Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian

Pada-Suatu-HariJudul: Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian
Penulis: Avianti Armand, Yanusa Nugroho, Rama Dira J, S Prasetjo Utomo dkk.
Tebal: xxxviii + 178 halaman
ISBN: 978-979-709-496-6
Penerbit: Buku Kompas

Blurb

”Langit jadi merah. Seekor naga menukik, menyapu bintang-bintang dan matahari. Pucuk-pucuk sayapnya memercik bara. Api bertebaran. Angin berputing. Ketakutan disemprotkan ke udara seperti tinta gurita.”

Kalimat di atas adalah penggalan cerpen ”Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian”. Penulisnya, Avianti Armand, adalah nama baru di Harian Kompas, bahkan cerpennya tersebut adalah yang pertama dimuat di harian ini. Meski demikian, kritikus sastra, Budiarto Danujaya, dan Men­teri Riset dan Teknologi 2004-2009 Kusmayanto Kadiman, yang kami minta memilih cerpen terbaik yang terbit di Kompas Minggu sepanjang tahun 2009, sepakat menetapkan karya tersebut sebagai Cerpen Terbaik.

Banyak nama penulis baru bagi Kompas yang karyanya terpilih dalam buku antologi Cerpen Kompas Pilihan 2009 ini, kabar yang menggembirakan karena berarti sastra koran masih tetap menarik dan dibutuhkan.

Review

Buku kompilasi cerpen pilihan Kompas tahun 2009 ini berisi 16 cerpen. Cerpen-cerpen itu adalah *dan sekalian bahas tentang apa yah. Iyah.*:

  1. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian – Avianti Armand. Jadi inilah si cerpen terbaik, dan Avianti baru pertama kali kirim ke Kompas, langsung jadi cerpen terbaik. Kisah tentang kepahitan yang harus diderita oleh seorang anak laki-laki. Dan, yah, seperti biasa Avianti bisa banget gitu melukiskan rasa sakit dalam jiwa seseorang 😦 Hiks. Watch out for the POV swing. Haiyah. Istilah apa lagi itu yang baru saja kuciptakan? 😆 Maksudnya, POVnya banyak berayun. Yang menjadi narator itu “aku”, tapi bisa jadi itu si Ibu dan juga Radian. Di situ aku menyebutnya POV swing 😆 Abaikan. Jadi, kadang ada yang bentuk kalimat langsung, tapi Avianti tak bersusah payah menuliskannya dalam dua tanda petik. Tapi anehnya, saya yang lagi baca, nggak bingung. Someday, saya pengin juga coba POV swing gini ah.
  2. Blarak – Yanusa Nugroho. It’s a good story about sugesti tubuh manusia. Kalau boleh saya menyebutnya begitu. Tentang suami yang berusaha mencari obat untuk si istri yang sakit. Semua dokter bilang, sudah tak tertolong lagi. Namun kemudian, karena dia dipanggil untuk kembali ke desa, maka kembalilah dia ke desa bersama istrinya, tentu saja. Desa yang tentram, dan Mbah Tuhu yang baik hati, menyebabkan si istri yang tak tertolong lagi menjadi sembuh. Dan oh, ada twist yang menarik di akhir cerita 😀 Anyway, saya nggak gitu ngerti filosofi apa yang ada di balik judul Blarak ini, selain blarak ini jadi cerita pas tokoh utama dan Mbah Tuhu menemukannya di jalan pulang. Si tokoh utama bersikeras bawa pulang begitu saja, sedangkan Mbah Tuhu bilang musti permisi sama yang punya pohon kelapa. Beneran, saya belum bisa menangkap maksud di balik blarak ini. 😐
  3. Kucing Kiyoko – Rama Dira J. Tentang seorang pelajar dan pekerja Indonesia di Jepang. Dia jatuh cinta pada gadis yang tinggal di apartemen seberang. Secara kebetulan, dia menemukan seekor kucing yang terluka di depan pintu apartemennya, dibawanya masuk lalu dirawat. Ternyata kucing tersebut milik gadis yang ditaksirnya. Selanjutnya, cukup bikin perut bergolak sih 😐 Cerpen ini tidak disarankan dibaca oleh pencinta kucing. Really. Plus, cerpen ini berhasil membuat saya penasaran dan gugling lebih lanjut tentang shamisen 😀 Ada fakta menarik memang, dan pengin nulis tentang ini di blog utama kapan-kapan 😆
  4. Penyusup Larut Malam – S Prasetyo Utomo. Tentang seorang lelaki tua yang menjual sebidang ladang di mana di tengahnya terdapat surau tua pada Aryo dengan sangat murah. Ternyata lokasi itu sedang dalam proses penggusuran. Aryo tidak bisa tidak menjual lagi ladang itu. Ini membuat si lelaki tua marah. Namun ternyata Aryo bijak. Ia punya solusi. Potret masyarakat sekarang ya. Apa-apa digusur demi bangunan modern.
  5. Menanti Kematian – Jujur Prananto. Ini cerpen yang getir 😦 Tentang Budiman yang galau, antara bapaknya yang sakit dan harus dirawat intensif, terlilit utang, dan diterima kerja di luar negeri. Bapaknya sendiri sudah, istilahnya, tinggal menunggu waktu. Di akhir cerita, ada yang meninggal. Tapi bukan Bapak, melainkan si …. tetot! Spoiler! 😆
  6. Foto – Sori Siregar. Ini sepertinya cerita yang menyindir media kita nih. Tentang cerita seseorang yang seharusnya bisa diluruskan melalui media, tapi si pemred harus memutuskan untuk tidak memuatnya di media karena alasan “demi amannya”.
  7. Infini – J Angin. Kisah monolog seorang pensiunan yang hidup sendirian dan kesepian. Saya jadi sedih baca ini 😦 Mau nggak mau jadi membayangkan ibu saya kalau nggak saya tungguin. Kemlawung, kalau orang Jawa bilang 😦
  8. Pesan Pendek Seorang Sahabat Lama – Indra Tranggono. Nggak tahu kenapa, baca ini saya jadi ingat Anas Urbaningrum. Bukan, bukan masalah dia harus gantung diri di Monas. Tapi tahun 1998, dia adalah ketua BEM UI yang getol banget mengorasikan perubahan dan reformasi. Namun, kemudian sekarang malah jadi anggota partai, korupsi pula 😀 hehehe… Ceritanya sih, nggak gitu di sini. Tapi ya, membuat saya ingat aja gitu.
  9. Senja di Taman Ewood – Sungging Raga. Yang ini surreal ternyata akhirnya. Alurnya rada lambat di tengah, tiba-tiba jederrrr di akhir.
  10. Malam Pertama Calon Pendeta – Gde Aryantha Soetama. THIS IS MY FAV!!! Tentang seorang istri brahmana yang merelakan suaminya nikah lagi. FYI, menurut tradisi Bali, seseorang bisa menjadi pendeta jika beristrikan seorang yang juga dari kasta brahmana. Di sini si suami brahmana, tapi istrinya perempuan biasa. Untuk bisa menjadi pendeta, sang istri pun rela berkorban. Haduh, pahitnya kerasa bangettttt. Saya jadi pengin nangis. Tapi tunggu, jangan dikira si istri yang mau dimadu ini menangis-nangis ala sinetron. ENGGAK! Justru dia menampakkan ketegaran dan kewibawaan yang luar biasa! Edan! Kalau saya jadi istri keduanya, saya udah kalah skakmat segala hal. Bahkan si suami sampai menyembah si istri tua karenanya.
  11. Tukang Cuci – Mardi Luhung. Membaca cerpen ini saya ngekek-ngekek geli. Kalimat “Istriku yang kini telah menjelma ikan paus yang gemuk. Yang punya mata tajam. Yang saking tajamnya mampu melihat barang-barang renik.” saja sudah membuat alis terangkat dan nyengir. Cerpen ini sarkas. Banget 😀 love it!
  12. Ayat Keempat – Joni Syahputra. Seseorang berusaha mempertahankan rumahnya yang berada di atas tanah yang akan digadaikan untuk biaya kampanye politik. Tetua adat kemudian ngakalin secara culas.
  13. Dua Perempuan di Satu Rumah – AS Laksana. Ini tentang LBGT. Saya sebenarnya udah mulai bosan dengan teman LGBT. Tiap kali menemukan cerpen atau flashfiction kemudian twistnya seputar LGBT langsung deh … I roll my eyes. Tapi di sini penceritaannya beda. Mungkin karena ditulis dari sudut pandang seorang anak. Entahlah. Beda pokoknya.
  14. Pemetik Air Mata – Agus Noor. Saya membaca cerita ini malah pertama kali di buku Sepotong Bibir yang Paling Indah di Dunia yang akan saya review selanjutnya 😀 Ntar diupdate yah. Intinya, kisah ini adalah kisah lanjutan Sandra, tokoh yang ada di cerpen Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma di cerpil tahun 1993 yang baru kemarin saya review di sini 😀
  15. Nima – Aba Mardjani. Lagi-lagi kisah sedih tentang TKW 😦 Hisss ….
  16. Kaki yang Terhormat – Gus tf Sakai. Gus selalu khas dengan cerpennya yang mengangkat lokalitas budaya Minangkabau. Eksotik 😀 Begitu juga di sini. Bahwa ternyata, kakilah yang membuat orang-orang pantas dihormati. Kok gitu? Aih, baca sendiri sajalah. Haha

Fyuh, selesai sudah review satu-satu cerpennya. Overall, favorit saya adalah Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian, Malam Pertama Seorang Pendeta dan Tukang Cuci, masing-masing dengan alasannya sendiri-sendiri.

Buku ini saya baca masih dalam rangka June’s To Read List. Mari lanjut dengan cerpil berikutnya 😀 Oh, sebentar. Besok ke buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia punya Agus Noor dulu karena sudah dibaca sejak Mei, dan karena saya kebanyakan selingkuh, jadi baru selesai baca malam ini 😀

Rating untuk Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian adalah empat dari lima bintang 😉

Yang pengin belajar menulis cerpen, highly recommended!

NulisRandom2015Day 15 #NulisRandom2015

Advertisements

2 Comments Add yours

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s