Skenario Remang-Remang

20687233_135619563706297_6403462940283895808_n

Judul: Skenario Remang-Remang
Penulis: Jessica Huwae
Editor: Mirna Yuliastanti
Proofreader: Dwi Ayu Ningrum
Setter: Sukoco
Desain sampul & ilustrasi: Staven Andersen
Tebal: viii + 179 halaman
ISBN: 978-979-22-9738-6
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Blurb

Seorang perempuan di kota tua, membangun sisa-sisa harapannya bersama mi yang diolahnya dengan suatu resep rahasia. Di suatu perumahan baru di pinggir kota, seorang pemuda membangun mimpi dan ide-idenya akan kehidupan normal dengan sang perempuan pujaan. Di suatu sudut mal, seorang sahabat menanti dengan debar sahabat yang dalam diam dipujanya. Di suatu restoran yang terimpit oleh gedung-gedung perkantoran megah, seorang pramusaji bertemu kembali dengan kisah lamanya yang dipikirnya telah mati saat demonstrasi. Di suatu acara televisi nasional, seorang penyanyi lawas berharap-harap cemas untuk mendapatkan popularitas dan kejayaannya kembali. Di sudut lain pada kota yang remang, dua peristiwa besar terjadi; suatu transaksi perasaan, juga pelajaran panjang tentang patah hati.

Andai saja satu hari dalam hidup seseorang dapat diulang, akankah ia bisa mengubah jalan hidupnya? Ataukah hidup memang kadang punya cara sendiri untuk menertawakan rencana-rencana naif manusia?

“Skenario Remang-Remang menghadirkan sejumlah kisah kehidupan manusia yang mampu membuat kita berpikir, berefleksi, dan lebih menghargai hidup. Puitis, romantis, dan terkadang mengiris.”
(Marissa Anita, Presenter)

“Kehidupan orang-orang biasa yang jatuh atau kalah sering menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi para pengarang fiksi. Namun, Jessica memiliki kepiawaian untuk memberinya sentuhan yang berbeda.Ia tidak meromantisasi tragedi atau membuatnya menjadi lebih getir dari realitasnya.Ia bertutur tentang pengkhianatan, perpisahan, kebohongan, juga harapan, dengan kepekaan tinggi.Menghasilkan kisah-kisah menyentuh yang menahan kita untuk cepat menghakimi dan, sebaliknya, membangun simpati kita bagi mereka yang kalah dan tersisih meski mereka juga bukan orang-orang suci tak berdosa. Jessica sangat cerdas meramu peristiwa dan membangun akhir cerita yang hampir selalu mencengangkan. Ada banyak penulis fiksi dewasa ini, tetapi tak banyak yang mampu bercerita dengan jujur dan mengalir seperti Jessica Huwae.”
(Manneke Budiman, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UI)

“Membaca kumpulan cerita ini rasanya seperti menyaksikan dongeng Alice in Wonderland yang kaya akan kosakata dan sarat ide. Jessica sebagai penulis dan wartawan yang terbilang muda mampu menangkap semua ide dan kondisi yang ada di sekitarnya menjadi cerita-cerita yang menarik—yang mewakili romantika, paradok, manis-asam kehidupan masyarakat urban yang diolah dengan gurih. Bernas, juga cadas!”
(Hadriani Pudjiarti, Jurnalis Harian Tempo)

“Ada harga yang harus dibayar dengan menjadi perempuan. Itulah salah satu kalimat kunci yang merangsang dalam kumpulan cerita ini. Dari situ kita diajak untuk menyelami betapa perempuan begitu sensitif terhadap detail; detail tubuh, detail perasaan, detail waktu, detail kenangan, bahkan detail nasib. Barangkali karena itulah perempuan lebih bisa menghayati misteri nasib seperti ia bisa merasakan adanya hubungan magis antara tangan yang bekerja dalam derita dan lezatnya masakan.”
(Joko Pinurbo, Penyair)

 

Review

Blurb yang panjang sudah makan tempat saya kasih review 😆 Mau dipotong kok ya, gimana gitu.

Anyway, ada 14 cerita pendek dalam buku ini.

1.Resep Rahasia Tante Meilan

Tentang seorang perempuan tua yang punya warung mi ayam. Lokasinya nylempit di sebuah gang sempit, udah gitu tempatnya juga biasa banget. Tapi laris bukan main.

Rahasianya apa?

Itulah yang dicari dan diselidiki oleh para kompetitor, termasuk Burhan. Ali, saudara Burhan, datang ke kedai mi ayam Tante Meilan untuk menyelidikinya, karena kebetulan Ali ini orang dinas kesehatan kota, yang bertugas mengawasi kelayakan jualan kedai-kedai di kota tersebut.

Wait for the ending! I really love it! Twisted ending yang bikin berseru, “Haaaah?!”

2. Gate 4

Tentang pertemuan 2 pria di lounge tunggu bandara. Entah bagaimana, keduanya lantas terlibat obrolan ranah pribadi.

Dimas jadi curcol ke lawan bicaranya, Tom, soal kehidupan cintanya. Dia mencintai perempuan bersuami. Tom tentu menanggapinya.

Ternyata, Tom ini penulis. Dan dia berada di bandara bukan untuk menunggu waktu take off. Tetapi untuk …

3. Satu Hari dalam Hidup Aidan

Tentang seorang anak orang kaya, yang sepanjang hidupnya dilayani pembantu dan pulang sekolah selalu dijemput supir.

Suatu hari, supirnya yang suka jajan (sepertinya dalam tanda petik), terlambat menjemput. Akhirnya Aidan pun jalan kaki sendiri pulang sekolah. Dia melewati satu gang “horor” yang disebut Gang Sawo Belakang.

Bener aja. Dia dicegat oleh segerombolan berandal. Tak diceritakan apa yang terjadi pada Aidan. Namun, baca terus sampai ending. Kamu akan tahu apa yang terjadi.

*sigh*

4. Mencintai Elisa

Pagi ini sebuah lempengan besi menghantam tubuhnya. Begitu saja. Tepat saat dia hendak membuka termos kopinya.

Yeah, my kind of opening! Super love it!

Baca terus, rasanya kok ya menyayat di hati ya. Tentang kekecewaan sepasang suami istri, saat si istri harus kehilangan janinnya. Si suami menyalahkan istri yang tak bisa menjaga diri dan bayi mereka. Sedangkan si istri ya … menyalahkan dirinya sendiri.

Suka banget sama diksi yang ada dalam cerpen ini.

5. Mengeja Perempuan dalam Kesunyian

Tentang seorang pria yang bersetia menunggu perempuan yang dikasihinya, sedangkan ada perempuan lain yang begitu mengharapkannya.

Pada akhirnya ya, dia malah nggak dapat semuanya.

6. Skenario Remang-Remang

Saya kira, karena cerpen ini dijadikan judul buku, maka pastinya akan istimewa. Ternyata … nggak terlalu.

Hanya saja memang formatnya yang paling berbeda di antara semuanya, karena di sini hanya ada dialog. Tanpa narasi.

Jadi inget Orin. #hlah

7. Menjemput Bapak

Tentang seorang anak yang mudik karena bapaknya sakit. Bapaknya ini dulu pernah berselingkuh. Tapi kemudian memang kembali lagi ke keluarga, tapi ibunya sudah wafat dalam patah hati.

Si anak nggak mau begitu saja memaafkan sang bapak.

Sampai bapaknya sakit dan …

8. Nostalgia Rasa

Ini tentang apa ya? Huhuhu. Nggak gitu paham saya 😐 Ditulis dengan gaya monolog ala surat.

9. Elegi Sabtu Sepi

Tentang seorang penulis yang menunggu seseorang di kafe. Tadinya mereka selalu bersama mengobrol dan menulis. Tapi kemudian seseorang itu seperti tak pengin kongko lagi sama si penulis.

10. Jalan Kembali

Cerita ini kok aku ngebayanginnya kayak Betaria Sonata gitu ya, yang jadi tokohnya 😆

Cerita tentang seorang penyanyi yang sudah lewat kejayaannya, gara-gara ditipu oleh manajer dan sahabatnya sendiri. Suatu kali dia diundang untuk datang ke satu program TV Temu Kangen, yang memang mendatangkan artis-artis jadul gitu.

Ya, pastinya sih dia grogi.

Sampai endingnya, haha! Rada absurd, tapi kusuka!

11. Galila

Jessica Huwae kan terus punya novel berjudul Galila kan ya? Wonder jika tokohnya sama dengan yang ini.

Kalau iya, pastinya menarik banget karena settingnya somewhere di Indonesia timur sana.

Saya sih punya tuh novel, tapi masih di timbunan 😆

12. Semangkuk Salad dan Setumpuk Kenangan Saat Jam Makan Siang

Yang ini berlatar kerusuhan Mei 1998, kayak cerpen pertama yang Resep Rahasia Tante Meilan itu. Hanya saja, ini tentang dua mahasiswa yang saling jatuh cinta, satu keturunan Tionghoa, sedangkan cowoknya (sepertinya) pribumi dan muslim.

Keduanya terlibat dalam gelombang demo yang terjadi saat itu, namun kemudian terpisah. Si cowok menghilang. Si cewek akhirnya juga terseret hidup, dijodohkan sama laki-laki yang suka waria.

Bertahun kemudian, akhirnya … yes, mereka ketemu.

Ini sepertinya cerita terpanjang dalam buku ini deh.

13. Pelajaran Patah Hati

Siapa yang belum pernah patah hati? Kayaknya hampir semua orang pernah. Di cerita ini, sang tokoh mengalami patah hati sebanyak 4 kali.

Ya ya. Mungkin jauh lebih sedikit dari patah hatimu. #Eaaaak Tapi patah-patah hati si tokoh ini pedih bener. Hiks. Apalagi yang terakhir.

Cuma rada lost aja sih sama patah hati yang terakhir. Kok tahu-tahu di rumah sakit ya? Hmmm.

14. Segitiga

Ini kisah tentang perpisahan antara suami dan istri yang begitu saja kehilangan the sparks. You knowlah.

Mereka pun membagi harta gana-gini, hingga kemudian berdua bingung gimana caranya “membagi” Otis.

Dan, bagaimana dengan Otis? Otis ternyata punya keputusan sendiri.

 

Saya tadinya beli buku ini karena direkomendasikan oleh seseorang yang (pernah) saya anggap guru saya menulis. *nggak usah nanya kok ada kata ‘pernah’, yes? Hahaha. This isn’t about me anyway!* Pun, juga katanya Maggie Tiojakin juga merekomendasikan buku ini sebagai ‘must read’.

Dan, bagaimana pendapat saya?

Overall, cerita-cerita dalam buku ini sama kuat, tapi 4 cerita pertama adalah paling favorit saya. Diksinya kaya, mengiris hati tapi nggak mendayu-dayu atau cheesy.

Jessica menggambarkan cinta itu bisa begitu indah, tapi sekaligus nyesek.

Ya, overall saya suka, meski nggak sampai bikin bookgasm.

3.5 dari5 bintang yang saya punya.

One Comment Add yours

Komennya, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s