangat tidak sopan bukan? Hahahaha. I dunno, barangkali kalau saya yang ditanya seperti itu, saya lebih memilih pergi saja πŸ˜† Dan sudah curhat seperti itu pada orang asing menurutku juga agak nonsense. Kecuali kalau mereka sudah berbincang dua atau tiga kali sebelumnya. Cerita ini kurang smooth. Antara dialog dengan narasi juga rada nggak nge-blend dengan pas. I dunno, mungkin perasaan saya juga sih.

Nah, sekarang ke Ankara di Bawah Purnama. Menurut saya, ini cerpen yang paling sempurna di sini. Bagaimana penulis menggambarkan suasananya oh I don’t know. Dark, agak-agak gothic. Seandainya dia mempertajamnya dengan mengambil tokoh asli Turki, dan bukan orang Indonesia yang datang ke Turki, pasti lebih kental suasana Turki-nya. Bagaimana dia menyebut tokoh-tokohnya dengan nama Kopi Jantan, Aroma Rempah dan Mata Maskulin. Lalu bagaimana dia mendaraskan cerita seakan-akan Wina mempunyai kelainan orientasi seksual, semacam penggemar gangbang. Tapi ternyata, twist endingnya hadoh! Ini cerpen psikologis, kalau boleh saya bilang. Well done!

Satu cerita bonus adalah Pohon dan Cinta. Yep, penulisnya adalah teman baik saya, Sammy. Saya pernah baca beberapa tulisan Sammy, dan memang auranya romantis banget. Di sini pun juga gitu. Romantissss, dan oh saya kira settingnya kuat yah. Menceritakan tentang Pohon Cinta di Pulau Kemaro. Yep, settingnya nancep. Nggak akan bisa dipindahkan ke mana-mana. Karena Pohon Cinta Pulau Kemaro jelas tidak ada di tempat lain. Inilah yang saya garis bawahi. Benang merah dalam cerpen ini adalah settingnya. Masing-masing cerita seharusnya berkisah di kota tertentu, yang tentunya membawa ciri khas kota tersebut. Katakanlah cerpen Jakarta, kalau seandainya ceritanya saya pindahkan ke Pontianak dengan penyesuaian di sana sini, bisakah? Bisa banget. Jadi saya kira, Sammy yang paling berhasil membawa landmark Palembang menjadi setting yang benar-benar menyatu dengan cerita.

Sayangnya lagi, ada tiga cerita bersetting Jakarta dan dua cerita bersetting Yogyakarta dalam kumcer ini. Apa nggak ada pilihan kota lain? Kenapa harus ada tiga Jakarta dan dua Jogja? Kenapa nggak dibuat satu kota benar-benar satu cerita? Entahlah. Saya mah cuma pembaca. Barangkali itu lebih tepat ditanyakan pada penggagas proyek ini πŸ˜€

Beberapa cerita saya lihat akan lebih bagus kalau dikembangkan lebih panjang lagi, misalnya seperti Frau Troffea dan Amerta. Frau Troffea bercerita mengenai wabah menari yang melanda Prancis. Tentang seorang perempuan Clairvoyant (orang yang mempunyai kemampuan menerima informasi tanpa melalui indra), yang harus memecahkan misteri sebuah lukisan kuno yang membawa kutukan. Penelusurannya membawanya kembali ke Eropa abad kelima belas atau keenam belas. Menarik banget! Sayangnya kenapa rasanya kurang nampol ya? Jadi saya kira kalau lebih dipanjangkan lagi dengan penambahan detail di sana sini, cerita ini akan memegang juaranya dalam kumpulan cerpen ini.

Begitupun Amerta. Satu-satunya cerita misteri yang dikombinasi dengan kriminal. Love it. Meski settingnya tak terlalu mengikat, tapi cara penulis menyetir pembaca untuk mencurigai satu orang lumayan juga. Walaupun tak ada twist yang berarti.

Yeah, dengan semua catatan di atas, saya kasih bintang tiga dari lima bintang yang saya punya.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. hmm, cerpennya cukup banyak ya… 17.
    judul bukunya sih unik, enak buat disebut, kata kota kita. triple ta :”)

    Like

    1. RedCarra says:

      Iya πŸ™‚
      Makasih yah, sudah mampir πŸ™‚

      Like

  2. Terima kasih udah mereview dan suka Ankara di Bawah Purnama~~~

    Like

    1. RedCarra says:

      Wah, dikunjungi penulisnya πŸ˜€
      Makasih sudah menyempatkan diri baca review aku yang sotoy πŸ˜€

      Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s