Di Kaki Bukit Cibalak

IMG_4146Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis: Ahmad Tohari
Desain dan Ilustrasi: eMTe
ISBN: 978-602-03-0513-4
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Perubahan yang mendasar mulai merambah Desa Tanggir pada tahun 1970-an. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur.

Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu, Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap Kepala Desa Tanggir yang curang, dan berhasil.

Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik yoko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.

Alur Cerita

Seperti biasa, cerita selalu didahului dengan deskripsi setting pedesaan. Desa Tanggir, adalah desa sebagaimana desa di Indonesia. Banyak persawahan, berada di lereng bukit, dengan hutan jati yang membatasi desa. Seperti biasa pula, Ahmad Tohari mendeskripsikan dengan menyebutkan berbagai nama flora dan fauna yang bahkan saya *yang masih termasuk angkatan lawas* pun belum pernah mendengarnya. Belukar puyengan, burung kucica, dan seterusnya. Namun, perlahan semua itu lenyap dari Desa Tanggir, tergerus arus modernisasi.

Tak terdengar lagi korakan kerbau karena binatang itu telah banyak diangkut ke kota, dan di sana akan diolah menjadi daging goreng atau makanan anjing. (hal. 6)

Membaca opening sebuah novel yang seperti itu saja, rasanya miris banget di hati.

Cerita kemudian mengalir ke saat-saat pemilihan kepala desa. Saat semua orang berbondong-bondong untuk memberikan suaranya. Persoalannya kira-kira sangat persis dengan apa yang sering terjadi kapan pun (juga di masa sekarang), dan di mana pun. Beberapa calon kepala desa bertarung, namun hanya 2 nama yang muncul dengan karakter yang bertolak belakang mewakili yin dan yang. Dan yang manakah yang menang? Betul. Yang hitam. Putih, kalah.

Anyway, cerita kemudian bergerak ke saat kepala desa yang baru, yang korup itu memulai tugasnya.

Alkisah, Mbok Ralem datang ke koperasi desa, memohon bantuan pinjaman uang untuk memeriksakan lehernya yang sakit. Karena tak ada jaminan, maka pinjaman tak bisa dicairkan. Pambudi, si petugas koperasi, lantas membawa Mbok Ralem menghadap Kepala Desa. Seperti yang bisa ditebak, Kepala Desa menolak pengajuan pinjaman Mbok Ralem, meski atas nama kemanusiaan.

Pambudi meradang. Apalagi saat Kepala Desa malah mengajaknya untuk mencurangi kas koperasi desa, demi mempertebal kantong pribadi. Serta merta Pambudi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai petugas koperasi.

Setelah mundur, Pambudi membawa Mbok Ralem berobat hingga ke Yogya dengan merogoh kocek pribadinya. Ternyata Mbok Ralem mengidap kanker getah bening. Tentu saja, biaya pengobatan membengkak, dan di luar perkiraan Pambudi. Di tengah masalah tersebut, Pambudi punya ide untuk membuka dompet kemanusiaan melalui Kalawarta, sebuah koran lokal Jogja. Di luar dugaan lagi, ternyata yang menyumbang banyak sekali. Mbok Ralem bisa berobat, operasi bahkan masih ada sisa uang yang bisa dibawanya pulang.

Kasus ini menjadi terkenal, namun ternyata berdampak nggak baik buat Pambudi. Kepala Desa beserta Pak Camat dipanggil Pak Bupati untuk ditegur, karena dinilai lalai mengurus warganya. Dendamlah Kepala Desa pada Pambudi, hingga diembuskannya fitnah Pambudi melarikan uang kas koperasi.

Atas saran ayahnya, akhirnya Pambudi pergi dari Tanggir dan merantau ke Jogja.

Gimana lanjutannya?

Sedikit spoiler, Kepala Desa Tanggir akhirnya memang bisa dikalahkan, bahkan dipecat dari jabatannya. Semua karena usaha Pambudi yang cerdas, melibatkan koran Kalawarta.

Review

Sederhana.
Settingnya sederhana, konfliknya sederhana, karakter tokoh-tokoh yang juga sederhana: hitam dan putih, dan akhirnya memang pastilah yang putih menang. Everyone is happy.

Jangan mengharapkan ada tebak-tebakan dalam novel seperti ini. Nggak akan ada 😆 Yang bisa dinikmati adalah justru kesederhanaannya itu. Dan selamat berkenalan dengan hal-hal ndeso yang kini sudah punah: sawah, lumbung, hutan jati, kicauan kucica, lenguhan sapi dan lain-lain. Bahkan nominal-nominal uang pun begitu sedikit. Pambudi difitnah melarikan uang sebesar seratus ribu sekian. Mungkin saat itu (tahun 70-an) memang banyak sekali ya. Tapi saya nggak bisa menghindari pikiran, lha cuma dikit amat ngefitnahnya. Nanggung. 😆 *abaikan*

Di situ aja sih lost-nya. Padahal logikanya ya bener sih, zaman segitu soalnya. Mana ada duit milyaran. Iya kan? But still … 😆 Abaikan aja deh, itu cuma perasaan saya aja kayaknya.

Oh well. Saya nggak bisa komen lebih jauh lagi. Novel ini bagus buat referensi, itu aja 🙂

Rating

Tiga dari lima bintang yang saya punya.

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s