Klub Solidaritas Suami Hilang

IMG_4149Judul: Klub Solidaritas Suami Hilang
Penulis: Intan Paramaditha, A Muttaqin, Agus Noor, Arswendo Atmowiloto, Dewi Ria Utari dkk.
Perancang Sampul: A. N. Rahmawanta
Illustrasi Sampul: Bambang Heras
Tebal: xx + 248 halaman
ISBN: 978-979-709-838-4

Blurb

Buku ini membuktikan bahwa regenerasi cerpenis di Indonesia berlangsung secara terus menerus dan simultan. Karya-karya para cerpenis kawakan seperti Gerson Poyk, Putu Wijaya, Budi Darma, Arswendo Atmowiloto,, Gde Aryantha Soetama, dan F Rahardi, bersanding dengan karya-karya para cerpenis yang lebih muda seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Agus Noor, Indra Tranggono, Gus tf Sakai, Triyanto Triwikromo, Damhuri Muhammad, Intan Paramaditha, Noviana Kusumawardhani, AK Basuki, dan Dewi Ria Utari. Bahkan memasukkan juga nama-nama muda seperti Sungging Raga, Guntur Alam, A Muttaqin, dan Zaidinoor.

Karya-karya mereka menumbuhkan optimisme bahwa sastra kita tak pernah mati.

Review

Seperti biasa, saat saya sedang menulis review tentang buku cerpil Kompas, saya nggak akan menulis mengenai opini saya. Saya hanya memaparkan pengalaman membaca saya sembari cerita apa saja yang saya temukan di sini. Karena, sekali lagi, saya tegaskan, saat saya sedang membaca buku cerpil Kompas, saat itu saya sedang belajar menulis lebih baik 😀

Oke, mari kembali ke buku.

Cerpil “Klub Solidaritas Suami Hilang” ini merupakan cerpil tahun 2013. Masih cukup baru. Di dalamnya ada 23 cerpen, ada yang saya suka, ada yang nggak terlalu bisa saya nikmati, ada juga yang saya nggak mudeng 😆 Yamaab, saya memang cuma sebegini aja sih. Ke-23 cerpen itu adalah:

  1. Bulan Biru – Gus tf Sakai
  2. Amin – F Rahardi
  3. Serpihan di Teras Rumah – Zaidinoor
  4. Menebang Pohon Silsilah – Indra Tranggono
  5. Sumpah Serapah Bangsawan – Gde Aryantha Soethama
  6. Rumah Tuhan – AK Basuki
  7. Kota Tanpa Kata dan Air Mata – Noviana Kusumawardhani
  8. Klub Solidaritas Suami Hilang – Intan Paramaditha
  9. Piutang-piutang Menjelang Ajal – Jujur Prananto
  10. Trilogi – A Muttaqin
  11. Percakapan – Budi Darma
  12. Serigala di Kelas Almira – Triyanto Triwikromo
  13. Pengacara Pikun – Gerson Poyk
  14. Ulat Bulu & Syekh Daun Jati – Agus Noor
  15. Laki-laki Tanpa Celana – Joko Pinurbo
  16. Malam Hujan Bulan Desember – Guntur Alam
  17. Lelaki Ragi dan Perempuan Santan – Damhuri Muhammad
  18. Alesia – Sungging Raga
  19. Eyang – Putu Wijaya
  20. Nenek Grendi Punya HP, tapi Berharap Sungai – Arswendo Atmowiloto
  21. Pada Jam 3 Dini Hari – Dewi Ria Utari
  22. SAIA – Djenar Maesa Ayu
  23. Aku, Pembunuh Munir – Seno Gumira Ajidarma

Buku ini dipenuhi oleh cerpen-cerpen politis. Dibuka oleh Gus tf Sakai dengan cerpennya Bulan Biru. Pada awalnya sepertinya sangat fairy tale dengan opening yang bercerita mengenai malam pada zaman binatang bisa bicara seperti manusia. Seorang gadis cilik mengejar belanga yang berlari yang ternyata adalah seekor kura-kura. Singkat cerita keduanya terdampar di sebuah tempat di mana orang-orang sedang ramai bekerja bergotong royong mendirikan bangunan. Adalah satu bagian yang sangat menyentil secara politis.

“Jadi bagunan ini dibuat atas perintah raja? Lalu, kenapa raja ingin bangunan ini selesai lebih lama dan lebih sulit?”

“Itulah yang tadi kusebut goda kuasa. Dengan lebih lama dan lebih sulit, orang-orang, para rakyat ini, hanya akan terpaku pada pembangunan ini. Rakyat akan jadi lupa bagaimana raja menjalankan negara. Rakyat jadi tak peduli pada apa pun, juga pada berapa lama sang raja berkuasa.” (hal. 6)

Huh.. Sounds familiar?

Cerpen politis kedua oleh F. Rahardi, Amin. Salah satu cerpen terfavorit saya dalam buku ini. Bercerita mengenai saat-saat demo kehebohan saat Soeharto runtuh. Seorang lelaki diceritakan duduk bersila dengan dua tangannya ia sedekapkan ke dada. Dia duduk begitu sejak pagi di trotoar Jalan Merdeka Utara pas di depan Istana Merdeka. Dia diam saja, hanya kalau ada orang lewat di depannya dia akan berkata, “Amin.” Begitu terus. Cuma begitu saja, ternyata dia dianggap mengganggu sekali hingga sampai-sampai tentara menurunkan tank untuk mengusirnya 😆 Lebay? Iya, lebay. Tapi coba deh, direnungkan makna di balik cerita ini. Ya, dia cuma duduk, berkata “Amin”, tapi tak ada yang bisa membuatnya bergerak. Tank pun tidak. Saya nggak akan menuliskan apa yang terlintas di benak saya saat selesai membaca cerita ini. Hanya akan menggarisbawahi, usaha -meskipun sepele- jika dilakukan secara terus menerus pasti akan membuahkan hasil juga. Be persistent! 😆

Serpihan di Teras Rumah, karya Zaidinoor, juga sarat akan kegelisahan para manusia yang tergerus zaman. Adalah Ni Siti, seorang perempuan tua yang hidup dari mengambil getah karet, harus merelakan mata pencahariannya sedikit demi sedikit terancam karena adanya pertambahan batu bara (?) di desanya.

Cerpen politis lainnya adalah Menebang Pohon Silsilah yang menceritakan seorang anak berbapak politikus, bahkan Klub Solidaritas Suami Hilang pun saya curigai juga bermuatan politis 😆 Dan tentu saja cerpen Aku, Pembunuh Munir yang jadi terfavorit. Menceritakan tentang pembunuh sang aktivis dari kacamata si pembunuh, namun jati dirinya tetap dirahasiakan. Apalagi dengan pernyataan SGA yang menyebutkan, “Kalau jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara” membuat cerpen ini makin keliatan muatan politisnya 😀

Alesia, cerpen yang ditulis oleh Sungging Raga, menjadi cerpen lain terfavorit saya. Bercerita dari sudut pandang anak kecil selalu mampu membuat hati perih-perih sedep (?). Begitu juga dalam cerpen ini. Alesia punya ibu yang sakit. Mereka berbincang tentang kematian. Ibunya bilang bahwa kematian itu indah, karena dijemput malaikat. Maka sejak itu Alesia pun bersiap untuk menyambut malaikat, dengan kopi dan pisau. Apa yang dilakukannya dengan kopi dan pisau pada sang malaikat? Baca sendiri aja ah 😆 Bangke pokoknya twistnya. Damn!

Keliaran imajinasi khas cerpil Kompas saya alami saat membaca Serigala di Kelas Almira milik Triyanto Triwikromo. Saya ngekek pas baca cerpen Eyang (Putu Wijaya) dan Nenek Grendi Punya HP, tapi Berharap Sungai (Arswendo Atmowiloto). Keduanya punya kemasan ringan menghibur, tapi kalau dibaca dengan teliti, keduanya memotret tingkah laku manusia akhir-akhir ini. Ulat Bulu & Syekh Daun Jati pernah saya baca, tapi di buku yang mana ya? Kok lupa 😀 Maaf. Muatan lokal sangat kental di cerpen Lelaki Ragi dan Perempuan Santan khas Damhuri Muhammad. Cerpen lain yang bikin susah move on adalah Pada Jam 3 Dini Hari (Dewi Ria Utari).

Well yeah, kumcer ini memang dipenuhi oleh cerita-cerita yang bikin saya susah moveon. Karena itu saya lama sekali baru bisa selesaikan. Baik susah  moveon saking amazingnya, atau susah moveon saking nggak mudengnya 😆 Beberapa yang bikin kening saya berkerut berlarut-larut adalah Pengacara Pikun, Trilogi dan Laki-laki Tanpa Celana.

Tapi menurut saya memang Aku, Pembunuh Munir sangat layak menjadi penutup yang mengentak. *sembah Empu SGA*

Nah, lalu kenapa Klub Solidaritas Suami Hilang milik Intan Paramaditha yang menjadi cerpen utama dalam buku ini? Saya petikkan aja esainya ya, yang ditulis oleh Efix Mulyadi, salah satu juri cerpil Kompas ini.

Para juri melihat pengarangnya menguasai alat-alat penuturannya dengan sangat baik. Karakter-karakter yang punya unikum masing-masing bermunculann seperti tanpa sengaja, namun jelas disiapkan di dalam orkrestasi yang serba terukur. Dengan kalimat-kalimat pendek, namun efektif, pengarang memadatkan berbagai peristiwa sedih, tragik, dan ironik, yang umumnya terbaca lewat sekilas narasi dan sekelebat dialog. Berbagai adegan yang sesungguhnya mencekam dengan berbagai cara diredam dan disampaikan dengan datar, yang justru menjadi salah satu daya tohoknya.

Hmmm, jadi memang penceritaan secara datar itu malah bisa membuat cerita makin menyeramkan. Tapi ini tergantung juga keahlian penulisnya sih 😀 Mari belajar 😀

Overall

Seperti yang sudah saya tulis di atas, cerpen-cerpen dalam Cerpil Kompas 2013 ini membuat saya susah moveon. Agak jarang saya mengalami ini saat membaca kumcer. Kalaupun ada, biasanya saya susah moveon dari 2 – 3 cerpennya saja. Tapi yang ini, hampir semua. Ya susah moveon karena saking amazednya, atau saking nggak mudengnya 😀 Tapi terima kasih, saya sudah berhasil menarik pelajaran menulis dari beberapa di antaranya. Yang lain barangkali bisa saya baca ulang kapan-kapan.

Rating

Saya punya lima bintang semua untuk kumcer ini 🙂

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. fandy says:

    aku belum punya bukunya -_- penasaran pengin baca

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s