Tisu Basah Samlah

Tisu Basah SamlahJudul: Tisu Basah Samlah – Sehimpunan Cerita Pendek
Penulis: Tikah Kumala
Editor: Fairuzul Mumtaz
Pemeriksa Akhir: Lisbet Ikawati
Penata Letak: Taman Air
Desain Sampul: Jaqueleto
Ilustrasi: monD
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-979-1436-38-0
Penerbit: Radio Buku

Blurb

“Bisa kau bayangkan betapa mengerikannya perempuan yang menangis itu? Hanya dalam hitungan jam, air matanya sudah menenggelamkan tubuhku sebatas leher.” (Trans Tisu Basah)

Kumpulan cerita ini berkisah tentang perempuan, cinta, dan perpisahan. Lewat tiga tema itu, penulis menghadirkan kritik sosial yang halus dalam sejumlah cerpennya. Ditulis dalam rentang waktu antara tahun 2011 hingga 2016, pembaca diajak menikmati cara cerita yang berbeda dari masa ke masa.

Kisah-kisahnya pun beragam. Mulai dari kisah si lajang, transgender, kekerasan dalam keluarga, hingga remeh temeh cinta yang keras kepala.

Review

Ah, saya lama-lama memang lebih menggemari buku indie semacam ini. Hahaha. Puas gitu bacanya.

Anyway, meski penulisnya adalah teman sendiri, yang juga lagi janjian pengin ngopi bareng tapi belum jadi-jadi, tapi catat ya. Buku ini saya BELI. Maka saya juga akan mereview-nya secara objektif, sebagai seorang pembaca. 😆

Ada 14 cerita dalam buku ini. Mari kita lihat satu per satu.

1. Lajang

Ah, cerita pertama ini bakalan bikin baper kamu-kamu yang masih lajang, dan suka ditanya “Kapan?” saat Lebaran datang. You know-lah, yang seperti apa.

Tokohnya galau abis karena selalu ditanya bapaknya soal jodoh. Kemudian dia ingat akan salah seorang sahabatnya, cowok. Ajak sahabatnya nikah aja apa ya? Kayaknya cocok.

Tapi apa yang terjadi? Nggak usah kaget sama twist-nya.

2. Trans Tisu Basah

Nah, cerita yang ini nampaknya ada kaitan dengan cerita pertama, tapi diceritakan dari sisi si sahabat cowok. Bercerita mengapa sampai dia menjadi yang sekarang. Rada-rada surreal di beberapa tempat, dan main simbolisme. Dengan nada sinisme yang samar.

My first favorite story!

3. Perempuan yang Menunggu

Hadeh. Yang satu ini bikin sedih 😦 Tentang seorang perempuan yang menunggu suaminya kembali setelah pergi dengan perempuan lain. Tetep setia gitu, sampai suatu hari ada yang datang padanya. Bukan suaminya sebenarnya, tapi dia begitu bahagia. Hingga penantiannya berakhir.

4. Fragmen Retak

Cerita dengan teknik monolog, dengan PoV pertama dan kedua. Lagi-lagi tentang drama kehidupan rumah tangga. Ah. Pernikahan itu memang rumit, Nak.

5. Sapu dan Perempuan Berbulu Panjang

Nah, ini judulnya saya suka banget. Hahaha. Langsung bikin penasaran yes? Ini cerita yang dark, dan media-able banget. Eh, ternyata bener. Pernah dimuat di Minggu Pagi 😀

Sebenarnya ceritanya tentang tetangga kamar kos si tokoh ‘Aku’ yang punya kebiasaan suka nyapu. Tapi ternyata si tetangga ini menyimpan sesuatu yang lebih hingga membuatnya nekat berbuat sesuatu di suatu hari.

6. Pagi di Bulan Oktober

Drama rumah tangga lagi nih.Tentang kompleksitas hubungan suami istri itu memang nggak akan habis jadi cerita. Tapi bener sih, ada kalanya suami istri itu perlu memperbarui dan menyegarkan kembali pernikahannya dengan honeymoon kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

7. Bibir Seksi Samlah

Yang ini adalah cerita favorit kedua saya.

Tentang anak pelacur yang nggak boleh melacurkan diri oleh ibunya. Ada beberapa bagian surreal di sini, and I like it! But somehow, kalimat “Ia sudah mati.” di halaman 53 itu agak mengganggu sih. Menurut saya sih, nggak perlu dijelasin. Biar yang baca menarik kesimpulan sendiri, dengan jeritan si ibu. Ups! Kok sedikit spoiler. Tapi bukan ibu atau si anak kok yang mati 😛 Hihihi.

8. Batu dalam Kepala

Lagi-lagi that kind of my favorite title ya. Hehehe.

Yang ini pendek ya. Mungkin hanya 100 – 200 kata aja. Tapi twistnya … ouch!

9. Drama Makan Malam

Ah, yang ini juga perih amat, Neng. Tentang seorang perempuan yang lagi seneng karena bakalan makan malam bareng pacarnya. Sudah dipesannya tempat di resto kesayangan. Sudah bakal bayangin ini itu. Eh ternyata … lelakinya …

Semacam perpaduan antara ironi dan satir yang sinis mengenai cinta.

10. Fragmen Kita

“Berhenti bersandar kepadaku.”
“Oke.”
“Aku tidak akan menghubungimu lagi.”
“Aku juga.”
“Aku akan menghapus nomormu dari handphone-ku.”
“Aku juga.”
“Aku akan menghapus akunmu dari medsosku.”

YAWDAH SIH. PUTUS YA PUTUS AJA!

Lho, kok eikeh yang esmosi? *cuci muka*

11. Kepada yang Pergi

Bah, sampai di cerita ini, saya benar-benar nggak tahan untuk nanya ke Tikah, “Tik … Kenapa ceritamu sedih mulu kayak gini, Tik? Kayak dunia itu benar-benar nggak ada seneng-senengnya?”

*lalu disembur Tikah* Kayak eikeh kalau bikin cerita bisa bikin yang ceria aja. 😆 bahahaha.

Ini tentang monolog seorang ibu pada anak perempuannya. Tentang bapaknya yang sudah memilihkan jodoh untuk si anak perempuan. Tapi kemudian malah si anak perempuan pulang sambil menggandeng anak usia 3 tahun. Padahal si bapak sudah menggantungkan banyak harapan padanya. Suaminya? Ya, katakanlah, nggak becus jadi suami. Ah, ini sindiran sosialnya kena banget.

Dan, awas twist akhirnya ya.

12. Pulanglah …

Ini tentang seorang perempuan yang akhirnya berhasil hamil setelah sekian lama, tapi dalam sekejap dirontokkan oleh suaminya yang argh … keplak-able banget! *geregetan* Di akhir cerita, bener deh, saya bener-bener misuhin si suami.

Hadeh. Satu lagi cerita bisa bikin saya emosi.

13. Empat Babak Cerita Elmia

Tentang Elmia, seorang perempuan sekaligus istri, yang harus mudik karena rumahnya akan dijual oleh sang ibu demi bisa memenuhi kebutuhan. Setelah sampai di rumah, ada beberapa peristiwa ganjil dialaminya.

Hmmm … ini cerita yang bagus, dan sepertinya Tikah memang ingin menyimpan twist tertentu di ending. Sayangnya twist itu sudah ketahuan di tengah.

Pun, semua orang yang datang ke rumah Ibu, tak ada yang mengajaknya bicara. Tidak ada yang menganggapnya ada.

Jengjeng. Langsung ketebak. Hehehe.

14. Rumah Kabut

Sebenarnya ini plotless. Keseluruhan cerita merupakan deskripsi yang ditangkap oleh “aku” yang bertindak sebagai narator, terhadap apa yang dilihatnya pada sepasang suami istri.

 

Overall, cerita-ceritanya menarik. Kalau kamu suka membaca buku sastra dengan nada satir, tapi nggak mau seberat Agus Noor atau SGA, dan nggak mau juga baca setengil Djenar, ya buku kumpulan cerita Tikah ini cocok. Ceritanya dark, miris, sedih, tapi tetap ringan dan mudah dipahami.

Kalau kamu mau beli bisa hubungi penulisnya langsung noh di Facebook yah. Namanya Tikah Kumala 😀

Rating

3 dari 5 bintang yang saya punya.

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s