The Lost Years

C360_2015-09-29-08-47-34-930Penulis: Mary Higgins Clark
Penerjemah: Utami D
Editor: Yuki Anggia Putri
Desainer Sampul: Yudi Nur Riyadi
Tebal: vii + 363 halaman
ISBN: 978-602-7596-56-6
Penerbit: Esensi – Erlangga Group

Blurb

Jonathan Lyons, seorang ahli alkita, meyakini telah menemukan sebuah perkamen langka, satu-satunya surat yang ditulis oleh Yesus Kristus. Surat yang dicuri dari Perpustakaan Vatikan pada tahun 1500-an itu dianggap hilang selama ini.

Kini, Jonathan dapat mengonfirmasikan penemuannya kepada beberapa ahli lain dan meminta mereka merahasiakannya. Namun, Jonathan curiga bahwa salah satu dari mereka ingin menjual perkamen itu.

Beberapa hari kemudian, Jonathan ditemukan tewas ditembah di ruang kerjanya. Di saat yang sama, istrinya Kathleen, yang menderita Alzheimer, ditemukan bersembunyi dalam lemari di ruang kerja dalam keadaan bingung dan menggenggam pistol. Walaupun sakit, Kathleen tahu bahwa suaminya selama ini berhubungan dengan wanita lain.

Apakah Kathleen membunuh suaminya karena cemburu, seperti dugaan polisi? Ataukah kematiannya berkaitan dengan pertanyaan besar yang muncul: Siapakah yang memiliki perkamen tak bernilai yang sekarang menghilang itu?

Semuanya kini bergantung pada putrinya, Mariah, untuk membersihkan nama ibunya dari dakwaan pembunuhan dan mengungkap mister di balik kematian ayahnya.

Novel ini menceritakan misteri pembunuhan dan perburuan sebuah benda religius yang dianggap sangat berharga dan merupakan harta karun arkeologis sepanjang masa.

Jalan Cerita

Jadi seperti yang sudah ditulis dalam blurb, novel ini bercerita mengenai misteri terbunuhnya seorang arkeolog kawakan bernama Jonathan Lyons. Jonathan Lyons, berumur sekitar 70-an tahun, beristrikan Kathleen. Kathleen ini menderita dementia atau Alzheimer, sehingga kadang-kadang meracau nggak jelas. Apalagi setelah dia ditemukan sedang memegang pistol yang membunuh suaminya. Meski agak-agak diragukan sejak awal, bahwa dialah yang membunuh Jonathan, tapi mau nggak mau kita harus mengikuti penyelidikan polisi terhadapnya.

Jonathan ditemukan tewas tertembak di rumah saat itu. Hanya ada Kathleen saja, sedangkan perawatnya, Rory, yang sejak awal sudah digambarkan punya karakter antagonis, disuruh pulang oleh Jonathan. Mariah sendiri sedang berada di apartemennya di lokasi lain yang cukup jauh dari rumah, segera pulang setelah menelepon ayahnya yang gelisah. Ternyata dia menemukan Jonathan sudah tewas di ruang kerja.

Dari pembunuhan Jonathan, pembaca lantas dibawa ke kisah perkamen kuno yang hilang. Konon, perkamen tersebut merupakan satu-satunya surat yang ditulis oleh Yesus sendiri kepada Yusuf dari Arimatea. FYI, Yusuf dari Arimatea memang telah banyak menolong Yesus. Bahkan menurut novel ini, Maria dan Yesus yang harus mengembara ke tanah Mesir karena menghindari pembantaian Herodes, sebenarnya dibawa oleh Yusuf dari Arimatea ini. Nah, pada periode antara penyaliban Yesus hingga kemudian Yesus wafat, Yesus sempat menulis surat terima kasih ini untuk Yusuf Arimatea. Surat ini disimpan di Vatikan, hingga kemudian di tahun 1500-an dibawa pergi oleh salah seorang biarawan, dengan alasan penyelamatan karena Paus Sixtus IV berencana untuk memusnahkan surat tersebut. Atas perintah salah seorang kardinal, maka perkamen tersebut dibawa pergi dari Biblioteca Secreta.

Jonathan mengaku menemukan perkamen yang hilang ini. Lalu untuk memastikan apakah perkamen itu asli, maka dia memberitahukan dan memperlihatkan perkamen yang ditemukannya kepada beberapa ahli. Nah, di sinilah kemudian semuanya berawal. Ada beberapa nama ahli yang kemudian masuk ke daftar tersangka.

Ohya, Jonathan ini punya selingkuhan bernama Lilian Stewart. Lilian ini juga bukan sekadar lewat doang. Apalagi kemudian kecurigaan mengenai pembunuh Jonathan sempat tergeser padanya.

Lalu, siapa yang membunuh Jonathan? Siapa yang membawa perkamen itu sekarang?

Baca sendiri. Heuheuheu.

Review

Memang nggak salah Mary Higgins Clark menyandang gelar sebagai The Queen of Suspense.

Novel ini memang penuh teka-teki dari awal hingga akhir. Penuh puzzle, yang potongannya dilemparkan satu per satu ke hadapan pembaca. Kadang saya merasa lost. Saya nggak ngerti kenapa bagian ini dan itu harus diceritakan, karena sekilas nggak ada hubungannya sama jalan cerita. Jujur, saya hampir nggak sabar mengikuti kisah Mariah ini 😆 Kayak terlalu banyak misteri dan teka-teki datang bertubi-tubi aja gitu, tanpa keliatan polanya.

Kayak misalnya, Mariah punya tetangga seorang pengacara bernama Lloyd. Lloyd ini punya istri yang berbisnis perhiasan mahal. Nah, malam itu saat ada dua detektif yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan Jonathan datang ke rumah Mariah untuk menanyai Kathleen, perhiasan-perhiasan mahal tersebut dirampok.

Saya pikir, meh, apa-apaan ini pakai acara rampok-rampok. Nggak ada hubungannya. Malah bikin bias konflik utama aja. Tapi …. ternyata, pemirsah! Acara perampokan perhiasan ini malah menjadi salah satu ‘kunci’ terkuaknya misteri pembunuhan Jonathan! Beugh!

Ya itu cuma salah satu contoh aja sih.

Selanjutnya saya beri gambaran aja buat yang mau ikutan baca buku ini. Sejak awal, Mary Higgins Clark sangat detail menceritakan karakter tokoh-tokohnya. Dari mulai para detektifnya, para tamu pelayat almarhum Jonathan, hingga ada Alvirah yang kadang terasa “suddenly came from nowhere” 😆 Saran, ikuti saja alur yang sudah dikasih sama Mary Higgins Clark. Tokohnya juga banyak banget, jadi jangan sampai ketuker 😆

Saya juga agak lost saat mengikuti Point of View penceritaan yang dipakai oleh Mary Higgins Clark di sini. Kadang dari orang ketiga yang tahu segalanya, kadang dari PoV Mariah. Pokoknya berganti-ganti, tanpa ada batasan yang jelas. Kadang ada “dia” atau penyebutan “Mariah”, lalu tiba-tiba menjadi “aku” dan saya baru ngeh kalau saat itu sedang terjadi monolog dalam batin Mariah. Tadinya saya kira mungkin editingnya yang lupa memiringkan atau ngasih tanda petik atau gimana. Tapi setelah liat di Goodreads, ternyata rata-rata pembaca mengeluhkan hal yang sama.

Saya sudah membaca beberapa buku yang ditulis oleh Mary Higgins Clark, yang favorit saya adalah “Pretend You Don’t See Her”. Saya suka banget novel itu, dan kerasa banget suspense-nya. Buku ini sepertinya belum menggantikan Pretend You Don’t See Her dalam top favorit saya. Tapi, ya, suspense-nya kurang lebih sama. Apalagi mendekati akhir novel, benar-benar page-turner.

It’s good to read another of your book, Miss Clark 🙂 Can’t wait to read another more.

Kalau mau baca buku ini, bisa beli langsung aja ke sini.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. ini salah satu pengarang fav ku…setelah sidney sheldon pastinya :D… krn udh srg baca buku2nya, aku srg ambil kesimpulan, kebanyakan penjahatnya biasanya justru ga disangka2 ;p… walopun kdg2 malah udh jelas dr awal siapa, tinggal proses penangkapannya aja :D. tp seru kok cerita2 MHC

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s