Still Alice

C360_2015-11-27-09-57-46-354Judul: Still Alice
Penulis: Lisa Genova
Penerjemah: Anindita Prabaningrum
Editor: Yuki Anggia Putri
Desainer Sampul: Yudi Nur Riyadi
Tebal: 310 halaman
ISBN: 978-602-7596-92-4
Penerbit: Esensi – Erlangga Group

Blurb

Berkat kerja kerasnya, Alice Howland memiliki kehidupan yang membanggakan. Pada usianya yang kelima puluh, ia memiliki karier yang cemerlang sebagai profesor psikologi kognitif di Harvard skealigus ahli linguistik terkemuka. Ia juga memiliki suami yang sukses dan tiga anak yang sudah dewasa. Namun, berawal dari satu hari di mana ia tiba-tiba menjadi pelupa dan mengalami disorientasi, hubungannya dengan keluarganya dan dunia berangsur berubah. Akhirnya penyakit Alzheimer mengubah kehidupan Alice selamanya.

Novel ini telah diangkat ke layar lebar dengan bintang Julianne Moore, Alec Baldwin, dan Kristen Stewart.

Alur Cerita

Alice Howland adalah seorang dosen cemerlang di Universitas Harvard. Sehari-hari kegiatannya adalah mengajar, melakukan penelitian, menghadiri konferensi-konferensi, memberikan ceramah dan menulis buku. Kehidupan rumah tangganya juga cukup harmonis, bersuamikan John yang juga seorang dosen di universitas yang sama beranakkan tiga orang yang sudah dewasa; Anna, Tom dan Lydia. John, seperti halnya Alice, adalah seorang cendekia yang cukup senior meski usianya belum terlalu tua. Berdua mereka sering berkolaborasi untuk menghasilkan temuan-temuan riset terbaru yang penting untuk ilmu pengetahuan.

Alice hobi jogging. Setiap ada kesempatan, dia akan berlari mengitari kompleks rumahnya di Harvard Square. Mungkin ini semacam perumahan untuk dosen gitu kali ya. Nggak sama John sih, karena John nggak suka berlari tapi lebih menyukai jenis olahraga yang lain.

Saat Alice jogging inilah keanehan pertama kali muncul. Alice tersesat di kompleks rumahnya sendiri. Dia mengalami disorientasi. Dia mengenali bangunan-bangunan di sekitarnya tetapi tak bisa menentukan arah. Dia terserang panik, tapi untunglah setelah menenangkan diri, dia kembali bisa mengingat jalan mana yang harus ditempuhnya untuk pulang ke rumah.

Dan, kejadian itu kemudian diikuti oleh kejadian-kejadian aneh lainnya. Karena semua keanehan tersebut, Alice pun memeriksakan diri ke dokter saraf. Dan, dia didiagnosis mengidap Alzheimer.

Ini menjadi pukulan berat untuk Alice. Dia masih berusia 50 tahun, seorang dosen pula. Sepertinya nggak mungkin banget kena Alzheimer.

Tapi serentetan peristiwa kemudian terjadi. Seperti dia melupakan agenda konferensi, lupa pada orang-orang yang dikenalnya bahkan ditemuinya setiap hari, kinerjanya kacau karena dia sering mengulang materi ajar, bahkan pernah hadir di ruang kelas dan duduk bagaikan mahasiswa padahal saat itu dia harusnya ngajar. Hingga yang terparah, dia ngompol karena tak tahu di mana letak kamar mandi di rumahnya sendiri, dan mengenakan celana dalamnya di kepala karena mengira itu adalah bra. Oh. My. Gosh. 😦

Karena sadar nggak akan mampu lagi menyandang pekerjaan sebagai dosen, Alice akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri, dan hanya tinggal di rumah. Ini ternyata juga menjadi masalah tersendiri untuknya. John, suaminya, harus bekerja. Sedangkan anak-anaknya juga sibuk. Alice merasa diabaikan. Apalagi ditambah kenyataan bahwa Alzheimer yang dideritanya bisa saja terwariskan pada anak-anaknya, membuat Alice semakin down. Anna dan Tom menjalani tes Alzheimer, sedangkan Lydia tidak. Anna, anak pertamanya, juga divonis memiliki bibit Alzheimer ini, padahal dia sedang berencana punya anak.

Apa yang kemudian terjadi, sebaiknya kamu baca sendiri saja novelnya.

Review

Tadinya saya kira, Alzheimer adalah penyakit yang biasa terjadi pada orangtua, dan lebih dikarenakan si penderita ini malas melatih otaknya. Karena sedikit “aus” yang hanya dibiarkan saja akhirnya ya gitu deh, bertambah parah.

Ya, itu yang selalu ada di pikiran saya mengenai Alzheimer, alias pikun. And I thought, it was kind of cute melihat nenek-nenek melupakan nama-nama cucunya. Orang-orang juga sering banget menertawakan nenek-nenek atau kakek-kakek pikun seperti ini kan? Saya sendiri sering banget liat. Beberapa bahkan joking on them.

Membaca buku ini membuat saya mempunyai mindset baru.

Alzheimer adalah penyakit yang serius. Lebih parah lagi, ternyata nggak ada obatnya. Orang-orang cenderung lebih mementingkan mencari obat penyembuh sakit jantung, kanker dan lain-lain. Iya sih, karena tingkat kematian yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit lain tersebut lebih tinggi. Tapi ternyata, Alzheimer menempati peringkat kelima penyakit paling mematikan di dunia.

Tingkat kelima, Gaes.

Sampai di sini, saya memutuskan untuk tak lagi menjadikannya bahan joking, seperti halnya pada penyakit autis. No. Saya nggak akan menganggapnya lagi sebagai bahan becandaan yang bagus.

Membaca kisah hidup Alice Howland, dari mulai dia masih begitu cemerlang sebagai dosen, otaknya yang tajam, karakternya yang kuat lalu secara perlahan mulai mengalami kemunduran seiring sel-sel otaknya yang sedikit demi sedikit mati, membuat saya ikut sedih 😦 . Saya ikut merasakan bagaimana dia perlahan “menghilang”. Saya benar-benar nggak bisa memercayai, bagaimana bisa seseorang lupa letak kamar mandi di rumah sendiri. That was like … oh my god. 😥

Lebih miris lagi, pengidap Alzheimer ini sering diabaikan. Orang nggak tahu betapa menderitanya mereka, tiba-tiba nggak mudeng apa-apa, nggak ngerti arah, mau ngomong aja susah, lupa nama-nama orang. Dikira cuma pikun, dan itu nggak masalah. Well, you must step on their shoes then. Rasakan kalau kamu berada di posisi mereka. You’ll know how it feels like.

Saya rekomendasikan novel ini untuk dibaca terutama oleh kamu yang suka mengetahui hal-hal baru, inspiratif dan bisa menimbulkan rasa syukur bahwa kamu masih sehat sampai saat ini.

Maaf, saya nggak sempat mencatat quotes yang jleb dari novel ini, karena saya memilih untuk lebih fokus mengikuti perjalanan Alice Howland, karena memang that is all about. Saya juga nggak sempat mencari typo, karena perhatian saya terlalu tersedot oleh karakter Alice Howland.

Rating

Empat dari lima bintang yang saya punya.

Kalau kamu pengin dapetin novel ini, kamu bisa langsung pesan ke Esensi.

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. dani says:

    Saya lebih pengen baca bukunya dibanding nonton filmnya emang. Postingan ini meyakinkan lagi. 😀

    Like

    1. RedCarra says:

      Silakan dicari bukunya, Mas 😀

      Like

  2. Orin says:

    aku pertama kali tau Alzheimer pas nonton serial Grey’s Anatomy itu mbakyu, emang kesian bgt, ga bisa ngebayangin kalo aku di posisi itu..

    Like

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s