Penjual Bunga Bersyal Merah

Judul: Penjual Bunga Bersyal Merah
Penulis: Yetti A.KA
Penyunting:  Muhajjah Suratini
Penyelaras Akhir: RN
Ilustrator isi: Amo
Tata sampul: Joni Ariadinata
Lukisan karya: Arif Bahtiar
Tata isi: Violetta
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-602-391-180-6
Penerbit: Diva Press

Blurb

“Membaca sebagian besar cerita Yetti dalam antologi ini adalah kesabaran untuk menyelami apa saja yang ganjil dan mengejutkan.”

— Linda Christanty, penulis

“Yetti A.KA membawa suara-suara perempuan dalam cerpennya dan itu bukan suara sumbang atau teriakan bising semata, saya merasa ada kelembutan yang serta-merta mengajak lelaki macam saya untuk mendengarnya dengan nikmat.”

— Faisal Oddang, penulis

Ada yang berkata, wanita lahir tiga kali: Sebagai anak, istri, dan ibu.

Cerpen-cerpen Yetti A.KA mengabarkan perubahan-perubahan yang dialami wanita pada tiap kelahirannya, yang mungkin selama ini tidak disadari bahkan oleh wanita itu sendiri.

Orang yang tidak bahagia akan padam perlahan-lahan.
— Catatan Musim Buah

Review

Ada 19 cerpen dalam buku ini, yaitu:

  1. Catatan Musim Buah – tentang paman, bibi, dan keponakan serta musim buah dari masa kecil keponakan, dengan plot twist di awal.
  2. Maganda dan Kupu-Kupu – tentang Maganda, papa dan mamanya yang sering disiksa papanya.
  3. Laut Bertanya tentang Bulan – ini tentang pembakaran hutan di Sumatra.
  4. Mimpi – tentang perempuan yang memimpikan pemilik kedai yang bukan tipenya.
  5. Sweter – tentang hubungan seorang ayah dengan keluarganya.
  6. Jeruk-Jeruk yang Mengering di Kulkas – tentang fobia terhadap jeruk.
  7. Penjual Jam dan Cerita Dora – tentang dongeng si istri penjual jam yang bisa membantu banyak jam antiknya terjual.
  8. Landra Boleh Memetik Bunga-Bunga
  9. Semua Bunga Berwarna Merah
  10. Landra Maganda
  11. Penjual Bunga Bersyal Merah
  12. Seekor Kupu-Kupu dalam Kebun Bunga Tanalia
  13. Mata yang Gelap – mengingatkanku akan pedofilia
  14. Nomimi di Bulan Mei
  15. Keluar
  16. Telepon Keluarga
  17. Toko Kue Yosilia – cerita tentang penderita lupus yang tetap punya mimpi bikin toko kue
  18. Bayi yang Dipetik dari Sebatang Pohon
  19. Kekasih Hujan (6)

 

Dan, di antara semuanya, saya punya favorit:

1. Sweter

Ini kisah hubungan seorang lelaki dengan keluarganya, istri dan anaknya. Si pria ini bukanlah tipe pria yang bisa mengekspresikan perasaannya dengan mudah. Ia tenggelam dalam pekerjaannya sebagai arsitek, dan mengabaikan keluarganya.

Anaknya, sebaliknya, sangat mengidolakannya. Penginnya mengikuti semua gaya ayahnya. Hingga kemudian si anak capek. Karena ya itu tadi, dicuekin.

Si ayah ini kemudian meninggal, dengan memakai sweter anaknya yang dulu dipakai oleh si anak gara-gara pengin terlihat seperti si ayah.

Yeah, ironic. Miris, sedih.

Aku penasaran apa yang bisa dilakukan waktu di dalam sana selain mengekalkan kenangan dalam rumah ini? Barangkali tak ada. Barangkali tugas waktu memang hanya dua. Membuat masa depan dan masa lalu. Dan kita tentu ada di masa lalu itu tepat ketika waktu terperangkap dalam stoplesmu.

 

2. Jeruk-Jeruk yang Mengering di Kulkas

Ini unik banget ceritanya. Mungkin bisa dibilang, si tokohnya ini apa punya fobia terhadap buah jeruk. Terutama jeruk yang busuk dan mengering.

Beugh. Cuma dari jeruk doang, kok bisa ya jadi cerita kae gini? 😯

“Ingat ini baik-baik,” katanya, “di lemari pendingin itu tidak pernah ada jeruk.”

“Jeruk-jeruk itu mengering dalam kulkas. Aku melihatnya sendiri kemarin pagi. Kau pasti sudah membuangnya kan?” kataku sengit.

 

3. Penjual Jam dan Cerita Dora

Ada seorang penjual jam, yang punya istri namanya Lili. Lili ini pandai mendongeng. Sehari-hari ia membantu suaminya jualan dengan mendongeng. Banyak orang akhirnya membeli jamnya karena Lili ini pintar banget menyelipkan cerita di dalam jam-jam antik yang akan dijual itu.

Lalu, siapa Dora? Ternyata ia adalah pengasuh dari masa kecil si penjual jam. Penjual jam menikahi Lili setelah Lili bisa membuat dongeng tentang Dora. Ah, rumit memang 😆 baca sendiri aja deh. Ini cerita keren abis!

Waktu mengabulkan permintaan Dora dan memasukkan Dora ke dalam sebuah jam yang telah mengatur banyak pertemuan.

 

4. Seekor Kupu-Kupu di Kebun Bunga Tanalia

Aku suka banget dengan teknik berceritanya di sini. Paralel. Cerita si mamanya Tanalia, Masya, yang sibuk banget. Dan cerita tentang Tanalia, yang “kehilangan” mamanya. Dua-dua saling kehilangan, saling mencari, tapi justru saling menjauh.

Watch out for the super twist di akhir cerita. Blam!

Sementara itu, Tanalia asyik bermain bersama kupu-kupu dalam kebun bunga di dinding kamarnya.

 

5. Mata yang Gelap

Cerita ini mengingatkan saya tentang pedofilia. Seorang lelaki suka banget mengawasi anak gadis kecil tetangganya, Cesel. Sejak mulai bangun pagi, bahkan nguntit juga ke sekolah. Ia hafal betul detail-detail kegiatan si Cesel. Tapi kemudian Cesel beranjak dewasa, sehingga nggak asyik lagi. Bahkan kemudian sekeluarga pindah.

Tapi lalu ada tetangga baru datang, ada anaknya juga. Perempuan. Si lelaki ini jadi punya “objek” baru.

Yeah, it’s kinda creepy.

Tapi karena penceritaannya dari sudut pandang si pedo, jadi kita belajar untuk memahaminya. Lagian, si pedo ini nggak diceritakan maniak banget gitu, meski ya tetep … creepy.

 

Sudah lama banget, saya nggak mengalami bookgasm. Terakhir Cerita Buat Para Kekasih-nya Agus Noor mungkin, atau Jatuh Cinta Bunuh Diri (sort of)-nya Bensbara. Habis itu, nggak pernah lagi.

Gejala bookgasm pada saya adalah ketika saya sedang membaca buku, pikiran saya langsung bisa menyusun plot flashfiction atau langsung bisa saya visualkan dalam sketsa. Iya, itu 2 ciri saya mengalami bookgasm.

Ndilalah, saya lagi ikutan #NulisRandom2017-nya Nulisbuku dan Mas Brilliant Yotenega. Tiba-tiba lancar saja gitu flashfiction mengalir ke beranda Facebook, seiring saya membaca buku ini.

Yeah! I have bookgasm! Finally!!!

4 dari 5 bintang yang saya punya

Advertisements

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s