Kei

IMG_4139Judul: Kei
Penulis: Erni Aladjai
Penyunting: Jia Effendie
Proofreader: Mita M. Supardi
Desain Sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penata Letak: Landi A. Handwiko
Tebal: x + 254 halaman
ISBN: 979-780-649-9
Penerbit: Gagasmedia

Blurb

Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan. Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.

Mari kuceritakan tentang orang-orang yang bertemu di bawah langit sewarna biru. Orang-orang yang memilih marah, lalu saling menorehkan luka. Juga kisah orang-orang yang memilih berjalan bersisian, dengan tangan tetap saling memegang.

Mari, mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih, tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang cinta yang selalu ada dalam tiap cerita.

***

“Kei dituturkan lewat penokohan yang dinamis dan mendalam, pengelolaan alur yang intens dan kompleks tanpa menjadikan jalan cerita hilang. Latar yang dipilih pengarang berpadu secara selaras dengan konflik utama dalam cerita.”
Pidato A.S. Laksana — Sastrawan dan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.

Alur Cerita

Dibuka dengan adegan kepulangan Namira ke Kei, kemudian disambung dengan flashback-flashback yang menceritakan kehidupan Namira sejak ia lahir di Pulai Kei yang merupakan salah satu pulau di Kepulauan Maluku. Bagaimana kehidupan dan adat istiadat di sana dijunjung tinggi dan dihargai.

Namun semuanya akhirnya terkotori oleh ulah beberapa orang yang akhirnya menyulut kerusuhan besar di Ambon, dan meluas hingga ke pulau-pulau kecil di Maluku, termasuk Elaar, desa tempat Namira tinggal. Ayah dan Ibu Namira ikut menjadi korban. Ayahnya ditemukan telah tewas di pulau lain, sedangkan ibunya hingga akhir cerita masih tak diketahui nasibnya. Namira saat itu terbawa arus pengungsi hingga ke Langgur.

Di sanalah ia bertemu Sala.

Sala, seorang pemuda dari Watran, juga merupakan pengungsi korban kerusuhan. Ibunya malah mati di depan matanya. Nasib membawanya ke Langgur, dan menjadi relawan di sana. Untuk sementara Langgur memang masih aman, dan menjadi basecamp pengungsi.

Bibit-bibit cinta hadir di hati Namira dan Sala, meski keduanya berasal dari desa yang berbeda dan punya agama yang berbeda pula. Namun ternyata tak lama. Akhirnya Langgur juga rusuh, hingga Namira harus kembali lari ke Evu, ke rumah sahabatnya, Mery, yang juga berbeda agama dengannya.

Hingga saat Evu juga terkena imbas kerusuhan, Namira kembali ikut terbawa gelombang pengungsi hingga ke Makassar. Di Makassar, ia cukup beruntung karena berkenalan dengan Kumala, dan ditampung di rumahnya. Namira bekerja sebagai penjaga toko barang antik, dan ia cukup dicintai di rumah Kumala.

Bagaimana dengan Sala?

Review

Oke. Saya akan melihat dari keistimewaan dan juga kekurangcocokan saya dengan novel ini yah.

Keistimewaan novel ini, adalah deskripsi setting dan latar belakang budaya yang sangat sangat sangat detail. Seakan saya memang dibawa ke Maluku, dan Kei pada khususnya. Seakan saya sedang diceritain oleh orang Kei asli mengenai segala aspek kehidupan di sana. Tak hanya itu, pendeskripsian settingnya juga luarrrr biasa. Kita bisa membayangkan bagaimana kondisi alamnya, bagaimana penduduk hidup, sampai-sampai saya bisa merasakan bau asin air lautnya. Ini nggak lebay loh. Beneran.

Tapi …

Deskripsi yang sangat sangat sangat mendetail mengenai setting dan latar belakang budaya itu, justru malah membuat saya lost. Saya kurang mendapatkan emosi, padahal kalau dipikir-pikir … Ya ampun. Itu tuh kerusuhan paling nggak manusiawi setelah kerusuhan Poso. CMIIW. But, kenapa bacanya berasa datar banget? Iya sih, digambarkan kepala manusia terpisah, tubuh-tubuh terbakar dan lain sebagainya.

But, that’s it!

I mean, mungkin malah wartawan tabloid gosip malah lebih bisa menggambarkan karakter artis tertentu hingga saya bisa sampai sebel pengin nonjok mukanya ketimbang penggambaran karakter manusia dalam novel ini. Ya, itu ekstrem sih pembandingnya 😆

Iya sih, saya menikmati saat penulis melukiskan betapa adat dijunjung, betapa alamnya begitu indah. Tapi ya sudah. Seakan-akan saya cuma dikasih buku nonfiksi aja tuh, bahkan mungkin kayak lagi baca buku pelajaran.

Maaf ya … Meski saya selesai membacanya, tapi hmmmm … I guess it’s not my cup of tea 🙂

Quote

Meski begitu, saya mencatat ada buanyak sekali pelajaran bisa saya petik, dan juga quote yang jleb banget dalam novel ini.

  • Usia adalah penanda waktu. Waktu yang kadang bisa merenggang dan menyusut, mengajarkan pengampunan. Memunculkan kembali rasa cinta dan menyusutkan dendam. (hal. 3)
  • Mengapa kerusuhan selalu diawali dengan ulah anak-anak muda? Apakah mereka sengaja dibayar untuk mengacau? Adakah seorang yang punya kuasa selapang langit merencanakan ini semua? (hal. 21)
  • Orang yang meredakan segala keinginannya, bagai air yang reda di dalam lautan, meskipun diisi olehnya namun tak pernah meluap–orang yang demikian inilah yang menemukan kedamaian, bukan orang yang menuruti keinginan hatinya. (hal. 37)
  • Sebenar-benarnya lelaki adalah lelaki yang marah karena melihat kehormatan perempuan dilecehkan. (hal. 45)
  • Kasih itu sabar. Kasih itu murah hati. Tidak cemburu. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tidak melakukan yang tak sopan dan tak mencari keuntungan diri sendiri. Tak pemarah dan menyimpan kesalahan orang lain. (hal. 133)
  • Yang mengatur kasih sayang itu Tuhan. Jadi, kita tak bisa memilih pada siapa hati diberikan. Hati selalu punya pilihan sendiri. (hal. 141)
  • Hati-hati dengan pikiranmu, karena akan menjadi tindakanmu. Hati-hati dengan tindakanmu karena akan menjadi kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaanmu karena akan menjadi karaktermu. Hati-hati dengan karaktermu karena akan menjadi takdirmu. (hal. 209)

Overall

… Yah, untuk deskripsinya saya bisa bilang, it’s brilliant! Tapi untuk jalan ceritanya (karena ini adalah sebuah novel), saya … hmmmmm 😐

Rating

Dua bintang

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s