The Swan

IMG_4261Judul: The Swan
Penulis: Dewi Ria Utari
Desain Sampul: Lambok Hutabarat
Setting: Fitri Yuniar
Tebal: 167 halaman
ISBN: 978-979-22-5974-2
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Pernahkah kalian merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung sedunia? Itulah yang dirasakan Clarissa. Mamanya mantan model terkenal dan papa Clarissa seorang produser yang dulunya seorang aktor ternama. Kakaknya, Ivan juga seorang model. Sementara dirinya? Cuma gadis usia 14 tahun yang berwajah sangat biasa banget.

Clarissa semakin mengutuk penampilan dirinya yang tak seindah Papa, Mama, dan Ivan, saat ia merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya. Perasaan itu muncul setiap kali ia berdekatan dengan Raka. Padahal Raka sudah ia kenal sejak kecil. Maklum Raka adalah teman dekat Ivan. Tapi kenapa perasaan itu baru muncul sekarang ya?

Perasaannya hancur lebur saat Raka mengaku naksir Amara, sahabat baru Clarissa, yang baru datang dari luar negeri. Wajar sih sebenarnya. Amara sangat cantik, pintar dan memiliki selera humor yang keren. Sementara dia? Tak lebih dari seekor itik buruk rupa di sebelah Amara. Bahkan itik di dalam keluarganya sendiri.

Apakah ia harus menyerah saja untuk membiarkan perasaannya hangus begitu saja? Sementara ia melihat sendiri semangat Amara untuk bisa meluluhkan hati Ivan, meski Amara tahu bahwa Ivan sudah memiliki Agni. Harusnya ia bisa seperti Amara yang pantang menyerah.

Di tengah kegalauan ini, masalah Clarissa makin bertumpuk saat mendapati papanya tengah dekat dengan seorang wanita. Rasanya semua masalah itu terlalu besar buat dirinya. Tak heran saat Bayu datang dalam kehidupannya, Clarissa merasa ada seseorang yang bisa memahami dirinya. Toh tak semudah itu bagi Clarissa untuk menghilangkan perasaannya pada Raka. Di satu sisi, perhatian Bayu membuat Clarissa merasa tak lagi menjadi seekor itik buruk rupa.

Alur Cerita

Clarissa, anak seorang model terkenal dan seorang produser film, adalah anak kelas 3 SMP yang dibandingkan dengan orangtuanya dan jug abangnya, adalah anak yang biasa-biasa aja.

Meski diceritakan secara lebay, bahwa orangtua Clarissa tajir abis, cantik banget dan ganteng banget, Clarissa ternyata nggak seberuntung itu mewarisi keindahan fisik dari para orangtuanya. Berbeda dengan Ivan, si abang, yang ganteng banget, masih SMA tapi udah jadi seorang supermodel andalan model agency milik mamanya. DI sekolah pun Clarissa ini juga termasuk anak yang biasa banget.

Lalu datanglah Amara, anak baru di sekolah Clarissa yang dengan cepat menjadi sahabat Clarissa. Amara ini pindahan dari Ceko (kalau nggak salah ingat), jadi semua pelajaran sekolah di Indonesia terasa gampang banget buat dia. Amara naksir Ivan, abang Clarissa. Padahal Ivan sudah pacaran sama Agni, yang juga seorang supermodel Indonesia yang cari makan di Singapura. Ivan punya sahabat bernama Raka, yang juga dekat sama Clarissa. Raka suka sama Amara, yang dinilainya begitu dewasa dan seksi (padahal baru kelas 3 SMP pun). Sedangkan Clarissa, dia sebenarnya naksir berat pada Raka yang sebenarnya sudah seperti abangnya sendiri secara mereka tumbuh bersama.

Nah, dari taksir-taksiran muter-muter inilah cerita dimulai.

Dari mulai bareng-bareng membuktikan perselingkuhan ayah Clarissa (yang nggak terbukti), hingga kemudian karena untuk membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri Clarissa nekat melamar pekerjaan sebagai asisten pengarah gaya di model agency milik mamanya.

Clarissa bekerja keras dan membuktikan diri bahwa dia bukan lagi gadis kecil seperti yang dianggap oleh orang-orang. Dia mampu membuktikan bahwa dia mampu dan punya kepribadian yang dewasa. Dalam pekerjaan itulah, Clarissa akhirnya bertemu Bayu, seorang fotografer fashion.

Terus gimana akhir dari kisah cinta yang begitu rumit ini?

Review

Oke. Saya nggak akan review terlalu panjang, karena paling-paling akan jadi review yang pekat emosi. Halah lah. Bahasamu, Ra πŸ˜†

Saya pertama kali jatuh cinta pada tulisan Dewi Ria Utari di buku “Dari Datuk ke Sakura Emas”, dan kemudian setelah itu saya selalu menemukan tulisan cerpennya di setiap buku cerpil Kompas yang saya baca. Tak selalu menjadi yang terfavorit, tapi selalu bisa saya nikmati.

Maka, jangan salahkan saya kalau saya punya ekspektasi tinggi terhadap novelnya ini. Tapi … ada beberapa kesalahan memang sehubungan dengan novel ini.

Kesalahan pertama. Saya kira tadinya novel ini novel sastra. Melihat semua track record Dewi Ria Utari, rasanya wajar saya mengira begitu. Saya benar-benar nggak tahu kalau ternyata ini teenlit. Teenlit yang benar-benar teenlit. Teenlit yang sinetron, teenlit yang FTV. Soal genre ‘teenlit’ sendiri, sebenarnya imejnya dalam otak saya sudah agak dikatrol sejak saya baca FlipFlop. Tapi setelah baca novel ini, tiba-tiba anggapan teenlit itu bacaan yang cool kembali runtuh 😦

Kesalahan kedua. Saya tak menemukan nama editor dan proofreader dalam credit title. Hmmmm, ada apakah wahai Gramedia? Mengapa sampai tak ada editor dan proofreader untuk novel ini? Barangkali ada alasan tersendiri mengapa sampai tak ada editor dan proofreader. Dan barangkali pula, itulah alasan mengapa novel ini tata tulisnya nggak konsisten. Saya nggak mau ngelist apa saja yang bikin kelilipan. Saya cuma kasih contoh plothole aja. Misalnya, waktu Amara baru saja datang dan duduk di samping Clarissa. Rio, salah satu teman Clarissa, menulis surat ke Clarissa untuk tukeran tempat duduk yang tentu saja ditolak oleh Clarissa. Amara serta merta mengambil surat Rio, lalu menambah tulisan dalam surat balasan tersebut, lalu memberikannya pada Rio. Wait! Bukankah Amara baru saja datang? Kapan kenalannya sama Rio? Kok dia tahu Rio itu yang mana? Ah, tapi saya mah apalah apalah. Cuma seorang pembaca bawel.

Kesalahan ketiga … ah sudahlah. Lagian saya kira tadinya Mbak Dewi Ria akan bisa menjawab pertanyaan saya, bagaimana bisa seekor itik buruk rupa menjadi seekor angsa. Bukannya itik dan angsa itu beda spesies? Gimana caranya bisa berubah spesies? Disihir barangkali?

Mbak Dewi Ria Utari, barangkali Mbak lebih baik kembali menulis untuk Koran Minggu aja πŸ™‚ Karya Mbak luar biasa banget di situ. Apalagi cerpen “Pada Jam 3 Dini Hari” yang ada di cerpil “Klub Solidaritas Suami Hilang“. Bener-bener bikin susah move on, Mbak. Keren banget!

Gitu aja sih πŸ™‚

Dan … perlu dikasih rating ga ya? Saya nggak tega 😦

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s