Coppelia

IMG_4095Judul: Coppelia
Penulis: Novellina A.
Editor: Ruth Priscilla Angelina
Cover: Orkha Creative
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-1810-3
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.

Alur Cerita

Novel dibuka oleh adegan dalam setting tempat impian saya, Santorini. Di sini saya udah yang … akkk! *tangkupin tangan ke pipi* Oke, udah. Ini nanti aja di bagian review. Sekarang ke cerita dulu ya.

Kita langsung kenalan dengan tokoh utama dalam novel ini, yaitu Nefertiti. Hum, nama tokoh yang unik. Dia yang semacam ‘terdampar’ di Santorini, sedang berjuang untuk kembali ke tanah air. Berjuangnya ini ternyata karena banyak alasan; 1. Nefertiti tak punya uang, 2. Ada kisah kelam dan dingin yang membawanya menjauh dari Indonesia.

Tentang Nefertiti yang tak punya uang, ya gimana lagi. Dia kan dalam rangka melarikan diri ke Santorini. Untung di sana dia diterima oleh Angeliki, pemilik hostel yang baik hati, dan Timotheos, anaknya, yang seorang selective mutism (hanya mau berbicara pada orang tertentu saja). Mereka berdua baik sekali sama Nefertiti, Angeliki bahkan memberi uang agar Titi bisa keluar dari Santorini, setidaknya bisa sampai Berlin. Di Berlin dia akan menjumpai Brian, kakak tirinya, untuk minta bantuan supaya bisa kembali ke Indonesia (meski akhirnya tetap saja Titi nggak juga bisa pulang). Sedangkan Theos, telah menjadi teman perjalanan yang sangat menyenangkan dari Santorini hingga Athena. Theos yang tadinya tak pernah (kelihatan) bicara, ternyata bisa mengobrol banyak dengan Titi bahkan sampai Titi bisa menceritakan sebagian masa lalunya pada Theos.

Namun tetaplah mereka berdua harus berpisah. Titi terbang ke Berlin, dan Theos kembali ke Santorini. Dengan sebuah janji, “Kita akan berpelukan saat kehidupan jadi lebih baik. Dan saat itulah kita akan berpisah.” (hal. 62)

Pada Act II, kita diajak kenalan dengan tokoh utama kedua, Oliver. Di sini terungkap fakta bahwa Oliver sudah mencintai Nefertiti sejak kecil. Mereka berdua satu sekolah saat SD dan SMA. Saat kelas dua, Titi keluar dan menghilang. Sejak itu Oliver tak berhenti mencarinya. Hingga dia sampai ‘rela’ bersekolah di Hamburg demi mencari Titi.

Akankah mereka berdua ketemu?

Ketemu kok. *lho, kok spoiler ini?* Nggak, spoiler, karena inti dari cerita ini sebenarnya nggak di situ. Tapi malah lebih dalam lagi.

Nefertiti dilahirkan dalam keluarga yang sempurna, ayahnya seorang arsitek terkenal, ibunya seorang pelukis nomor satu Indonesia. Saat ayah dan ibunya bercerai, sang Ayah menikah lagi, dan lagi-lagi beristrikan seorang seniman. Istri baru ayahnya ini adalah seorang pianis nomor satu Jepang, punya satu anak bernama Brian. Brian sendiri sayang banget sama Nefertiti, dan menganggapnya seperti adik kandung sendiri. Dan Brian satu-satunya orang yang mengerti kebiasaan Nefertiti yang suka ngilang seenaknya.

Dari drama keluarga inilah kemudian petualangan hidup Nefertiti dimulai. Dia yang dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya, kemudian pergi ke Berlin. Katanya mau hidup dekat dengan ibunya. Tapi Nefertiti merasa sang Ibu membangun dinding tebal untuknya yang tak bisa ia tembus. Nefertiti berjuang keras untuk bisa mempunyai bakat seni supaya ibunya bisa bangga padanya, tapi Nefertiti selalu merasa gagal. Kegagalan ini membuatnya semakin menarik diri dari kehidupan sosial, dan dia pergi ke Santorini untuk kembali mengenali dirinya sendiri. Santorini akhirnya memang mengajarinya untuk lebih terbuka dan berani berbicara, yang kemudian membawanya kembali untuk menyusuri jejak-jejak masa lalunya.

Nefertiti hanya ingin dekat dengan ibunya. Ibunya juga ingin dekat dengan Nefertiti. Tapi, keduanya punya tembok tebal yang masing-masing dibangun karena lack of communication. Tapi, lack ini ternyata juga ada penyebabnya.

Endingnya? Baca sendiri.

Review

Setting novel ini bisa dibilang 90% berada di luar negeri, dari mulai Santorini Yunani, ke Berlin, Hamburg, dan Handorf. Jakarta, cuma kebagian sedikit saat Titi masih kecil, dan saat Oliver pulang dan mulai intens mencari Nefertiti. Dan ini yang menjadi kekuatan pertama buku ini yang langsung bisa kutangkap. Sedangkan untuk konflik, jalinan cerita dlsbg saya nggak bisa komen.

Maksud saya begini.

Jika seandainya alur cerita disusun runut dan runtut, dari A – Z, novel ini bakalan (pasti banget ini) kehilangan greget. Saya menangkap, justru karena alurnya mulai dari X lalu tiba-tiba maju ke G, kemudian secara runut sampai K lalu tiba-tiba langsung ke W, itulah yang membuat pembaca seperti ditarik ulur. Jelas nggak ya, penggambaran saya itu? 😆 Malah bingung sendiri.

Pada awalnya, saya kira usaha kepulangan Nefertiti dari Santorini ini adalah awal dari sebuah konflik. Tapi, ternyata itu merupakan imbas dari konflik utama. Kenapa Nefertiti bisa sampai terdampar di Santorini? Jawaban dari pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala ini ternyata terjawab di tengah novel. Lalu karier Nefertiti sebagai penari balet juga nggak serta merta diceritakan utuh dalam satu waktu, tapi terpencar-pencar di sepanjang novel. Kemudian hubungannya dengan Oliver. Ternyata mereka berdua ini sebenarnya konek sejak awal, tapi karena Nefertiti ini berhenti bicara pada usianya yang ke-13, maka buntulah semuanya. Lalu kenapa Nefertiti berhenti bicara? Ini ada hubungannya dengan sahabatnya, Mia. Padahal Mia pernah menghajarnya dulu waktu awal perkenalan, tapi malah jadi sahabat. Lalu Mia ini juga konek dengan Oliver, karena ada Arif adik Mia yang jadi teman Oliver. Oliver dan Brian, kakak tiri Nefertiti, juga ternyata terhubung dalam suatu kebetulan yang sangat smooth.

Yes, smooth. Semua terhubung dengan smooth! Itu dia.

Lalu tentang pemilihan nama tokoh, sepertinya tak ada yang tidak dipikirkan oleh penulis. Nama Nefertiti sendiri, merujuk pada Ratu Mesir itu. Oliver, merujuk pada Oliver Twist tokoh rekaan Charles Dickens karena ibu Oliver adalah seorang fans berat Dicken.

Kemudian, bagaimana dengan Coppelia?

Coppelia merupakan salah satu tarian balet terkenal ciptaan Arthur Saint Leon dan pertama kali ditampilkan di Paris pada tahun 1870. Coppelia bercerita tentang sebuah boneka yang sangat mirip dengan manusia, dibuat oleh Dr. Coppelius hingga membuat seorang pemuda lokal bernama Frans tergila-gila dan meninggalkan tunangannya, Swanhilde. Karena cintanya yang begitu dalam, Dr. Coppelius berambisi membuat Coppelia hidup dengan cara menjerat jiwa Frans.

Apa hubungan Coppelia dengan Nefertiti, selain bahwa Coppelia adalah nama tarian dan Nefertiti mendalami seni tari balet? Ternyata hubungannya dalam. Jawabannya ternyata terletak pada ibunya. Yes, saya benar-benar nggak mengira, ibu Titi-lah ternyata pembuat dan penyimpan rahasia besar hidup Titi. Semua jawaban ada di akhir novel.

Kalau lihat dan baca sinopsisnya memang tadinya saya mengira ini sejenis chicklit biasa yang menceritakan seorang perempuan yang sedang mengejar kariernya sebagai penari balet, dan kemudian cinta datang padanya. Sudah. Ternyata, konflik terbesarnya adalah keluarga. Dan sungguh. Tak ada kebetulan yang tak beralasan dalam novel ini. Saya masih terheran-heran, gimana caranya penulis bisa menghubungkan begitu banyak keruwetan hidup dalam satu cerita dipadu dengan setting luar negerinya yang sangat detail, plus karakterisasi tokoh yang juga sangat detail. Tak ada tokoh yang tak detail, bahkan para pemeran pembantu pun jelas sekali karakternya.

Dan semua dijelaskan tidak dengan telling. Padahal novelnya tipis lohh …

It’s all about communication. Novel ini memang menyoroti masalah komunikasi secara keseluruhan. Ada Mia yang tuna wicara (gimana bisa seorang ‘normal’ semacam Titi bisa berkomunikasi dengan baik dengan seorang tuna wicara tapi malah buntu dengan orang ‘normal’ lainnya?), Theos yang selective mutism, Titi dan ibunya yang punya hubungan dingin-dingin empuk namun sebenarnya saling mencintai dan mengagumi, dan Oliver yang harus menunggu sampai bertahun-tahun untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan Titi.

Dan, oh by the way, saya nggak akan bahas typo, karena apalah arti novel tanpa typo 😆 Saya pikir, typo hanya masalah remeh temeh yang nggak perlu diperdebatkan. Toh, ada typo atau enggak, nggak mengubah jalan cerita kan? So yeah, I quit talking about typo sudah sejak lama. Tapi ada satu nih yang ngganjel dalam novel ini. Tadinya saya kira ini typo, tapi kok diulang lagi di bagian lain. Film Batman yang dibintangi oleh Heath Ledger itu Dark Knight kan? Bukan Dark Night? 😀 Cuma beda satu huruf, tapi beda artinya besar loh 😀 hehe.

Quotes

  • Seperti inilah hidup yang seharusnya. Aku berguna untuk orang lain, dan mereka ada untukku. Aku lelah mencari cinta di mata orang-orang di sekitarku. Untuk sekali saja, aku ingin dibutuhkan, disayangi tanpa harus meminta. (hal. 49)
  • Tolong jaga mamaku. Dia bukan ibu yang terbaik tapi dia tidak terlalu buruk.. Dia mencintai orang lain seperti anjing mencintai pemiliknya. Dia hanya tahu bahwa mencintai orang tidak perlu meminta balik. Dia hanya mengenal cinta yang bertepuk sebelah tangan. (hal.58)
  • Luka karena kehilangan seseorang yang sangat kau cintai tak bisa begitu saja berkurang oleh waktu. Ada kalanya kau merasakan sakit yang beratus-ratus kali lipat. (hal. 117)
  • Nefertiti bukan gadis pemalu seperti yang kukira selama ini. Ia hanya gadis yang enggan membuka mulut. (hal. 129)
  • Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintai orang itu. Namun untuk alasan tertentu, kita memilih membencinya. Hal itu lebih baik daripada menganggapnya tak ada. (hal. 163)
  • Wanita memang suka dengan kisah yang membuat mereka sedih, sekaligus menginspirasi mereka untuk jadi lebih kuat. (hal. 186)

Overall

I love proses membaca Coppelia ini. Saya benar-benar menikmati dunia Titi yang diceritakan kembali oleh Novellina. Ada romansa cinta, ada misteri juga yang ditawarkan di sepanjang cerita. Setiap act pasti punya sesuatu baru yang diungkap, dan sesuatu yang lain lagi mengikutinya. Saya suka smoothness penceritaannya, saya suka cara penulis mengobrak abrik alur hingga menjadi alur campuran antara maju dan flashback untuk menambah puzzle cerita tapi tak membingungkan. Saran aja, nikmati proses membaca, biarkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul tetap ada hingga akhir cerita. Meski endingnya masih menyisakan pertanyaan, tapi sebenarnya tak perlu dicari jawabannya 😉

Rating

Saya punya tiga setengah bintang untuk Coppelia, tapi saya rasa saya akan ingat cerita dalam novel ini sampai kapan pun, dan karena itu saya dengan rela memberinya setengah bintang ekstra menjadi empat bintang!

Advertisements

One Comment Add yours

  1. ismyama says:

    Wah penasaran

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s